Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Tersengat Pedasnya Ceker Mercon Dar-Der-Dor

22 September 2012

Sabtu (22/9), saya menemani seorang teman fotografer www.superkidsindonesia.com berburu kuliner unik berbahan ceker, yaitu Ceker Mercon Dar-Der-Dor! Lokasinya berada di kawasan Ketintang Permai Surabaya, di pinggiran telaga buatan milik perumahan dekat perlintasan rel kereta api.
Ceker yang biasanya kurang mendapat perhatian dan dibuang, kali ini mendapat peran istimewa dan menjadi menu sajian utama. Ada beberapa varian masakan berbahan ceker yang direbus maupun digoreng di resto tersebut. Yang khas adalah menu ceker dor! Yang artinya ceker super pedas.
Sesuai misinya, teman saya memilih ceker dor itu. Sementara saya yang diet makanan pedas memilih sup ceker yang segar. Ceker dor sajiannya sepintas mirip dengan semur. Sementara sup cekernya tak beda jauh dengan sup kebanyakan. Yang membedakannya hanya isinya berupa ceker ayam.
Ceker dor tampilannya memang garang, merah kecokelatan dengan kuah encer warna serupa yang sepertinya berasal dari kecap. Ditambah dengan bawang goreng yang bertaburan di permukannya dan irisan tomat membuat aromanya tercium begitu sedap. Soal rasa jangan ditanya, dijamin super pedas. Itu terlihat dari mimik dan ekspresi teman saya saat mencicipinya kali pertama. Bahkan, dia seakan tersedak ketika lidahnya tersengat rasa pedasnya, sehingga memaksanya mendorongnya cepat-cepat dengan meminum teh manis. Paduan bumbu lainnya serasa kabur terintimidasi panasnya pedas.
Saya pun dibuat penasaran untuk mencoba. Dengan sedikit mencicipi kuahnya di ujung sendok, saya sudah langsung merasakan padasnya. Benar-benar padas cabe. Merata membakar sekujur mulut. Jadi tak salah bila menu tersebut dinamakan caker dor! Langsung membuat kaget siapa yang baru pertama mencobanya. Tapi untuk cekernya sendiri pedasnya masih bisa ditolelir lidah. Jadi bila tak ingin benar-benar kepedesan, triknya adalah mengangkat cekernya dari kuah. Sebab sumber utama pedasnya terdapat dalam kuah merahnya itu.
Sup Ceker Depot Ceker Mercon Dar-Der-Dor Surabaya.
Bagaimana dengan sup cekernya? Wah, saya sudah mencobanya dan langsung larut dalam kesegarannya. Saya memilih mengonsumsinya langsung tanpa nasi. Kuahnya gurih segar dilengkapi irisan wortel dan pililan jagung muda yang manis yang sewaktu-waktu bisa keceplus. Cekernya sendiri sangat empuk dan bisa rontok sendiri saat disedot. Ruas-ruas tulang kaki ayam itu seakan copot otomatis begitu dikulum dan disedot daging dan kulit lembutnya. Tak perlu bersusah payah main betot-betotan. Tinggal bersiap mencuci tangan begitu usai menyantapnya, karena sisa-sisa tulang yang harus kita buang meninggalkan lengketan di jemari.
Untuk urusan harga tergolong lumayan. Dua porsi yang terdiri atas ceker dor dan sup ceker ditambah sepiring nasi, dua gelas teh manis dan dua buah kerupuk dibandrol Rp.35.000,- seporsi ceker sekitar Rp.15.000-an. Namun semua itu sebanding untuk mengobati rasa penasaran akan sengatan pedasnya menu Ceker Mercon Dar-Der-Dor yang tersohor itu. Sampai jumpa di perjalanan kuliner lainnya, yakni Elekonya Selera Rasa Soto Ngawi. (arohman)

