Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Ngaji Bareng Kang Abu (3): Tak Lepas dari Songkok Hitam dan Siwak

23 July 2013

Kang Abu memiliki banyak kawan di pesantren. Aku juga banyak kenal dan menjadi teman baik dari kawan-kawannya itu juga. Keseharian Kang Abu juga sangat sederhana. Maklum, sebagai anak pesantren dia memang serba pas-pasan juga.

Pakaian harian yang dia miliki juga hanya beberapa potong, terdiri atas beberapa lembar kain sarung plekat, dan yang terbaik adalah sarung merek Cap Manggis. Bajunya pun tidak terlalu banyak, dan kebanyakan model baju koko dari kain hero puti polos. Yang terkesan mewah dan selalu membuatnya bangga adalah songkok yang selalu dikenakannya. Songkok hitam berbahan bludru bermerek Cap Pendopo produksi H. Munawar Bungah. Kang Abu selalu tampak tampan bila mengenakannya, apalagi bila menuju masjid lengkap dengan surban hijau kesukannya.

Kebiasaannya mengenakan songkok hitam itu sudah dilakoninya semenjak setahun nyantri di pesantrennya. Katanya dia ingin tampil seperti Kiai Maimun Adnan yang begitu elegan. KH Maimun Adnan atau biasa kami panggil dengan Yai Mun adalah salah satu ustadz di sekolah kami. Beliau berasal dari pesantren Al-Islah di luar kompleks yayasan tempat kami sekolah. Selain sebagai guru, beliau juga anggota legislatif daerah tingkat 2 di kabupaten Gresik dari parpol Islam era Orde Baru.

Kang Abu sangat mengagumi Yai Mun. Ketegasan dan wibawa sang kiai begitu merasuk dalam hati dan jiwanya, sehingga gaya dan penampilannya dicoba bisa dimiripkan. Salah satunya ya kebiasaan bersongkok hitam dengan bagian ujung depan dilancipkan, sehingga bentuknya seperti moncong perahu.

Yai Mun memang membiasakan kepada setiap santri dan muridnya agar senantiasa menggunakan songkok untuk menutup rambut kepala, terutama sewaktu salat. Sebab, menurut beliau kekhusyukan salat kurang sempurna bila sewaktu sujud masih terdapat helai rambut yang menghalangi jidat menyentuh permukaan bidang sujud seseorang. Bahkan di kalangan santri dan masyarakat sekitar, anjuran berkopyah atau mengenakan songkok tersebut serasa hukumnya wajib. Maka tak heran bila ada yang salat berjamaah di masjid tapi tidak mengenakan songkok, bisa ditebak, pasti itu bukanlah warga sekitar. Karena masyarakat setempat amat memegang teguh petuah sang kiai.

Di samping itu Kang Abu juga tak pernah lupa membawa kayu siwak. Kayu siwak fungsinya sebagai pembersih gigi sebelum salat. Terbuat dari ranting pohon siwak yang katanya diimpor dari Timur Tengah. Kayunya berwarna putih kekuningan padat dan keras. Batang-batang siwak bisanya didapat Kang Abu dari membeli di toko Zainul di sebelah timur pesantren. Siwak dijual dalam bentuk batangan seukuran jari manis atau yang sedikit lebih besar. Sebelum digunakan, batang siwak ujungnya diketok menggunakan benda keras hingga bentuknya berubah menjadi serabut. Dan serabut lembut inilah yang kemudian digosokkan ke mulut (gigi dan gusi) bak sikat gigi. Kang Abu menggunakan siwak setiap menjelang salat karena hal itu diyakini sebagai sunnah rasul yang baik untuk diamalkan dan menyehatkan. (roy/bersambung)

Ngaji Bareng Kang Abu (2): Ngaji Kitab Gundul

22 July 2013

Ngaji kitab gundul, begitulah istilah yang biasa kami gunakan dalam mengikuti pengajian kitab kuning. Dinamakan kitab kuning karena memang kertas yang digunakan mencetak kitab tersebut berwarna kuning. Adapun isi kitab kuningnya menggunakan bahasa Arab gundul karena tanpa harokat (tanda baca), sehingga akrab dinamakan kitab gundul.

