Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Ngidam Mie Hitam

03 September 2010

Ngidam bukan semata berlaku bagi wanita hamil. Siapa pun bisa merasakan keinginan yang begitu menggebu terhadap sesuatu itu, khususnya dalam urusan makanan. Saya pun pernah merasakan hasrat yang luar biasa dalam ketika suatu saat ingin mencoba kwetiau atau mie hitam. Nah, kebetulan sekali ketika bertandang di FJB Jakarta (4/7) lalu saya ketemu dengan kwetiau mie hitam di tenda stand Warung Ngalam.

Tongkrongan kwetiau mie hitam ini sangat meyakinkan. Dihidangkan dalam mangkuk, di sana sudah terdapat seporsi mie hitam yang warna hitamnya berasal dari cairan senjata rahasia ikan cumi-cumi. Mienya padat namun lumer saat dimakan. Di atas mie yang berbentuk pipih panjang namun dibuat melingkar-lingkar itu, ditaburi bumbu pelengkap yang gurih. Sepertinya bahannya adalah daging ayam, bawang putih yang sudah diolah jadi satu dengan terigu dan sagu.

Sebagai teman makannya disediakan kuah dalam wadah kecil terpisah, sehingga penikmat bisa menggunakan sesuai selera. Hanya itu? Tidak. Masih ada pangsit goreng dan bakso, serta salad. Untuk memakannya bisa mengunakan sumpit maupun sendok-garpu sesai kebiasaan.
Tentang rasa dan aromanya sungguh sedap. Mie hitamnya yang berbahan dasar tepung terigu, cumi, dan telur dan menciptakan rasa gurih spesial. Apalagi ketika dicampur dengan kuahnya yang juga ekstra gurih pula. Setelah menyisipkan mie hitam ke mulut, makin komplet rasanya dengan menikmati pula sedikit pangsit goreng nan renyah, sebelum dilanjut menyantap pula bakso dan saladnya. Sunguh perpaduan rasa yang tepat untuk memanjakan selera.

Mie hitam bukan hanya enak, tetapi juga kaya akan kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh. Selain sumber protein dan karbohidrat, juga masih banyak lagi unsur vitamin di dalamnya. Mie hitam bila dibandingkan dengan mie ubi dan mie-mie lainnya tentu keberadaannya lebih unggul, baik dalam tampilannya yang mewah, rasa dan khasiatnya. So, tak salah bila banyak yang mengidamkannya. (arohman)

Sate Tulang yang Nendang

02 September 2010

Bicara soal sate, pastinya selalu dihadapkan dengan daging yang ditusuk dengan sujen. Menu sate sudah sangat familier bagi masyarakat Surabaya. Bahkan di kota buaya ini, ada beberapa jenis varian sate yang rasanya mantap dan nendang abis. Ada sate ayam khas Madura, sate kambing, sate cempe (kambing muda) khas Timur Tengah, sate kelinci, sate kelopo, maupun sate kuda.

Nah, bagaimana kalau sate tulang...? Ternyata di Surabaya ada juga, tepatnya di salah satu rumah makan Banjar, meski belum pernah mencobanya langsung. Namun untuk kedahsayatan cita rasa sate tulang ini, saya pernah menikmatinya di Jakarta, ketika FJB awal Juli lalu. Kebetulan bersama teman dari Radio Bahana FM saya diajak mampir ke sate tulang Eldorado yang kondang itu.

Dari performanya sate tulang biasa saja. Tongkrongannya sama seperti sate kebanyakan. Hanya saja irisan daging ayam yang digunakan cukup unik karena disertakan pula setulang-tulangnya. Tentu bukan tulang keras, melainkan bagian sisi-sisi tertentu yang memiliki tulang lunak. Istimewanya lagi, sate tulang menggunakan saus khusus cabe merah sebagai bumbunya. Rasanya pedas-pedas manis.

Dari informasi yang saya dapat di Sate Tulang Eldorado, ternyata sate tulang ini bahannya diambilkan dari tulang belulang bagian punggung ayam yang masih dilengketi daging. Mengapa dipilih bagian ini? Karena itulah sisi tulang yang mantap dan tetap memiliki kadar daging cukup untuk dijadikan sate, di samping itu lunak pula.

Daging plus tulang ayam dipotong-potong kemudian ditusuk menggunakan sujen dicampur dengan bumbu khusus sebelum dibakar. Pada proses pembakaran juga ditambahkan kecap dan bumbu tambahan lagi supaya aroma dan cita rasanya makin mantap. Setelah matang dengan tampilan yang bigitu menggoda, sate diletakkan di atas piring dan kemudian bisa dicocolkan dengan sauh cabe merah yang disandingkan di sebelahnya.

Pedas? Tentu. Tetapi, meskipun berbahan dasar utama cabe super pedas namun dengan tamabahan jeruk lemon dan dan resep rahasia lainnya, rasanya tak lagi pedas semata. Masih menurut sang tukang racik bumbu, saus cabe menjadi tidak begitu pedas karena proses perebusannya dilakukan beberapa kali sehingga rasa pedesnya pun tak terlalu panas namun tetap nendang.

Bagaimana cara menyantapnya? Sate yang sudah matang tinggal dicocolkan saja ke dalam saus cabe merahnya. Biasanya untuk yang kurang suka tulang mereka hanya akan menyisil daging-dagingnya saja. Sementara yang gemar ngeremus tulang bisa langsung melumatnya sekalian dalam mulut. Toh tulangnya sudah lunak, sehingga enak juga untuk dimakan.