CATATAN LEBARAN: Nyeruput Kopi Hitam Lagi

22 August 2012

Bangun pagi ini tubuh serasa segar kembali. Segelas kopi hitam membuka kegiatan, usai semalaman beristirahat. Hari ini saya rehat di Surabaya bersama istri dan Olif, anak kedua kami. Urat dan persendian yang hampir semingguan diforsir untuk lalu lalang mudik Surabaya-Jombang, Jombang-Surabaya, Surabaa-Gresik, dan Gresik-Surabaya benar-benar menguras setamina. Namun semua itu terbayar oleh kebahagiaan bisa bertemu orang tua, saudara, beserta sanak famili dan sahabat semua. Benar-benar berhari raya Idul Fitri.

Kemarin, hari ketiga lebaran, kami bertiga mengunjungi keluarga di Bungah Gresik. Di tanah perdikan tersebut, tinggal para orang tua saya. Di rumah nenek, kini menjadi tempat jujugak para cucunya, karena saudara tertua nenek juga tinggal bersebelahan rumah. Para paman dan paklik/pakde kami juga tinggal tak berjauhan, sehingga ketika lebaran seperti saat ini saudara-saudara jauh ngumpul jadi satu.

Kehadiran saya kemarin juga bersamaan dengan rombongan anak-anak dari mbah yai (kakak dari nenek). Ada tiga pasangan suami istri dan tak kurang dari delapan anak-anak mereka. Belum lagi keluarga dari anak dan cucu paklik yang turut ngumpul begitu mengetahui kehadiran kami. Wow, seru sekali.

Lebaran ini saya masih melihat wajah sendu bulik yang setahun silam ditinggal wafat paklik, suaminya, ketika menunaikan ibadah umrah Ramadan di Makkah. Kepergiannya untuk selamanya, tentu sebuah pukulan tersendiri baginya, meski anak-anaknya juga sudah separo yang menjadi orang. Berpulangnya paklik pada malam 23 Ramadan setahun silam ketika itu juga sempat mengejutkan saya. Sebab, saat menjelang berangkat beliau tampak sehat-sehat saja. Makanya, ketika adik saya pagi-pagi buta sebelum makan sahur mengabarkan meninggalnya paklik, saya langsung menyarankan untuk mengonfirmasikan kabar tersebut kepada Yuk Nik. Yuk Nik adalah kerabat saya dari Jombang yang setiap Ramadan selalu menghabiskan waktunya beribadah sebulan penuh di tanah suci. Termasuk Ramadan tahun ini.

Saat ini para orang tua kami di Gresik rata-rata tinggal kaum ibu. Bapak-bapak kami telah mendahului menghadap ke rahmatullah. Meski demikian, tak mengurangi rasa syukur kami, karena masih memiliki orang tua untuk kami sungkemi dan memohon doa restu kepadanya. Lebih dar itu, kami juga masih bisa melakukan birul walidain. Semoga Allah memanjangkan umur mereka sehingga setiap waktu, khususnya setiap lebaran seperti sekarang ini kami senantiasa bisa mengecup tangan mulianya.

Tape Ketan Buatan Ibu

Seperti lebaran maupun acara-acara keluarga lainnya, ibu selalu menyediakan panganan khas kesukaan saat saya pulang kampung, yaitu tape ketan. Tetapi, kemarin saya tak dapat langsung menikmatinya, karena tapenya belum matang. Ibu membuatnya agak terlambat, karena mengira saya baru ke rumahnya hari lebaran keempat. Tapi dasar ibu, begitu saya balik ke Surabaya, semua tape ketannya dibawakan sebagai oleh-oleh. “Ini bawa pulang semua, besok pagi sudah bisa dimakan,” ujarnya kepada istri saya.

Tape ketan buatan ibu sangat enak. Dibungkus menggunakan daun pisang kian membuat harum aromanya. Rasanya pun sangat manis.