Dalam ngaji kitab gundul ini diperlukan kemampuan khusus. Setidaknya penguasaan dasar bahasa Arab seperti Nahwu-Shorof harus dimiliki. Dalam mengajinya, biasanya pak ustadz membaca kitab kuningnya kemudian menyampaikan makna atau artinya, sambil menerangkan kandungan kalimat-kalimat penting maupun tafsir dari ayat maupun hadis yang terdapat dalam bacaannya. Sementara, para santri menyimak dengan seksama apa yang disampaikan pak ustadz sambil memberi arti pada setiap kalimat yang mereka rasa belum dipahami menggunakan pen tutul.

Suatu ketika aku turut Kang Abu ngaji di ndalem (kediaman kyai sepuh). Biasanya kitab yang dikaji merupakan kitab-kitab kakap seperti Tafsir Jalalen, Jami’ul Bayan, dan lain-lain. Ngajinya biasanya ba’dah subuh sampai menjelang waktu dhuha. Yang mengikuti pengajian rata-rata para guru yang biasanya mengajar kami di sekolah. Juga para imam rawatib dari musalah desa-desa tetangga. Kata Kang Abu, yang ngaji di ndalem itu santrinya sudah tua-tua (berumur), karena memang yang diajarkan adalah ilmu tafsir Alquran yang tidak sembarangan orang mampu menguasainya.

Dari sekian puluh orang yang mengikuti pengajian pagi itu, yang terlihat masih ‘belum cukup umur’ hanyalah aku dan Kang Abu. Oleh karenanya, kami berdua tidak berani masuk ke dalam ruang tamu ndalam, melainkan hanya bersandar di sisi pintu sebelah luar, di atas gelaran sandal dan kelompen para santri sepuh.
Yang menyampaikan pengajian adalah pemangku pesantren langsung, yaitu KH Ahmad Muhammad Alhammad atau biasa dipanggil Mbah Mad Tumpuk. Beliau adalah salah satu penerus dari para muassis Pondok Pesantren Qomaruddin di Sampurnan Bungah Gresik,  seperti almarhum Mbah Sholeh Tsani.

Kang Abu memang tekun dalam mengikuti setiap pengajian. Tidak seperti aku yang memenuhi kitab kuningku dengan jenggot –istilah untuk kitab kuning yang banyak diberi makna atau arti di bagian bawah setiap kalimatnya, Kang Abu malah cukup memberikan tanda-tanda khusus seperti kode-kode dengan huruf tertentu pada setiap kalimat yang dia tidak pahami saja. Itu artinya, bahasa Arab kang Abu sudah jauh di atasku, sehingga mampu mengenali bacaan kitab gundul yang disampaikan oleh setiap ustadznya. Kang Abu pun pasti bisa membaca dan memaknai kitabnya sendiri.

Banyak sekali faedah mengikuti pengajian-pengajian bersama Kang Abu. Meskipun istilahnya hanya amul atau ikut-ikutan, sampai sekarang saya masih merasakan manfaat tetesan-tetesan ilmu yang hanya kudapati saat Ramadan bersama Kang Abu itu. Beruntung sekali aku punya teman seperti Kang Abu, yang telah memberi banyak warna pada masa-masa Ramadan waktu kecil dulu. Dan, sepertinya juga tidak banyak anak seberuntung aku yang dapat turut ngaji kemana-mana, mengekor di belakang punggung Kang Abu, turut membonceng di sepeda jengki biru kesukaannya, yang sekaligus sebagai satu-satunya kendaraan tercepat zaman itu untuk dapat menjangkau tempat-tempat ngaji favorit kami. “Ya Allah… berikan kami ilmu yang bermanfaat. Amin…” (roy/bersambung)

Kiswara 1434 H: Ngaji Bareng Kang Abu (1)

13 July 2013

Aku biasanya memanggilnya Kang Abu. Dia adalah teman ngaji Ramadan di desa tempat tinggal kami. Usianya mungkin tak terpaut banyak denganku, namun dia cukup disegani teman-teman sebaya karena ketekunannya dalam ngaji. Ngaji yang kami maksudkan adalah pengajian kitab kuning di kediaman para kiai sepuh maupun para ustad tersohor dan menjadi acuan masyarakat di kampung tempat tinggal kami.