Tapi awas, setelah makan sate tulang Anda dikatai sebagai manusia pemakan tulang. Pasalnya, Anda memang menyantap sate tulang yang benar-benar tulang, meski bisa juga menu tersebut dinamakan yang lebih nyaman dengan menyebutnya, sate ayam plus tulang karena satenya terdiri atas daging dan tulang ayam. Namun tak apalah, agar memiliki nilai jual dan gampang diingat enaknya yang memang disebut sate tulang saja deh! Toh, selama ini masyarakat Banjar sudah sangat menikmati menu dan nama tersebut, tinggal kita saja yang belum harus belajar terbiasa dengan itu semua. (arohman)

Berburu Kolak Ayam Malem Telulikuran


Mendengar menu kolak ayam mungkin berasa janggal di telinga. Ayam kok dikolak? Terus bagaimana rasanya? Ya. Begitulah pertanyaan yang megganjal di setiap benak orang yang baru kali pertama mengetahuinya. Karena biasanya kolak kan berisi labu kuning, ketela, nangka, atau tape singkong. Namun kolak yang satu ini memang tidaklah lazim, yakni kolak ayam atau biasa juga disebut sanggring.

Namun tidak demikian dengan warga masyarakat Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Kolak ayam merupakan menu sajian istimewa yang hanya bisa didapat setahun sekali, tepatnya setiap malam 23 Ramadan (malem telulikur). Tak ubahnya hari raya Lebaran, pada malam itu (Ramadan 1431 H ini bertepatan dengan 1 September 2010).
Secara penampilan, kolak ayam atau sanggring ini tak ubahnya kolak kebanyakan.

Bentuknya pun berupa sajian berkuah berbahan santan dan gula merah, hanya saja di dalam porsinya terdapat bawang daun dan suwiran daging ayam kampung.
Lalu bagaimana dengan rasanya? Tentu manis. Manis gula merahnya sangat kuat dengan diselingi aroma bawang dan bumbu-bumbu dapur lain yang begitu menyentak tenggorokan dan mampu melonggarkan pangkal hidung. Sebagai pendampingnya disertakan nasi ketan, sehingga mampu menghadirkan rasa gurih dalam menyantapnya.

Harus Dimasak Laki-Laki

Proses pembuatan kolak ayam juga tergolong unik, karena semuanya dikerjakan oleh kaum laki-laki, mulai dari memilih, memotong dan memasak ayam, hingga meracik bumbu serta menyajikannya kepada para tamu.

Seperti halnya tahun lalu, menurut salah seorang pemuda masjid setempat, Burhan Rosyidi, semua proses pengerjaan dilakukan di halaman masjid desa. Biayanya merupakan hasil swadaya masyarakat. ”Kebetulan tahun ini setiap kepala keluarga dikenakan iuran Rp55 ribu. Dan setiap keluarga dipersilakan menikmati bersama-sama tamunya di masjid sebagai hidangan berbuka puasa. Warga juga bisa request khusus untuk dibawa pulang sekadar dibagikan kepada kerabat mereka yang kebetulan malam itu berkunjung,” terangnya.

Masih menurut Burhan, untuk tahun ini tak kurang dari 160 ekor ayam jago (jantan) yang dipotong khusus untuk kolak ayam. Sejak usia salat Subuh, para pria setempat sudah mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari memotong ayam, membersihkannya, menyiapkan bumbu-bumnya, memasak hingga menyiapkannya untuk dihidangkan kepada para tamu. ”Semua yang mengerjakan harus orang laki-laki. Ini sudah merupakan tradisi sejak zaman para pendahulu dulu, dan hingga sekarang terus dilestarikan,” sambung Burhan lagi.

Menu Buka Tahunan

Usai salah Ashar, hidangan kolak ayam sudah matang dan siap disajikan. ”Agar porsinya rata dan semua tamu masjid dan warga kebagian, maka petugas ta’mir masjid mengemas dalam plastik ukuran seperempat kiloan plus nasi ketan dalam kertas minyak. Keduanya dimasukkan dalam tas kresek dan ditaruh di atas piring plus sendok lengkap dengan dua buah biji kurma dan segelas air minum kemasan.

Menjelang Maghrib, para tamu masjid yang datang khusus ke Desa Gumeno untuk berburu kolak ayam yang sejak siang menunggu, kemudian dipersilakan memasuki masjid. Setiap orang kemudian diberi satu porsi lalu dipersilakan mencari tempat di lantai 2 masjid jami’ Sunan Dalem itu.

Sembari menunggu adzan mahrib sebagai tanda berbuka, para jamaah tersebut melakukan tahlil bersama yang dikhususnya kepada pendiri masjid setempat yang dikenal dengan nama Sunan Dalem. Dan begitu adzan maghrib berkumandang, maka secara serentak jamaah menyantap kolak ayam dan ketan.

”Di sinilah keunikan lain dari menikmati kolak ayam. Di samping rasanya yang memang lezat dan berkhasiat, juga dapat mempererat persaudaraan, dengan kebersamaan seperti ini,” tandas Haji Susanto dari Dewan Masjid Indonesia, yang tampak sangat menikmati sajian dan suasana petang itu.

Alhasil, kolak ayam memang kuliner unik yang menggabungkan unsur rasa dan tradisi. Momentnya juga hanya setahun sekali, yaitu pada malam 23 Ramadan saja. Bahkan menurut Burhan Rosyidi, kolak ayam tidak bisa dimasak di luar hari itu. Sebab, pernah pada suatu lebaran ada yang mencoba membuat dan menyajikan menu kolak ayam, namun rasa dan citarasanya hambar. Oleh karena itu, masyarakat setempat percaya bahwa kolak ayam alias sanggring ini hanya khusus untuk malam telulikuran. Wallahualam. (arohman)