Proses membuatnya juga sangat gampang. Biasanya ibu membuatnya dari beras ketan yang ditanak sampai matang. Setelah itu, ketan yang masih panas didinginkan dengan cara ‘diler’ atau ditempatkan melebar di atas tempaian atau lengser. Setelah dingin baru kemudian ditaburi ragi hingga merata. Setelah didiamkan beberapa saat baru kemudian dibungkusi kecil-kecil menggunakan daun pisang lalu disimpan di dalam baskom atau panci dan ditutup rapat supaya proses peragian berlangsung sempurna. Setelah disimpan selama sehari semalam, jadilah tape ketan yang manis kesukaan saya itu.

Menu-menu spesial lain kemarin juga dihidangkan untuk kami. Ada pecel bandeng, nasi bebek dan soto. Ada juga apem pasung yang biasanya dihidangkan untuk jamaah musala saat takbiran pada malam lebaran. Ini merupakan berkah tersendiri, karena mendapat hidangan yang begitu istimewa sekaligus melipur kecewa karena tak dapat menikmati Nasi Krawu “Bu Ria” yang ternyata tak buka saat lebaran. (arohman)

KISWARA (8) Mudik, Mampir Soto Dok Jombang

21 August 2012

Sebagaimana lebaran tahun-tahun sebelumnya, hari raya Idul Fitri 1433 H ini saya lewati dengan melawat ke mertua di Jombang dan ke tanah kelahiran di Bungah Gresik. Jadwal semestinya, tahun ini harusnya melawat ke Gresik dulu, tapi berhubung saya kalah voting dengan anak-anak, maka saya pun rela ke Jombang terlebih dahulu.

Keberangkatan ke Jombang pun harus meju sehari lebih awal, yaitu tanggal 16 Agustus, sebab Olif sudah be-te sendirian di rumah, karena Alif, masnya sudah ke Jombang duluan dijemput pakdenya.

Sebenarnya jadwal libur kantor baru dimulai pada 17 Agustus, tapi karena melihat Olif yang berulang-ulang minta menyusul masnya, juga ingin mencoba baju baru yang kabarnya sudah dibelikan tantenya, akhirnya saya luluh juga meninggalkan urusan kantor lebih awal.

Wajah Olif terlihat sangat sumringah begitu bundanya memberi tahu bahwa pulang ke Jombang dilakukan sore nanti (16/8). Itu artinya juga saya harus memastikan pesanan menu untuk buka bersama di Masjid An-Nur harus beres dan sudah diantar ke takmir sehingga benar-benar dapat dinikmati para jamaah salat Maghrib petang itu. Alhasil bundanya pun harus ekstra menguras tenaga, yakni untuk mempersiapkan segala keperluan mudik dan mengambil pesanan sekaligus mengantarkannya ke masjid.

Alhamdulillah, ketika kumandang adzan Ashar terdengar, bunda sudah kembali ke rumah, itu tandanya pesanan menu buka beres. Olif pun wajahnya tampak kian berbinar. Sepertinya dia sudah menahan rindu ingin bertemu Naufal anak tantenya, dan pasti sudah terbayang baju baru yang dijanjikan tantenya pula. Hal paling menggemberikan, sama seperti yang kurasakan ketika masa-masa menjelang lebaran di kampung halaman 30 tahun silam.

Kami akhirnya berangkat ke Jombang usai memastikan segalanya beres. Tak ada tanggungan urusan dengan tetangga, semua pintu juga sudah terkunci, dan akhirnya pamit kepada satpam perumahan sekaligus nitip rumah. Dengan mengucap bismillahi tawakkaltu alallah laakhaula walakuawata illabillah… akhirnya kami pun melenggang meninggalkan Surabaya menuju Jombang.

Perjalanan sangat lancar, hingga akhirnya kami bertiga memasuki kota Jombang menjelang adzan maghrib. Bundanya langsung mengajak mampir ke sebuah tempat makan untuk berbuka. Dan, akhirnya pilihannya pun jatuh pada menu khas kota Jombang yaitu Soto Dok “Pak Karman” yang berada di Jl. Pahlawan Jombang.