Sungguh senang rasanya bila Ramadan tiba, karena selama sebulan penuh bisa turut safari ngaji bersama Kang Abu.  Meski kadang aku hanya mendengarkan saja sambil menahan kantuk, atau bahkan sampai tertidur, tapi tetap saja menyenangkan karena dapat sejenak melupakan lapar dan haus yang sebenarnya sudah tak tertahankan. Lagipula tidur dalam berpuasa kan berpahala, hehehe…

Safari ngaji biasanya kami mulai usai salat subuh. Ada banyak pilihan jadwal ngaji yang bisa dipilih oleh siapa saja yang berminat. Biasanya, pesantren tempat kami sekolah selalu mengeluarkan jadwal ngaji yang berisi tabel dengan kolom-kolom yang isinya antara lain; judul kitab, pengasuhnya, tempat pengajian, dan jamnya. Setidaknya dalam sehari kami bisa turut dalam empat kali dengan judul kitab, pengasuh, tempat, dan waktu yang berbeda. Ba’dah subuh, sebelum Dzuhur, usai Ashar, dan ba’dah isya’ adalah waktu-waktu pilihan kami untuk ngaji Ramadan.

Biasanya yang menjadi favorit adalah ngaji di masjid jami’ usai salat Ashar, karena sekalian dapat takjil dan berbuka. Yang menjadi pengasuh adalah Ustad H. Ali Musthofa. Beliau termasuk salah satu ustad senior di lingkungan pesantren meski usianya masih cukup muda, dan kebetulan pula kediamannya juga berseberangan dengan jalanan menuju masjid jami’. Sosoknya sangat bersahaja dan murah senyum, gaya penyampaiannya dalam ngaji kitab juga mudah dipahami. Sementara kitab yang diajarkan kebanyakan pengetahuan muamalah sehari-hari  seperti kitab Nashoihul Ibad, Bidayatul Hidayah, dan lain-lain. Temanya biasanya umum dan bisa diikuti oleh semua umur. Maklumlah, jam-jam jelang maghrib begitu bisanya masjid jami’ penuh oleh jamaah yang berburu takjil dan berbuka  gratis.

Untuk mengikuti ngaji, Kang Abu biasanya terlebih dulu mengajakaku membeli kitab-kitab kuning sesuai judul yang kami pilih sebelumnya. Kami membelinya di Pasar Legi, di tokonya Pak Fadlan. Di toko ini tersedia berbagai judul kitab kuning berikut peralatan untuk ngaji, seperti pena tutul. Pena tutul adalah pena yang khusus dibuat untuk memberi makna (arti) di bawah setiap kalimat bahasa Arab yang terdapat di kitab kuning saat mengaji. Pena ini ujungnya lancip terbuat dari seng –bentuknya persis seperti pena tinta cair merek Hero—hanya saja pena tutul ini tintanya terpisah. Cara menggunakannya pena harus terlebih dahulu dicelupkan atau ditutulkan ke dalam bak tinta yang berupa cupu dari bahan kuningan, baru dituliskan ke bidang kertas kita kuning. Mirip dengan proses membatik.

