Menikmati Kopi Tubruk Yukkk…!

09 February 2010


KOPI merupakan minuman khas yang keberadaannya bisa dihadirkan di segala suasana. Tak heran bila banyak yang menggemari miniman yang dihasilkan dari bubuk hasil tumbukan biji kopi ini.
Berbicara tentang kopi tentu tak bisa lepas dari keberadaan kedai atau pun warung kopi --yang sepertinya sudah menjadi ciri khas tersendiri bagi sebagian wilayah di negeri ini. Dengan aneka citarasa dan keunikan khas dalam cara penyajiannya, kopi kini telah menjadi bagian dari suguhan yang tak bisa dilewatkan begitu saja, di tengah maraknya serbuan aneka minuman global.


Kopi sendiri juga merupakan minuman yang hampir ada di setiap penjuru dunia. Di negeri kita, Indonesia, juga memiliki beberapa jenis kopi yang cukup dikenal dunia. Kopi Sumatera, Jawa, Sulawesi (Toraja), dan kopi termahal di dunia yakni Kopi Luwak. Selain kekhasan aromanya, ciri khas kopi di Indonesia juga bisa dinikmati dari cara penyajiannya yang mengundang decak kagum. Salah satunya adalah kopi tubruk yang belum lama ini diusung oleh Hotel Santika Surabaya sebagai salah satu minuman andalan di Lounge Hotel Santika Surabaya.
Menurut Adita Putri, Sales & Media Communication Hotel Santika Surabaya, pihaknya menghadirkan kopi tubruk untuk memberikan sensasi yang luar biasa dalam penyajiannya yang unik, di samping juga kekhasan rasa kopi tubruknya sendiri.
“Untuk citarasa, kami memilih kopi Jawa yang memiliki aroma yang kuat. Dan dalam hal penyajiaannya, pengunjung tak perlu takut kopi yang akan dinikmatinya tumpah, karena peramu saji kami telah akan dengan cekatan meracik untuk kemudian membalik gelasnya, sehingga pengunjung tinggal menikmatinya dalam seruputan aroma yang tiada tara,” papar perempuan yang biasa dipanggil Putri itu seraya berpromosi.
Penyajian kopi tubruk ini memang lain dari kopi kebanyakan. Sebagaimana di daerah pesisiran Jawa Timur, seperti Tuban maupun Gresik, kopi tubruk sudah menjadi minuman sehari-hari di warung-warung kopi. Dalam penyajiannya, kopi dan gula dengan takaran yang pas diseduh menggunakan air panas di gelas, kemudian lepek ditutupkan di atasnya, lantas dibalik. Untuk meminumnya, gelas yang sudah terbalik berisi minuman kopi itu cukup diputar sedikit, dan cairan kopi pun keluar melalui celahnya ke permukaan lepek. Di situlah letak sensasi menikmati kopi tubruk. Tak salah bila kemudian Hotel Santika memboyongnya untuk dijadikan salah satu sajian plus atraksi sehari-sehari, sekaligus meningkatkan derarajat kopi tubruk ke kelas yang lebih elit. (arohman)

Lounge Hotel Santika Surabaya
Jl. Pandegiling No. 45, Raya Darmo Surabaya
Telp. 031.5667707 Fax. 031.5673242 HP. 081.5529.3403

BACA SELENGKAPNYA “Menikmati Kopi Tubruk Yukkk…!”  »»
Diposting oleh ruang baca di 4:48 PM 0 komentar  

Bango Berbagi Kelezatan Hidangan Sate dan Gule di Hari Qurban

26 November 2009


PT. Unilever Indonesia Tbk., melalui merek kecap andalannya, Bango, ingin berbagi di Hari Qurban yang tiap tahunnya dirayakan umat Islam di seluruh dunia. Untuk itu, Bango menggelar acara bertajuk ”Berkurban Sepenuh Hati Bersama Bango” bertepatan dengan perayaan Idul Adha 1430 H. yang jatuh di hari Jumat, 27 Desember 2009. Acara yang digelar secara serentak di dua kota ini mengambil lokasi di Masjid Raya Pondok Indah Jakarta dan Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya.

