Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Kangen Rasa dengan Bubur Harisah

29 April 2011


Kamis (28/4) bertepatan dengan penanggalan 24 Robiul Akhir 1432 H merupakan Houl atau peringatan wafatnya KH Sholeh Tsani dan para pemangku pondok pesantren Qomaruddin, Sampurnan Bungah Gresik. Serangkaian prosesi mulai dari Lailatul Qiroah, Khotmil Quran, dan Tahlil Akbar dengan dihadiri ribuan santri dan masyarakat dari berbagai daerah.

Hadirnya ribuan pengunjung di kawasan Ponpes di Desa Bungah tersebut, ditangkap sebagai peluang oleh warga setempat untuk membuka warung dadakan dengan berjualan aneka makanan serta minuman. Di antara menu-menu yang disajikan ada satu yang cukup istimewa dan menjadi buruan, yaitu Bubur Harisah.

Bubur Harisah sebenarnya makanan khas Timur Tengah yang terbuat dari daging kambing dengan bumbu dan rempah yang kuat. Menu khas ini oleh penikmatnya dipercaya mampu sebagai makanan penambah vitalitas dan sangat pas dinikmati selagi hangat. Bubur Harisah tak jarang juga dijadikan menu istimewa oleh warga Bungah ketika mereka mengadakan hajatan.

Untuk porsinya, Bubur Harisah dijual berdasarkan jumlah berat, biasanya per kilo dihargai mencapai Rp. 60.000,-. Mahalnya harga jual Bubur Harisah sangat beralasan, karena bahan utamanya adalah daging kambing murni dan proses memasakkan yang mencapai 8 jam lebih. Sebagai pelengkap bahan pembuatannya adalah gandum, tepung beras, tepung ketan, kemudian rempah seperti sereh, keningar, pala, bawang putih, merica, jahe, cengkeh, kapulogo, dan minyak samin. Tak ketinggalan garam juga gula.

Proses pembuatannya, sebenarnya juga termasuk mudah. Pertama biji gandum dicuci lalu direndam selama 2 jam. Perendaman harus maksimal, agar ketika diaduk jadi satu dengan bahan lain gandum bisa meresap bumbu. Setelah itu, baru gandum direbus bersama daging kambing, sereh, keningar dan pala selama hampir 4 jam hingga biji gandum mekar dan daging kambingnya lumer. Selanjutnya dimasukkan tepung beras dan ketan lalu diaduk terus di atas tungku dengan api kecil selama 3 jam hingga tampilannya menjadi bubur dengan ditambahkan garam dan gulan secukupnya, dan diaduk lagi sampai masak dan siap disajikan.

Bubur Harisah aromanya juga sangat khas. Rasanya sangat gurih dengan citarasa kuat pada daging dan gandum. Untuk menetralisir agar tidak terlalu gurih, biasanya disediakan bubuk gula yang bisa dicampur sesuai selera. Pada hari biasa, Bubur Harisah biasanya juga dijual pada hari Kamis, salah satunya di sebelah Poliklinik Mabarrot sebelah Lapangan Bungah. Selain di Bungah, Bubur Harisa bisa juga ditemukan di kawasan Giri Kebomas Gresik Kota, juga biasanya ada di sekitaran kawasan Ampel Surabaya. Sekali-kali Anda perlu mencoba citarasa dan khasiat Bubur Harisah ini. (arohman)

Lontong Cap Gomeh Kamuflase

27 April 2011


Lontong Cak Gomeh memang serupa tapi tak sama dengan Lontong Sayur. Tapi lain halnya bila sedang ngidam, maka asal mirip ya nggak papa deh. Inilah yang saya temui saat santap siang di kantin MIPA Unesa, kampus Ketintang Surabaya.