Kang Abu orang yang rajin, sehingga segala keperluan ngajinya selalu disiapkan dengan benar sebelum berangkat ngaji. Hal utama yang menurutnya tidak boleh lupa adalah mempersiapkan tinta. Tintanya yang dibeli di Pasar Legi hanyalah berupa tinta batangan. Bentuknya padat kotak memanjang. Tinta batangan ini harus diproses dulu hingga bisa digunakan. Pertama-tama Kang Abu mencari batang pohon pisang untuk diambil hatinya, atau bagian tengah yang kemudian dipotong-potong untuk diambil serat halusnya. Bentuk seratnya itu serupa benang-benang sutra halus. Serat tersebut dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam cupu yang kemudian difungsikan sebagai bak penampung tinta. Setelah siap, baru batang tintang digosok dengan tambahan sedikit air sehingga tetesannya meleleh encer memenuhi bidang cupu penampungan tinta. 

Saya pernah tanya kepada Kang Abu, mengapa kok tidak menggunakan kapas saja agar lebih praktis dan hemat tenaga. Kang Abu malah tersenyum. “Coba saja kamu pakai kapas, pasti nanti tintamu bau busuk.” Oh, itu rupanya rahasia Kang Abu.

Sekarang masih dilestarikan tidak ya cara-cara tradisional ngaji seperti itu? Kan cara dan teknik Kang Abu tersebut sudah kalah praktis dengan maraknya merek bolpoint masa kini yang murah-murah pula harganya.

“Jangan salah. Tintaku ini bila dibuat nulis di atas kertas, semakin lama bukannya pudar, tetapi malah semakin kontras warnanya. Kalau terkena air juga tidak akan mblobor pudar,” begitu kilah Kang Abu saat dahulu pernah saya usulkan beli bolpoint merek Pilot atau Zebra. (roy/bersambung)

Tersengat Pedasnya Ceker Mercon Dar-Der-Dor

22 September 2012

Sabtu (22/9), saya menemani seorang teman fotografer www.superkidsindonesia.com berburu kuliner unik berbahan ceker, yaitu Ceker Mercon Dar-Der-Dor! Lokasinya berada di kawasan Ketintang Permai Surabaya, di pinggiran telaga buatan milik perumahan dekat perlintasan rel kereta api.
Ceker yang biasanya kurang mendapat perhatian dan dibuang, kali ini mendapat peran istimewa dan menjadi menu sajian utama. Ada beberapa varian masakan berbahan ceker yang direbus maupun digoreng di resto tersebut. Yang khas adalah menu ceker dor! Yang artinya ceker super pedas.
Sesuai misinya, teman saya memilih ceker dor itu. Sementara saya yang diet makanan pedas memilih sup ceker yang segar. Ceker dor sajiannya sepintas mirip dengan semur. Sementara sup cekernya tak beda jauh dengan sup kebanyakan. Yang membedakannya hanya isinya berupa ceker ayam.
Ceker dor tampilannya memang garang, merah kecokelatan dengan kuah encer warna serupa yang sepertinya berasal dari kecap. Ditambah dengan bawang goreng yang bertaburan di permukannya dan irisan tomat membuat aromanya tercium begitu sedap. Soal rasa jangan ditanya, dijamin super pedas. Itu terlihat dari mimik dan ekspresi teman saya saat mencicipinya kali pertama. Bahkan, dia seakan tersedak ketika lidahnya tersengat rasa pedasnya, sehingga memaksanya mendorongnya cepat-cepat dengan meminum teh manis. Paduan bumbu lainnya serasa kabur terintimidasi panasnya pedas.
Saya pun dibuat penasaran untuk mencoba. Dengan sedikit mencicipi kuahnya di ujung sendok, saya sudah langsung merasakan padasnya. Benar-benar padas cabe. Merata membakar sekujur mulut. Jadi tak salah bila menu tersebut dinamakan caker dor! Langsung membuat kaget siapa yang baru pertama mencobanya. Tapi untuk cekernya sendiri pedasnya masih bisa ditolelir lidah. Jadi bila tak ingin benar-benar kepedesan, triknya adalah mengangkat cekernya dari kuah. Sebab sumber utama pedasnya terdapat dalam kuah merahnya itu.
Sup Ceker Depot Ceker Mercon Dar-Der-Dor Surabaya.
Bagaimana dengan sup cekernya? Wah, saya sudah mencobanya dan langsung larut dalam kesegarannya. Saya memilih mengonsumsinya langsung tanpa nasi. Kuahnya gurih segar dilengkapi irisan wortel dan pililan jagung muda yang manis yang sewaktu-waktu bisa keceplus. Cekernya sendiri sangat empuk dan bisa rontok sendiri saat disedot. Ruas-ruas tulang kaki ayam itu seakan copot otomatis begitu dikulum dan disedot daging dan kulit lembutnya. Tak perlu bersusah payah main betot-betotan. Tinggal bersiap mencuci tangan begitu usai menyantapnya, karena sisa-sisa tulang yang harus kita buang meninggalkan lengketan di jemari.
Untuk urusan harga tergolong lumayan. Dua porsi yang terdiri atas ceker dor dan sup ceker ditambah sepiring nasi, dua gelas teh manis dan dua buah kerupuk dibandrol Rp.35.000,- seporsi ceker sekitar Rp.15.000-an. Namun semua itu sebanding untuk mengobati rasa penasaran akan sengatan pedasnya menu Ceker Mercon Dar-Der-Dor yang tersohor itu. Sampai jumpa di perjalanan kuliner lainnya, yakni Elekonya Selera Rasa Soto Ngawi. (arohman)