“Acara ini baru pertama kalinya kami gelar, dengan tujuan utama untuk ikut merayakan Idul Adha dan berbagi kelezatan sepenuh hati hidangan tradisional kepada masyarakat tak mampu di hari nan suci,” tutur Memoria Dwi Prasita, Brand Manager Bango. “Pada momen istimewa ini kami memotong sebanyak 5 ekor sapi dan 30 ekor kambing, dengan pembagian untuk Jakarta sebanyak 3 sapi dan 20 ekor kambing, sedangkan untuk Surabaya sebanyak 2 sapi dan 10 ekor kambing. Usai dipotong dan dibersihkan, dagingnya lalu diolah oleh para legenda kuliner Nusantara menjadi hidangan yang pas dengan suasana Idul Adha yaitu Sate dan Gulai,” tambah Memoria yang akrab disapa Memor.

Di Masjid Raya Pondok Indah Jakarta dibagikan gratis sebanyak 1.050 porsi Sate Sapi, 1.200 mangkok Gulai Sapi, 600 porsi Sate Kambing, dan 800 mangkok Gulai Kambing. Jumlah kupon yang dibagikan kepada masyarakat total sebanyak 3.650 lembar. Sedangkan, di Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya dibagikan gratis sebanyak 700 porsi Sate Sapi, 800 mangkok Gulai Sapi, 300 porsi Sate Kambing dan 400 mangkok Gulai Kambing. Jumlah kupon yang dibagikan kepada masyarakat luas total sebanyak 2.200 lembar. Pengambilan makanan dengan sistem kupon dimulai pada pukul 15.00 WIB hingga 18.00 WIB, dimana kupon tersebut telah dibagikan sebelum Hari-H kepada mereka yang berhak melalui panita Idul Qurban pada masjid setempat.

Di Jakarta, Bango menggandeng Pondok Sate Kambing Muda Pejompongan yang dikenal ahli memasak Sate dan Gulai dengan citarasa yang lezat. Sedangkan di Surabaya, Sate Irma dipercaya untuk mengolah Sate dan Gulai dengan sepenuh hati, yang tentu saja mantap citarasanya. Kedua penjaja Sate dan Gulai yang kesohor tersebut sudah beberapa kali menjadi peserta Festival Jajanan Bango dan program televisi Bango Citarasa Nusantara (BCRN). Khusus pada event ini, Pondok Sate Pejompongan memboyong tim sebanyak 60 orang, sedangkan Sate Irma di Surabaya mengerahkan 40 orang. Untuk mengolah daging menjadi Sate dan Gulai yang nikmat memang membutuhkan usaha ekstra. Semua persiapan ini sudah dilakukan sejak pukul 4 pagi. Di samping itu, mereka juga harus melakukan persiapan yang matang dalam menyiapkan bumbu dan bahan dasar lainnya. Mereka rela mengorbankan mengisi hari besar kali ini dengan keluarga, alih-alih berkumpul di masjid tempat acara diselenggarakan dan ikut serta membagikan kebahagiaan kepada masyarakat.

Terlihat kesungguhan hati seluruh tim dalam mempersiapkan acara ini. Sejak subuh, Ibu Irma Ariani, pimpinan sekaligus pemilik Sate rma terlihat telah menyiapkan segala sesuatunya di lokasi masjid bersama puluhan karyawannya terkait dengan penyediaan ribuan porsi Sate dan Gulai. ”Semuanya sudah kami siapkan sejak subuh tadi. Kami juga sudah mempersiapkan tim kami secara khusus untuk kegiatan ini,’’ tukas Ibu Irma. Maklum, dalam mengolah kambing, seperti dikatakan Ibu Irma, dibutuhkan proses yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Mulai saat penyembelihan hingga pengolahan dan pemberian kecap Bango pada daging yang telah dipotong agar olahan daging kambingnya nanti teraza lezat dan empuk saat dinikmati sebagai Sate maupun Gulai.