Ketika jam makan siang mulai beranjak dan perut keroncongn sudah berirama merdu, mau tak mau harus segera diisi agar tak sampai terserang masuk angin dengan mampir ke Depot Bu Kus. Untuk menyiasati selera makan yang beberapa hari ini menurun, membangkitkan gairah makan harus dipadukan dengan menu yang pas dan jarang ditemui sehingga mampu menghadirkan keinginan makan. Dan, setelah menimang-nimang beberapa pilihan, di antaranya Gudeg dan Lontong Cap Go Meh, opsi saya pun jatuh ke yang nomor dua.

Lontong Cap Go Meh kamuflase. Ya, saya katakan demikian karena apa yang tersaji dalam menu siang ini hanyalah irisan lontong dengan sayur lodeh manisa, tahu dadu, plus opor ayam. Padahal biasanya Cap Go Meh asli ada sayur lodeh yang berisi aneka sayur rebung, kacang panjang juga terong, lalu udang, irisan telur rebus, sambal goreng ampela dan sambal poyah yang khas. Tapi, untungnya, rasanya tetap sedap meski cenderung agak manis bagi lidah-lidah Surabaya saya.

Lontong Cap Go Meh sendiri merupakan menu khas orang Tiongkok, yang biasanya disajikan pada hari ke-15 pasca Imlek. Tak ubahnya seperti ketupat dalam tradisi orang-orang Melayu dalam merayakan Lebaran, Lontong Cap Gomeh secara tradisi merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat. Cap Go Meh secara khusus mengimplementasikan bentuk syukur atas hasil panen yang berkecukupan. Dan, kini bagi kita yang di Indonesia, khususnya di Surabaya, Lontong Cap Go Meh telah menjadi bagian dari kuliner universal di negeri ini, dan bisa ditemui kapan saja.

Secara rasa, Lontong Cap Meh Bu Kus ini lumayan enak. Kuahnya cukup banyak sehingga memberikan sensasi sendiri ketika menyantapnya bersama lontongnya yang padat namun lumer. Belum lagi sayurnya yang sedap disuap bersama tahu dan ayam opor yang gurih. Cocok untuk memancing selera bagi yang kehilangan nafsu makan. Jadi, tak ada salahnya menyantap Lontong Cap Go Meh kamuflase ala depot Bu Kus di Kantin MIPA Unesa ini. Silakan coba, pasti ingin nambah.... (arohman)

JFB 2011: Puaskan Selera dengan Kuliner Nusantara

25 April 2011


Untuk pertamakalinya, Bango menghadirkan sederetan kuliner legendaris dari berbagai pelosok Nusantara untuk memuaskan selera pencinta kuliner di Bekasi

Sebagai persinggahan awal bagi rangkaian pelaksanaan Festival Jajanan Bango (FJB) tahun 2011 yang mengangkat tema ”Festival Jajanan Bango – Kuliner Legenda Nusantara”, pada hari Sabtu, 23 April 2011 di Lapangan Serbaguna, Bekasi Timur, para pecinta kuliner Bekasi berkesempatan untuk menikmati kelezatan dan kemeriahan yang senantiasa dihadirkan oleh perayaan kuliner FJB. Tahun ini FJB dipersembahkan sebagai wujud penghargaan bagi para legenda kuliner atas komitmennya dalam melestarikan warisan kuliner Nusantara. Menyusul Bekasi, FJB akan diselenggarakan di kota Sidoarjo, Depok, Kediri, dan Malang.

Acara dibuka dengan upacara yang meriah, diawali dengan paduan suara anak Bina Vokalia yang membawakan lagu-lagu daerah dan nasional yang kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Topeng Betawi. Ibu Okty Damayanti, selaku Foods Director PT Unilever Indonesia Tbk memberikan sambutan dan harapan beliau atas pelaksanaan FJB kali ini. Kemudian, di dalam sambutan dari tuan rumah, yaitu Bapak Drs. R. Arief Suwandi, selaku Kepala Bidang Pariwisata dari Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata Bekasi, disampaikan dukungan dan antusiasme warga Bekasi terhadap perhelatan FJB yang dilangsungkan untuk pertama kalinya kota mereka.