CATATAN LEBARAN: Nyeruput Kopi Hitam Lagi

22 August 2012

Bangun pagi ini tubuh serasa segar kembali. Segelas kopi hitam membuka kegiatan, usai semalaman beristirahat. Hari ini saya rehat di Surabaya bersama istri dan Olif, anak kedua kami. Urat dan persendian yang hampir semingguan diforsir untuk lalu lalang mudik Surabaya-Jombang, Jombang-Surabaya, Surabaa-Gresik, dan Gresik-Surabaya benar-benar menguras setamina. Namun semua itu terbayar oleh kebahagiaan bisa bertemu orang tua, saudara, beserta sanak famili dan sahabat semua. Benar-benar berhari raya Idul Fitri.

Kemarin, hari ketiga lebaran, kami bertiga mengunjungi keluarga di Bungah Gresik. Di tanah perdikan tersebut, tinggal para orang tua saya. Di rumah nenek, kini menjadi tempat jujugak para cucunya, karena saudara tertua nenek juga tinggal bersebelahan rumah. Para paman dan paklik/pakde kami juga tinggal tak berjauhan, sehingga ketika lebaran seperti saat ini saudara-saudara jauh ngumpul jadi satu.

Kehadiran saya kemarin juga bersamaan dengan rombongan anak-anak dari mbah yai (kakak dari nenek). Ada tiga pasangan suami istri dan tak kurang dari delapan anak-anak mereka. Belum lagi keluarga dari anak dan cucu paklik yang turut ngumpul begitu mengetahui kehadiran kami. Wow, seru sekali.

Lebaran ini saya masih melihat wajah sendu bulik yang setahun silam ditinggal wafat paklik, suaminya, ketika menunaikan ibadah umrah Ramadan di Makkah. Kepergiannya untuk selamanya, tentu sebuah pukulan tersendiri baginya, meski anak-anaknya juga sudah separo yang menjadi orang. Berpulangnya paklik pada malam 23 Ramadan setahun silam ketika itu juga sempat mengejutkan saya. Sebab, saat menjelang berangkat beliau tampak sehat-sehat saja. Makanya, ketika adik saya pagi-pagi buta sebelum makan sahur mengabarkan meninggalnya paklik, saya langsung menyarankan untuk mengonfirmasikan kabar tersebut kepada Yuk Nik. Yuk Nik adalah kerabat saya dari Jombang yang setiap Ramadan selalu menghabiskan waktunya beribadah sebulan penuh di tanah suci. Termasuk Ramadan tahun ini.