Khusus acara di Jakarta, hadir pemandu acara Bango Cita Rasa Nusantara (BCRN) Surya Saputra untuk meramaikan suasana. ”Sebagai host BCRN saya ikut bangga, di Hari Raya Qurban ini Bango ikut berkiprah dengan membagikan daging yang diolah menjadi Sate dan Gulai. Saya berharap inisiatif ini dapat terus dilakukan oleh Bango di tahun-tahun berikutnya". Surya juga mengungkapkan kekagumannya dengan pembagian Sate dan Gulai dari Bango ini. Menurutnya ini tidak hanya menunjukkan kesepenuhatian Bango terhadap orang-orang yang membutuhkan, tetapi juga menunjukkan konsistensi Bango untuk terus mengedepankan kekayaan cita rasa tradisional Indonesia.
Ketua Panitia Penerimaan Qurban Masjid Muhammad Cheng Ho, H. Abd. Nurawi (Njo Gwan Wie) memberikan tanggapan serupa. "Ya, cara yang dilakukan Bango ini amat unik. Hal ini juga menunjukkan betapa perhatian Bango terhadap saudara-saudara kita yang hidup berkekurangan. Saya memuji Bango yang membagikan kegembiraan pada hari ini," kata Nurawi.

Makna khusus acara “Berkurban Sepenuh Hati bersama Bango” ini memang mempunyai arti tersendiri bagi para penerima Qurban. Mereka tidak hanya dapat merasakan berkah dari pembagian Qurban tetapi juga dapat menikmati masakan tradisional yang kaya cita rasa. "Terima kasih terdalam saya sampaikan kepada semua pihak yang ikut serta mempersiapkan acara ini dengan sepenuh hati terutama panitia penerima hewan kurban di Masjid Pondok Indah dan Masjid Muhammad Cheng Ho, dua legenda kuliner nusantara, Pondok Sate Pejompongan dan Sate Irma serta masyarakat sekitar," tutup Memor.


BACA SELENGKAPNYA “Bango Berbagi Kelezatan Hidangan Sate dan Gule di Hari Qurban”  »»
Diposting oleh ruang baca di 12:39 PM 1 komentar  

Segarnya Rujak Es Krim Bikin Melek-Merem

06 October 2009


Siang ini cuaca Surabaya begitu panas. Aktivitas pun selalu berasa gerah dan haus. Entah sudah berapa botol air mineral diteguk sebagai pelepas dahaga, namun tetap saja serasa kering kerongkongan ini. Namun sekonyong-konyong kehausan itu sirna terhapus segarnya rujak es krim yang dijajakan oleh pedadang keliling yang melintas di depan kompleks Niaga Permai, Jl. Veteran Surabaya.
Pertama sih tidak begitu tertarik, namun ketika kawan-kawan berjubel mengerubungi penjualnya, eh tiba-tiba saja rasa penasaran untuk mencobanya pun lantas menggoda selera. Dengan harga Rp. 4.000-an per gelas yang porsinya cukup untuk membunuh penasaran. Apalagi cara penyajiannya cukup praktis, karena penjualnya sudah mengemasnya sedimikian rupa sehingga begitu ada pembeli langsung bisa diambilkan tanpa menunggu lama.
Gelas plastik hampir separo sudah terisi rujak serut (hasil serutan buah yang dipasrah), yang terdiri atas pasrahan buah mangga, pepaya, nanas, ketimun, bengkoang, dengan bumbu rujak manis yang terbuat dari gula merah dicampur irisan cabe kecil-kecil. Ketika ada pembeli, sang penjual yang mengaku asli Sukoarjo, Jawa Tengah itu pun langsung membuka termos seterefom, kemudian mengambil satu gelas berisi rujak dan satu plastik yang berisikan es puter (es krim tradisional). Es krim kemudina ditaruh di atas rujak, dan siap dinikmati.