Sebuah depot sederhana semi permanen mepet trotoar dengen jejeran meja dan kursi panjang tampak sudah penuh pengunjung yang juga menantikan berbuka. Kami akhirnya masuk dan mendapatkan separo meja dan kursi kosong yang bisa kami tempati. Tak lupa kami juga memesan dua porsi Soto “Dok!” plus minuman hangat dan dingin.

Alhamdulillahirobbil aalamin, nikmat sekali rasanya berbuka di tengah perjalanan jauh. Maka tak heran, Rasullullah Muhammad SAW sangat menganjurkan berbagi takjil kepada orang-orang yang dalam perjalanan. Ada sesuatu yang luar biasa istimewanya di sana. Semoga puasa kami diterima Allah SWT. Amin…

Seporsi Soto Dok Jombang sebenarnya dari tataran rasa kurang begitu istimewa. Menurut saya, kuahnya masih kalah maknyus dengan Soto Madura atau Soto Lamongan. Yang cukup menjadi sensasi adalah rasa terkejutnya, yaitu suara “DOK!”-nya dari botol kecap yang dientakkan sang penjual ke meja dasarnya itu lho yang mungkin cukup membuatnya terkenal hingga seantero Indonesia sebagai salah satu varian soto nusantara. Keunikan lainnya, Soto Dok selain sudah diserakan lauk berupa irisan jeroan di dalam siraman kuahnya, secara terpisah disediakan pula lauk dendeng daging maupun godokan babat. Tinggal pilih sesuai selera. Begitu pun untuk kecap, jeruk, dan sambal cabai bisa diambil dan ditambahkan sendiri untuk melengkapi kenikmatan Soto Dok ini.

Selesai berbuka, kami segera melanjutkan sisa perjalanan yang kurang beberapa kilometer saja. Kehadiran kami di tengah keluarga eyang istriku, tentu malam itu menjadi kejutan tersendiri bagi keluarga di Jabon. Sebab, tahun-tahun sebelumnya kami tak pernah menyinggahinya terlebih dahulu. Karena biasanya kami biasa langsung ke rumah mertua untuk berlebaran.

Dan, malam itu kami akan menyelesaikan sisa Ramadan dan Hari Raya hingga hari kedua dengan bermacam rutinitas yang menggemberikan penuh kekeluargaan bersama keluarga besar istri. Barokallah... (arohman)

KISWARA (7) Olif Suka Berdoa Sambil Berdiri

18 August 2012

Salah satu catatan dalam Ramadan ini adalah keikutsertaan Olif dalam salat tarawih. Sebagaimana teman-teman seusianya, dia termasuk sangat antusias ketika diajak ke masjid An-Nur untuk turut menunaikan salat tarawih plus witir. Bahkan dialah yang kerap menentukan jam berangkat ke masjid dengan merengek ke bundanya untuk berangkat lebih awal. Maklum dia telah memiliki sudut favorit di masjid An-Nur selama Ramadan ini.

Selama Ramadan ini, banyak juga para orang tua yang mengajak serta anak-anak balita. Meski kadang juga ada beberapa ulah nakal para balita tersebut mengusik kekhusukan salat, tetapi sepertinya para jamaah memaklumi hal tersebut. Karena itu semua sudah dianggap sebagai bagian dari pembelajaran anak-anak supaya kelak mencintai masjid –khususnya berjamaah di masjid. Apalagi masjid di kompleks perumahan kami juga termasuk baru.