Saat ini para orang tua kami di Gresik rata-rata tinggal kaum ibu. Bapak-bapak kami telah mendahului menghadap ke rahmatullah. Meski demikian, tak mengurangi rasa syukur kami, karena masih memiliki orang tua untuk kami sungkemi dan memohon doa restu kepadanya. Lebih dar itu, kami juga masih bisa melakukan birul walidain. Semoga Allah memanjangkan umur mereka sehingga setiap waktu, khususnya setiap lebaran seperti sekarang ini kami senantiasa bisa mengecup tangan mulianya.

Tape Ketan Buatan Ibu

Seperti lebaran maupun acara-acara keluarga lainnya, ibu selalu menyediakan panganan khas kesukaan saat saya pulang kampung, yaitu tape ketan. Tetapi, kemarin saya tak dapat langsung menikmatinya, karena tapenya belum matang. Ibu membuatnya agak terlambat, karena mengira saya baru ke rumahnya hari lebaran keempat. Tapi dasar ibu, begitu saya balik ke Surabaya, semua tape ketannya dibawakan sebagai oleh-oleh. “Ini bawa pulang semua, besok pagi sudah bisa dimakan,” ujarnya kepada istri saya.

Tape ketan buatan ibu sangat enak. Dibungkus menggunakan daun pisang kian membuat harum aromanya. Rasanya pun sangat manis.

Proses membuatnya juga sangat gampang. Biasanya ibu membuatnya dari beras ketan yang ditanak sampai matang. Setelah itu, ketan yang masih panas didinginkan dengan cara ‘diler’ atau ditempatkan melebar di atas tempaian atau lengser. Setelah dingin baru kemudian ditaburi ragi hingga merata. Setelah didiamkan beberapa saat baru kemudian dibungkusi kecil-kecil menggunakan daun pisang lalu disimpan di dalam baskom atau panci dan ditutup rapat supaya proses peragian berlangsung sempurna. Setelah disimpan selama sehari semalam, jadilah tape ketan yang manis kesukaan saya itu.

Menu-menu spesial lain kemarin juga dihidangkan untuk kami. Ada pecel bandeng, nasi bebek dan soto. Ada juga apem pasung yang biasanya dihidangkan untuk jamaah musala saat takbiran pada malam lebaran. Ini merupakan berkah tersendiri, karena mendapat hidangan yang begitu istimewa sekaligus melipur kecewa karena tak dapat menikmati Nasi Krawu “Bu Ria” yang ternyata tak buka saat lebaran. (arohman)

KISWARA (8) Mudik, Mampir Soto Dok Jombang

21 August 2012

Sebagaimana lebaran tahun-tahun sebelumnya, hari raya Idul Fitri 1433 H ini saya lewati dengan melawat ke mertua di Jombang dan ke tanah kelahiran di Bungah Gresik. Jadwal semestinya, tahun ini harusnya melawat ke Gresik dulu, tapi berhubung saya kalah voting dengan anak-anak, maka saya pun rela ke Jombang terlebih dahulu.

Keberangkatan ke Jombang pun harus meju sehari lebih awal, yaitu tanggal 16 Agustus, sebab Olif sudah be-te sendirian di rumah, karena Alif, masnya sudah ke Jombang duluan dijemput pakdenya.

Sebenarnya jadwal libur kantor baru dimulai pada 17 Agustus, tapi karena melihat Olif yang berulang-ulang minta menyusul masnya, juga ingin mencoba baju baru yang kabarnya sudah dibelikan tantenya, akhirnya saya luluh juga meninggalkan urusan kantor lebih awal.

Wajah Olif terlihat sangat sumringah begitu bundanya memberi tahu bahwa pulang ke Jombang dilakukan sore nanti (16/8). Itu artinya juga saya harus memastikan pesanan menu untuk buka bersama di Masjid An-Nur harus beres dan sudah diantar ke takmir sehingga benar-benar dapat dinikmati para jamaah salat Maghrib petang itu. Alhasil bundanya pun harus ekstra menguras tenaga, yakni untuk mempersiapkan segala keperluan mudik dan mengambil pesanan sekaligus mengantarkannya ke masjid.