Tiga Perpaduan Rasa
Inilah rasanya rujak es krim: manis, masam, dan gurih. Manis berasal dari bumbunya yang berasal dari gula merah. Masam bersumber dari buah mangga, nanas dan jenis buah lainnyanya. Sementara gurihnya dari es puter yang bahan dasarnya berupa santan juga susu.
Keistimewaan inilah yang menyatu dalam satu kecapan lidah. Aromanya pun harum dan segar. Apalagi dingin es yang pas menjadikan minuman khas Jawa Tengah ini sangat tepat dinikmati di tengah panasnya cuaca Surabaya. Makanya, kawan-kawan kantor kok selalu berbondong-bondong menyerbunya. Sayangnya tidak setiap hari Bapak penjual rujak es krim ini singgah di depan kantor kami, sehingga harus menahan rindu bila ingin menjadikannya menu pendamping makan siang. (arohman)


BACA SELENGKAPNYA “Segarnya Rujak Es Krim Bikin Melek-Merem”  »»
Diposting oleh ruang baca di 3:39 PM 1 komentar  

Rasa Nendang, Nasi Kikil Mojosongo Jombang

28 September 2009

Sudah pernah mencoba nasi kikil? Ternyata masakan khas Mojosongo, Jombang ini cukup unik dan tidak sama dengan menu kikil kebanyakan yang biasa menggunakan lontong dengan kuah berlinangan. Tak heran bila penikmatnya selalu rutin datang ke kawasan jalan raya Mojosongo – arah dari stasiun Jombang ke Diwek – setiap hari, khususnya pada musim mudik lebaran.
Pada kesempatan silaturahmi Idul Fitri lalu, saya juga tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencoba kenikmatan nasi kikil ini. Petang baru menjelang, ketika saya singgah di salah satu warung pinggir jalan yang sudah dijubeli pembeli. Deretan mobil berpelat nomor luar daerah tampak memenuhi antrean.
Meski harus menunggu giliran mendapatkan tempat duduk, saya akhirnya memperoleh tempat duduk balai-balai beralaskan tikar pandan. Sementara beberapa kawan lain duduk di bangku menghadap meja, sekalian bisa melihat penjualnya menyajikan menu, baik berupa nasi kikil maupun nasi pecel.
Nasi kikil hidangannya cukup sederhana, hanya sepiring nasi yang disiram kuah santan (semacam lodeh) yang berisikan irisan buah pepaya muda dan nangka muda (tewel), dan tentu tak ketinggalan irisan kikil campur kulit sapi (cecek).
Sebagai pelengkap, tersedia pilihan lauk berupa daging, paru, atau babat. Untuk menunjang stamina dan kesehatan, sebaiknya sih memilih lauk daging. Karena paru dan babat merupakan jeroan sapi yang mungkin kurang baik bagi kesehatan kita, karena mengandang kolesterol tinggi.
Rasa yang dominan dari menu nasi kikil ini adalah kuah santannya. Sementara kikil yang identik sebagai nama menu istimewa ini ternyata tidak begitu banyak, hanya ada beberapa potong kecil-kecil. Bahkan yang kuat di lidah justru ceceknya. Maka tak heran bila sebagain orang juga menjuluki nasi kikil ini dengan sebutan nasi cecek.
Sebagai penyandingnya, tersedia minuman es teh maupun es jeruk. Jadi, usai menyantap nasi kikil yang dihidangkan hangat-hangat, sebagai pelarutnya langsung bisa meluruhkan dahaga dengan minuman segar tersebut. Seporsi nasi kikil Rp. 6000 an. Jadi, untuk satu orang tak sampai menguras kantong.