FJB kemudian secara simbolis dibuka secara resmi dengan pemukulan kentongan oleh pihak Unilever dan Pemda Bekasi, yang diikuti dengan prosesi penyerahan tumpeng sebagai bentuk ucap syukur. Seusai acara pembukaan, rekan-rekan media mengikuti tur ke Kampung Bango untuk menyaksikan proses pembuatan kecap Bango, lalu dilanjutkan dengan ‘Tour de Legenda’, perjalanan singkat menyambangi beberapa tenda legenda kuliner Bekasi dan wilayah Nusantara lainnya, seperti Pondok Sate Kelinci H. Zaenal Bekasi, Nasi Pindang Pak Ndut Semarang, Gule Goreng Pak Samin Solo, dan lainnya. Di penghujung acara, suguhan pesta kembang api sukses menyemarakkan malam Minggu penuh selera di kota Bekasi.

Dibuka di Bekasi dengan 45 Kuliner Tradisional

Tahun ini, warga Bekasi tidak perlu bersusah payah berangkat ke Jakarta untuk menikmati kelezatan dan kemeriahan yang selalu lekat dengan pelaksanaan Festival Jajanan Bango (FJB). Hari ini, untuk pertamakalinya FJB menyapa puluhan ribu penggemar kuliner yang berkumpul di Lapangan Serbaguna, Bekasi Timur. Kota ini adalah kota persinggahan pertama dari serangkaian pelaksanaan FJB yang tahun ini hadir di lima kota baru, yaitu Bekasi, Depok, Sidoarjo, Kediri dan Malang.

Dalam sesi upacara pembukaan, Okty Damayanti, selaku Foods Director PT Unilever Indonesia Tbk. menuturkan, “FJB digelar setiap tahun sejak 2005 sebagai wujud konsistensi misi sosial Bango untuk terus mengajak masyarakat luas ikut melestarikan berbagai makanan tradisional Nusantara warisan leluhur. Tahun ini, Bango memberikan kejutan istimewa bagi para penggemar kuliner dengan mengunjungi lima kota baru, didasarkan atas keinginan untuk mendekatkan diri dengan lebih banyak lagi penggemar kuliner Nusantara dan berbagi keceriaan dan kelezatan FJB yang sudah terkenal sebagai agenda tahunan yang selalu dinantikan.”

Tahun ini FJB mengusung tema baru, yaitu “Festival Jajanan Bango – Legenda Kuliner Nusantara”. Bentuk penghargaan yang Bango tujukan kepada begitu banyak sosok legenda yang telah berjasa dalam melestarikan kuliner Nusantara melalui hidangan legendaris yang mereka persembahkan. Para legenda ini memiliki komitmen dan kecintaan yang begitu tinggi terhadap kuliner Nusantara dan telah menjadi mitra setia dan sumber inspirasi bagi Bango untuk terus mempertahankan misi sosialnya.

Bekasi terpilih sebagai salah satu kota pelaksanaan karena kota ini memiliki potensi kuliner yang cukup besar dan banyak diantaranya sudah melegenda. Hal tersebut dibenarkan oleh tamu kehormatan, Bapak Drs. R. Arief Suwardi selaku Kepala Bidang Pariwisata dari Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata kota Bekasi dalam sambutannya, “Tema ‘Legenda Kuliner Nusantara’ memang menarik untuk diangkat, karena Bekasi kaya akan potensi kuliner yang melegenda. Seiring dengan perkembangan kota Bekasi yang tahun ini berulangtahun ke 14, sektor kuliner merupakan salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan yang pesat. Bekasi adalah rumah dari sekian banyak restoran maupun kedai yang menjajakan kuliner legendaris dari berbagai pelosok Nusantara, yang sangat menggugah selera. Terima kasih kepada Bango karena telah memilih Bekasi sebagai salah satu kota persinggahan dalam rangkaian pelaksanaan Festival Jajanan Bango 2011.”