Olif sendiri tergolong bocah penurut dan lebih mendengar pesan bundanya daripada mengikuti aksi teman sebayanya yang berlarian kesana kemari di antara sof-sof jamaah. Olif tidak melakukan aksinya, karena dia telah dibekali bundanya buku belajar dan pensil warna juga boneka upin kesukaannya. Dengan cara itu, ‘kenakalan’ Olif bisa diredam. Karena pada saat dia jenuh mengikuti salat tarawih yang panjang, dia akan duduk dan asyik dengan barang bawaannya di sebelah bundanya. Tidak seperti teman sepermainannya, yang lantas berlarian disertai teriakan atau tangisan tatkala merasa bosan menunggui ibunya khusuk berjamaah.

Alhamdulillah, Olif memiliki cara pandang berbeda dibandingkan teman-temannya dalam mengikuti jamaah ke masjid. Meski baru 5 tahun, tetapi dia sudah mengetahui tempat dan posisinya sebagai jamaah wanita, sehingga meski ketika bundanya berhalangan ke masjid, dia tetap memilih ikut saya ke masjid dan langsung berbaur di tempat jamaah wanita. Baru setelah salat selesai dia akan menghampiri saya yang berada di barisan jamaah laki-laki.

Pada sekitar sepuluh hari terakhir Ramadan, setiap rakaat terakhir witir disertai qunut. Dan, sepertinya itu menjadi pengalaman terunik bagi Olif. “Aku suka doa sambil berdiri” komentarnya usai mengikuti qunut pertama kalinya. Saya yang mendengarnya lantas tersenyum dan memberikan pengertian kepadanya bahwa itu doa qunut yang biasanya juga dibaca setiap salah subuh. Lalu dia kembali menyaut, “Ya, aku suka doa sambil berdiri…”.

Pada malam ke-28 kami sudah tidak lagi menikmati suasana tarawih dan witir di Surabaya, melainkan pindah ke musalah kecil di depan rumah eyang yang ada di Gondekan Jabon Jombang. Tak lupa Olif masih dengan semangat ‘45 –nya tetap antusias mengikuti jamaah. Bahkan, sebelum keberangkatan mudik ke Jombang kemarin, dia juga sudah berpesan kepada bundanya, “Jangan lupa bawakan rokoku, Nda…” Alhamdulillah, kali ini Olif full tanpa ketinggalan satu rakaat pun dalam mengikuti tarawih dan witir. Tanpa gangguan teman sepermainan dan mainan yang biasanya dia bawa, malam itu Olif berhasil menyempurnakan salat tarawih-witir berjamaahnya.

Beda halnya pada tarawih semalam, mungkin karena seharian dia terlalu asyik dan capek bermain bersama keponakannya, akhirnya dia pun KO usai salam pada rakaat ke-4. Dia tertidur di atas sajadah di sebelah bundanya. Saya pun akhirnya harus membopongnya pulang ke rumah eyangnya seusai tarawih dan witir berjamaah usai. Sungguh Ramadan yang sangat menyenangkan dan akan tercatat dalam benak kecil si Olif. Semoga kami semua diberi umur panjang untuk dapat menikmati keindahan Ramadan di tahun-tahun berikutnya. Amin… (arohman)

Kiswara (6) Ramadan Istimewa bagi Alif

16 August 2012

Banyak cerita dan peristiwa luar biasa yang bisa dicatat sepanjang Ramadan ini. Namun, untuk menuliskannya menjadi sebuah potret kehidupan tentulah tidak semudah yang dibayangkan. Betapa maksud hati sudah berniat mengabadikan setiap moment indah dan berkesan itu, tetapi ada saja ketidakberdayaan menghadang.

Dengan secarik hasrat yang senantiasa ada di seputaran pinggiran hati, hanya beberapa kenangan masa kecil semasa Ramadan puluhan tahun silam yang mampu terekam. Sebenarnya masih banyak lagi, yang tentunya nuansanya hampir sama dengan kejadian-kejadian masa kecil anak-anakku saat ini. Yang membedakan mungkin hanya kemajuan zaman yang membuatnya sedikit lebih indah di mata kanak-kanak Alif, anak sulungku.