Kalau masih penasaran ingin menikmati kuliner Jombang lainnya, bisa singgah di Kebonrojo – dekat alun-alun Jombang. Setiap sore hingga malam di sana tersedia aneka menu pilihan. Salah satunya ada soto dok Pak Widji. Atau sekalian juga mampir ke alun-alun Jombang, yang kalau malam berubah menjadi pasar makanan. Si sana bisa dijumpai aneka menu sesuai selera. Ada juga Es Lodeh yang mangkalnya di pintu masuk alun-alun sebelah barat (depan gerbang masjid). So, dijamin terpuaskan oleh keunikan dan kekhasan menu-menu istimewa khas kabupaten Jombang.
Untuk mendapatkan menu-menu istimewa tersebut pada hari-hari biasa, sebaiknya bertandang ke sana pada malam minggu, jadi suasananya ramai, sehingga dapat sekalian liburan sambil berwisata kuliner di kota kelahiran Gus Dur itu. Selamat menikmati... (arohman)


BACA SELENGKAPNYA “Rasa Nendang, Nasi Kikil Mojosongo Jombang”  »»
Diposting oleh ruang baca di 3:29 PM 0 komentar  

Lembut dan Nikmatnya Kikil Bu Medi Pagesangan

18 September 2009


Malam akhir-akhir Ramadhan, ternyata membawa berkah tersendiri bagi Bu Medi. Penjual Kikil Sapi di Raya Pagesangan Surabaya (depan pabrik korek) ini dengan senyum lebar menutup warung tendanya yang berdindingkan tembok pabrik, meski waktu masih menunjukkan pukul 19.00 WIB.
Dua panci besar kikilnya telah habis, karena semenjak buka pada jam 4 sore, pembeli silih berganti minta dibungkus untuk dibawa pulang dan sebagian lainnya makan di tempat. Tak ayal ketika bertandang ke sana kemarin, saya pun hanya kebagian sisa-sisa kikil plus tulang. Tak apalah, saya termasuk beruntung karena petang itu masih kebagian kesedapan kikil Bu Medi yang maknyus. Karena banyak juga calon pembeli yang kecewa karena tidak kebagian. So, sebelum mudik lebaran meninggalkan Surabaya, makin lengkap rasanya setelah menyantap kikil khas Sepanjang ini.
Bu Medi merupakan salah satu penjual Kikil yang maknyus di Pagesangan. Meskipun namanya masih kalah populer oleh Kikil Pak Said, namun soal rasa kok menurut saya lebih unggul Bu Medi.
Nah, di balik kesuksesan Bu Medi mampu memiliki pelanggan setia, yang secara otomatis pula memastikan pundi-pundi rupiah baginya, ternyata menyimpan perjuangan tersendiri.
Bu Medi sendiri pada awalnya hanyalah seorang penjual jajanan, bukan kikil seperti sekarang. Karena rumahnya bersebelahan dengan Pak Said (pemilik kikil Pak Said), maka suatu waktu disarankan oleh Pak Said untuk berjualan kikil tak jauh dari tempat mangkalnya. Siapa tahu ada pelanggan kikil yang bisa mencoba dan kemudian menjadi pelanggannya.
Hari-hari penuh panjang mencari dan menunggui pelanggan datang pun dilewati Bu Medi dengan penuh kesabaran. Apalagi, saat itu dia jualan juga hanya sebagai penunjang sang suami yang bekerja sebagai sopir.
Tuhan sangat adil, setelah satu-dua orang datang ke warung Bu Medi, ternyata kebanyakan dari mereka merasakan kikilnya lebih terasa dibandingkan di tempat lain. Maka hal itulah yang diperhatikan oleh Bu Medi, sehingga dia selalu menjaga keutuhan bumbu guna menjamin rasanya tak pernah berubah dari waktu ke waktu.
Kini, sudah banyak pelanggan yang selalu mampir untuk menyantap kikil Bu Medi, ketika melintas di Raya Pagesangan depan pabrik korek. Setiap hari Bu Medi buka mulai jam 4 sore dengan menghabiskan 4 stel kikil (16 kaki sapi), yang biasanya setelah diolah bisa menjadi 70-100 porsi kikil siap santap.
Harga per porsinya Rp. 7000. Tentu tidak mahal bila dibandingkan kenikmatan yang diberikan. Apalagi kikil Bu Medi ini sangat lembut dengan bumbu yang sangat pas dirasa. Apalagi kalo sudah ditambahi perasan jeruk nipis dan kecap, hemmm... tercium aromanya langsung bikin ngilir. Tak heran anak saya yang masih 2,5 tahun pun suka ketika saya cobakan. Apalagi yang suka makan-makan di luar seperti saya. Kalo mo info lebih lanjut bisa kontak Bu Medi di 031-783-43789.(arohman)