Alhamdulillah, ketika kumandang adzan Ashar terdengar, bunda sudah kembali ke rumah, itu tandanya pesanan menu buka beres. Olif pun wajahnya tampak kian berbinar. Sepertinya dia sudah menahan rindu ingin bertemu Naufal anak tantenya, dan pasti sudah terbayang baju baru yang dijanjikan tantenya pula. Hal paling menggemberikan, sama seperti yang kurasakan ketika masa-masa menjelang lebaran di kampung halaman 30 tahun silam.

Kami akhirnya berangkat ke Jombang usai memastikan segalanya beres. Tak ada tanggungan urusan dengan tetangga, semua pintu juga sudah terkunci, dan akhirnya pamit kepada satpam perumahan sekaligus nitip rumah. Dengan mengucap bismillahi tawakkaltu alallah laakhaula walakuawata illabillah… akhirnya kami pun melenggang meninggalkan Surabaya menuju Jombang.

Perjalanan sangat lancar, hingga akhirnya kami bertiga memasuki kota Jombang menjelang adzan maghrib. Bundanya langsung mengajak mampir ke sebuah tempat makan untuk berbuka. Dan, akhirnya pilihannya pun jatuh pada menu khas kota Jombang yaitu Soto Dok “Pak Karman” yang berada di Jl. Pahlawan Jombang.

Sebuah depot sederhana semi permanen mepet trotoar dengen jejeran meja dan kursi panjang tampak sudah penuh pengunjung yang juga menantikan berbuka. Kami akhirnya masuk dan mendapatkan separo meja dan kursi kosong yang bisa kami tempati. Tak lupa kami juga memesan dua porsi Soto “Dok!” plus minuman hangat dan dingin.

Alhamdulillahirobbil aalamin, nikmat sekali rasanya berbuka di tengah perjalanan jauh. Maka tak heran, Rasullullah Muhammad SAW sangat menganjurkan berbagi takjil kepada orang-orang yang dalam perjalanan. Ada sesuatu yang luar biasa istimewanya di sana. Semoga puasa kami diterima Allah SWT. Amin…

Seporsi Soto Dok Jombang sebenarnya dari tataran rasa kurang begitu istimewa. Menurut saya, kuahnya masih kalah maknyus dengan Soto Madura atau Soto Lamongan. Yang cukup menjadi sensasi adalah rasa terkejutnya, yaitu suara “DOK!”-nya dari botol kecap yang dientakkan sang penjual ke meja dasarnya itu lho yang mungkin cukup membuatnya terkenal hingga seantero Indonesia sebagai salah satu varian soto nusantara. Keunikan lainnya, Soto Dok selain sudah diserakan lauk berupa irisan jeroan di dalam siraman kuahnya, secara terpisah disediakan pula lauk dendeng daging maupun godokan babat. Tinggal pilih sesuai selera. Begitu pun untuk kecap, jeruk, dan sambal cabai bisa diambil dan ditambahkan sendiri untuk melengkapi kenikmatan Soto Dok ini.

Selesai berbuka, kami segera melanjutkan sisa perjalanan yang kurang beberapa kilometer saja. Kehadiran kami di tengah keluarga eyang istriku, tentu malam itu menjadi kejutan tersendiri bagi keluarga di Jabon. Sebab, tahun-tahun sebelumnya kami tak pernah menyinggahinya terlebih dahulu. Karena biasanya kami biasa langsung ke rumah mertua untuk berlebaran.

Dan, malam itu kami akan menyelesaikan sisa Ramadan dan Hari Raya hingga hari kedua dengan bermacam rutinitas yang menggemberikan penuh kekeluargaan bersama keluarga besar istri. Barokallah... (arohman)