Ya, tahun ini merupakan tahun istimewa bagi Alif. Alhamdulillah dia sudah mampu menjalankan ibadah puasa penuh sepanjang Ramadan sekaligus mengikuti salat tarawih di masjid An-Nur yang ada di sebelah kompleks kediaman kami. Yang membanggakan lagi, Alif selalu menempati sof terdepan setiap mengikuti salat jamaah tarawih hingga tuntas.

Sekali lagi, ini merupakan Ramadan istimewa bagi Alif. Dia sangat teguh dalam memegang komitmen ‘keimanannya’. Saya dan ibunya sebelum Ramadan hanya mengatakan, bahwa Alif sudah sunat, jadi sudah harus mampu menjalankan puasa penuh selama Ramadan.

Hari pertama dilaluinya dengan aman, karena hari-hari itu sekolahnya libur, sehingga dia bisa lebih menghemat energy untuk menahan lapar dan dahaganya. Sebagai pengisi waktu, dia saya bebaskan bermain komputer di rumah dengan komunitas kereta api di internet yang diikutinya. Ketika itu, perasaan enjoy dalam menjalankan puasa dapat dilaluinya secara aman, sampai akhirnya berbuka.

Hari-hari berikutnya ketika kegiatan sekolah dan ngaji sudah kembali aktif, Alif sudah mulai keteteran dalam mengendalikan energynya. Untuk itu, saya dan ibunya hanya berpesan; Ingat Alif sudah sunat lho, jadi harus tetap puasa sampai maghrib. Bila sudah begitu, dia lantas mengurangi aktivitasnya yang berat-berat seperti bermain lari-larian di sekolah maupun mengurangi permainan sepak bola bersama teman-teman ngajinya di lorong gang perumahan tempat tinggal kami.

Demi menghemat energynya sampai maghrib, Alif lebih memilih menambah jam tidur siangnya sepulang sekolah. Dengan menyalakan AC kamar, dia merasa lebih nyaman beristirahat guna mengusir lapar dan dahaga serta godaan adiknya, Olif, yang belum mampu puasa. Hal-hal yang dilalui Alif tentu mengingatkan saya tatkala puasa semasa kecil bersama teman-teman sepantaran di desa dulu. Biasanya kalau sudah ‘nggelele’ atau diserang rasa sangat lapar dan haus, saya memilih tiduran di ubin yang berasa lebih sejuk. Atau ketika harus ‘ngarit’ mencari rumput yang terpaksa harus berkali-kali mampir ke ‘kelethe’ (kali irigasi) untuk memercikkan air ke muka atau meyelupkan kepala ke permukaan air, bahkan kadang juga harus merendam kaos ke air dan mengenakannya selagi basah agar tubuh tetap terasa segar.

Apa yang dilakukan Alif tahun ini sungguh merupakan prestasi dan membanggakan kami, kedua orang tuanya. Entah opsesi apa yang dia inginkan selama Ramadan ini, sehingga dia mampu melipur segala hasratnya untuk puasa dan menjalankan tarawih full. Selama Ramadan ini, saya juga merasa lebih dekat dengannya, karena setiap sahur saya yang membangunkan dan menyiapkan menu sahur kesukaannya, yaitu mie goreng dengan telur serta susu panas dan madu. Setiap pukul 3 lebih sedikit ketika semua sudah siap, saya masuk kamarnya dan membangunkannya. Alif pun dengan spontan dan tanpa banyak tingkah dia langsung meraih seporsi menu favoritnya yang saya berikan kemudian menyantapnya sambil mengeryip-ngeryipkan mata menahan kantuknya.