BACA SELENGKAPNYA “Lembut dan Nikmatnya Kikil Bu Medi Pagesangan”  »»
Diposting oleh ruang baca di 2:41 PM 0 komentar  

Tergiang Rasa Sate Padang

07 September 2009


Sate padang merupakan satu dari sekian banyak jenis sate khas nusantara yang cukup familier, karena banyak dijumpai di berbagai tempat. Selama Ramadhan 1430 H, Anda yang gemar menyantap sate khas Sumatera Barat ini bisa mencobanya di Bazar Ramdhan depan Masjid Al Akbar Surabaya. Tempatnya bersebelahan dengan Nasi Kapau, menghadap ke arah timur (depan kantor PBNU Jatim).
Rasa khas daging sapi dibakar nan gurih begitu menggiurkan. Apalagi bumbunya yang hampir menyerupai kuah (karena begitu banyak, red) juga terasa sangat gurih sehingga membuat lidah dipenuhi liur kenikmatan.
Satu porsi sate padang dihidangkan di atas piring yang dilapisi daun pisang. Sebelum sate diletakkan, terlebih dahulu ditaruh irisan lontong, baru kemudian disiram dengan bumbu sate, baru ditaburi bawang goreng.
Irisan dagingnya yang tipis tidak membutuhkan ekstra tenaga untuk mengunyahnya, apalagi dalam kondisi usai puasa seharian, tentu tekstur makanan-makanan yang empuk dan lembut akan sangat membantu sekali pencernaan bekerja. Itu semua tak lepas dari proses pemasakan daging sapi yang terlebih dahulu direbus mengunakan ramuan bumbu sebelum diirisi ukuran dadu untuk ditusuk. Jadi, sebenarnya daging sate ini sudah masak dan bisa dimakan meski tanpa dibakar. Tapi, namanya buka sate kalau belum dibakar bukan...?
Soal bumbu satenya juga termasuk inik. Karena dalam kebanyakan sate biasanya hanya mengandalkan kacang tanah goreng sangrai dan kecep. Tetapi untuk sate padang masih ada tambahannya lagi, yaitu tepung beras. Maka dari itu bumbu sate padang menyerupai bubur atau kuah, karena ada tepung berasnya tersebut. Rasa bumbunya juga tidak manis seperti pada sate kambing dan lainnya, karena dalam membuat bumbu biasanya yang digunakan untuk membuat adonan bumbu sate tersebut berasal dari air rebusan daging sapi sebelumnya. Jadi khas masakan Padang yang kuat dengan unsur guri-gurian.
Seporsi sate padang lengkap dengan lontongnya dibandrol Rp. 8.000 cukup murah untuk mencoba sebuah sensasi makanan khas yang dalam keseharian jarang mencicipinya. Sungguh pengalaman kuliner di bulan Ramadhan yang maknyusss! (arohman)


BACA SELENGKAPNYA “Tergiang Rasa Sate Padang”  »»
Diposting oleh ruang baca di 12:16 PM 1 komentar