Agus Nugraha selaku Senior Brand Manager Bango menjelaskan, ”Pemilihan sosok legenda kuliner yang hadir di FJB telah melalui proses pencarian dan pertimbangan yang cukup panjang. Mereka adalah sosok-sosok terpilih yang tak kenal lelah dalam melestarikan kuliner Nusantara. Hari ini kami menghadirkan sederetan legenda kuliner dari berbagai wilayah Nusantara, termasuk tentunya dari Bekasi sebagai tuan rumah. Kelezatan dan ketenaran mereka adalah jiwa sekaligus daya tarik utama dari FJB tahun ini.”

Salah seorang legenda kuliner asal Bekasi yang memeriahkan acara ini adalah Pondok Sate Kelinci H. Zaenal, yang sehari-hari berjualan di kawasan Kalimalang. Pondok sate ini sangat tersohor kelezatannya di seantero Bekasi. Kunci suksesnya terletak pada komitmen terhadap kualitas bahan yang digunakan, baik itu daging kelinci yang berumur tepat maupun penggunaan bumbu yang konsisten dari resep turun temurun. Untuk mencapai kesuksesan seperti sekarang, begitu banyak perjuangan yang telah mereka lewati. Pak H. Zaenal mengenang, ”Dulu saya berdagang hanya menggunakan tenda, dan itupun sempat terkena gusur secara paksa, padahal saya baru mulai perlahan-lahan mengumpulkan langganan. Akhirnya saat itu omzet penjualan saya menurun drastis. Tapi saya tidak mau berputus asa, dan tetap yakin bahwa usaha saya bisa tetap berjalan selama ada kemauan. Akhirnya, kami berhasil memiliki tempat permanen dan sampai sekarang pelangganpun semakin banyak berdatangan.” Kini dalam sehari, Pondok Sate Kelinci H. Zaenal bisa melayani puluhan hingga ratusan pelanggan selama jam operasional, jam 11 siang sampai 11 malam.

Lain lagi kisah legenda kuliner asal Semarang, yaitu Nasi Pindang Pak Ndut. Nama usaha yang sungguh unik, terinspirasi dari nama panggilan pendirinya yang memang bertubuh besar. Saat memulai usahanya 35 tahun yang lalu, mereka mengalami masa-masa sulit, sehingga harus menjual berbagai perlengkapan rumah untuk menutup kerugian. Namun, dengan tekad memberi “sangu” untuk anak, Pak Ndut terus berjuang mempertahankan warungnya. Setelah 10 tahun akhirnya usahanya mulai memiliki pelanggan tetap sampai sekarang. Ibu Musyrifah, istri mendiang Pak Ndut berbagi cerita, ”Menu andalan kami adalah Nasi Pindang, dimana nasi dan daging disajikan dengan kuah pindang dan daun so, resepnya saya dapat dari mertua. Saya dan suami mencoba-coba untuk memanfaatkan resep tersebut untuk membuka warung, ternyata banyak yang suka.” Di tengah duka kehilangan suami tercinta tujuh bulan yang lalu, Ibu Musyrifah tetap semangat dan optimis bahwa usahanya dapat terus maju berkat dukungan pelanggan setia yang setiap hari membanjiri warungnya.
Setiap tahunnya, FJB senantiasa melakukan perbaikan dan perkembangan untuk memuaskan seluruh penggemar kuliner yang hadir. Tahun ini, selain lokasi pelaksanaan yang benar-benar baru dan tema yang istimewa, pengunjung juga akan dimanjakan dengan berbagai aktivitas dan hiburan khas FJB yang menarik bagi segala usia.

Selain demo masak di Kampung Bango yang berisikan proses pembuatan kecap Bango yang legendaris, tahun ini ada beberapa fasilitas baru yang tentunya semakin membuat betah pengunjung, seperti Balai Anak. Di tempat ini, para pengunjung dan anak mereka dapat bersantai mencoba aneka permainan tradisional di sela serunya berburu jajanan. Selain itu, ada pula sederetan hiburan seru seperti pagelaran musik tradisional dan juga games interaktif yang siap menemani pengunjung.