Semalam, ketika puasa memasuki malam hari ke-27, saya merasa kehilangan lantaran Alif sudah dijemput pakdenya untuk mudik lebih dahulu ke rumah ‘utinya’ di Jombang. Biasanya saya selalu melihat dia sepanjang Ramadan ini seperti terjepit di antara deretan orang-orang dewasa yang mengisi sof terdepan jamaah tarawih masjid An-Nur. Semalam saya juga tidak menyiapkan menu sahur kesukaannya. Hanya melalui SMS aku kirim pesan kepadanya. “Sahur… Alif sudah sunat, lho. Tak boleh putus puasa dan tarawih.” (arohman/27Ramadan1433)

KISWA RAMADAH (5) Tak Membuang Waktu Percuma

25 July 2012

Menjalankan puasa bagi anak (seusia saya), 30 tahun silam tantangan tidak seberat sekarang ini. Kehidupan desa yang permai dengan tingkat polusi yang masing rendah, serta minimnya pengaruh dunia hiburan tentu sangat membantu saya dan teman-teman sepantaran menghabiskan bulan Ramadan dengan nyaman. Tak salah bila kami selalu merindukannya. Perubahan kebiasaan ngaji di langgar bersama Wak Kasun yang digeser dari waktu usai salah maghrib ke ba’dah subuh juga tak merisaukan kami. Bahkan, kami merasa lebih senang ngaji pagi hari, karena setelah itu bisa bermain dakon ramai-ramai di teras rumah Nyai Jaiyah, yang rumahnya persis di sebelah pintu langgar.

Permainan-permainan masa itu benar-benar ramah dengan usia kami. Kalau tidak dakon, ya benthikan (patelele), koprolan, sodoran, bentengan, deblekan, boy-boyan, umbul, catur, dan khusus Ramadan ada tambahan main mercon bumbung.

Beda halnya dengan saat ini, yang hampir semua anak telah mengenyam kehidupan modern serba otomatis dengan waktu yang terprogram pula ala kehidupan orang dewasa. Gangguan puasa –khususnya yang dapat mengurangi pahala puasa– tentu lebih berat dan menantang lagi bagi anak-anak masa kini, apalagi bagi para anak kota. Gangguan yang utama bagi anak sekarang adalah televisi dan video game.

Bila pada masa kecil saya dan teman-teman sepantara dulu hanya menghabiskan waktu beberapa jam saja sesuai kadar kekuatan tenaga kami bermain, tapi anak sekarang bisa seharian penuh menonton teve atau bermain game karena mereka hanya duduk dan asyik dengan jemari dan bola matanya tanpa aktivitas fisik berarti. Tentu ini perbedaan signifikan yang akan berpangaruh banyak pada jiwa seseorang (baca: anak) nantinya.

Waktu bagi kami pada dunia kecil saya dan teman sepantaran sangatlah berharga. Meski tanpa program tercatat, namun semua berjalan alamiah dilandasi kesadaran diri masing-masing untuk menunaikannya penuh tanggung jawab. Sungguh luar biasa para orang tua kami masa itu, mampu menanamkan pendidikan pekerti yang mahadahsyat, sehingga kami dengan mudahnya menurut apa yang mereka inginkan sesuai tataran kehidupan masyarat setempat.

Sekali lagi, waktu bagi saya dan teman sepantaran zaman itu sangat berharga. Dan, hal itu semakin terasa sekarang ini, setelah malampauinya puluhan tahun berselang. Sepertinya semua ajaran-ajaran orang tua dan guru-guru kami untuk tidak menyia-nyiakan waktu betul-betul membekas di hati. Apalagi jika merenungkannya kembali ketika mendengar lantunan surat Al-Ashr dalam salah satu rakaat shalat tarawih setiap malam Ramadan yang saya ikuti di masjid tak jauh dari rumah.

“1 ~ Demi masa.

2~ Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

3~ Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihati menasihati supaya menetapi kesabaran.”(QS. Al-Ashr [103]: 1-3)

Wallahu a’lam. Semoga perjalanan masa kecil saya dalam mengarungi bulan-bulan suci Ramadan bersama teman-teman sepantaran dulu tercatat sebagai amal shaleh. Dan apa saja yang kami kerjakan tidak termasuk yang sia-sia atau merugi. (25/7-arohman/bersambung)