”Semoga sederetan legenda kuliner yang kami persembahkan dan juga rangkaian aktivitas yang kami sediakan dalam FJB tahun ini mendapat tempat tersendiri di hati warga Bekasi dan mampu menginspirasi mereka untuk ikut melestarikan warisan kuliner Nusantara. Sampai jumpa bulan depan di kota berikutnya, Sidoarjo!” pungkas Agus.

Bandeng Bakar Rujak Cingur

21 April 2011


Mendengar nama menu ini, sudah pasti anda akan dibuat penasaran. Tidak saja bentuk sajiannya, tapi rasanya so pasti akan membuat anda bertanya-tanya. Sajian unik ini merupakan salah satu kreasi dari Waroeng Bandeng Kapasari yang ada di Republic Food Court Golden City Mall, Surabaya.

Teguh Imam Prayogi (38), pemilik Waroeng Bandeng Kapasari mengatakan, bandeng bakar rujak cingur merupakan perpaduan antara bandeng tanpa duri yang dibakar dengan bumbu rujak cingur yang khas. ”Bumbu rujaknya, sama persis dengan bumbu rujak cingur pada umumnya. Ada kacang, petis, pisang klutuk yang diuleg jadi satu. Yang spesial ini petisnya mas, kami menggunakan petis udang asli Sidoarjo,” papar Teguh setengah berpromosi.
Memang, tampilan Bandeng Bakar Rujak Cingur ini terbilang cukup menawan. Bandeng bakar besar tanpa duri dibelah tengah disajikan dengan lumuran bumbu rujak cingur yang kental. Sebagai pemanis, dilengkapi pula lalapan mentimun dan kemangi. Wow, benar-benar menggoda selera makan.

Begitu menikmati menu ini, anda akan merasakan perpaduan rasa yang khas. Rasa bandeng bakarnya yang lezat dan bebas bau tanah berpadu dengan bumbu rujak cingur dengan rasa petis udang yang kuat. Seporsi bandeng bakar rujak cingur ini terbilang murah. Hanya Rp. 35 ribu per porsi, anda sudah bisa menikmati satu bandeng besar tanpa duri plus nasi putih.

Teguh mengatakan, ide membuat kreasi menu bandeng bakar rujak cingur ini terinspirasi dari makanan khas Surabaya rujak cingur yang sudah melegenda. Setelah melakukan uji resep cukup lama, akhirnya ia menemukan perpaduan yang pas antara olahan bandeng bakar dengan bumbu rujak cingur.

Selain menu baru tersebut, tersedia aneka olahan dari ikan bandeng. Di antaranya, bandeng balado, bandeng bakar madu, bandeng goreng sambel pencit, bakso bandeng, abon bandeng, sate bandeng dan masih banyak lagi. (fr)

Waroeng Bandeng Kapasari
Alamat: Republic Food Court, Golden City, Jl. Abdul Wahab Siamin 2-8 Surabaya
Jam Buka: 10.00 – 22.00
Kisaran Harga: Rp. 12.000 – Rp. 35.000

Bebek Pak Qomar yang Bikin Ketagihan

20 April 2011


Bagi penggemar nasi bebek, barangkali Depot Bebek Pak Qomar bisa menjadi salah satu alternatif kala berburu nasi bebek di Surabaya. Sensasi kelezatan nasi bebek plus sambalnya membuat depot yang berlokasi di Jalan Raya Lontar No 46, Surabaya Barat ini tak pernah sepi pengunjung.

Jika anda berkesempatan berkunjung ke depot ini, anda akan menyaksikan banyaknya pengunjung yang berjubel terutama saat jam-jam makan, baik siang maupun sore. Mereka (para pengunjung) berasal dari berbagai kalangan baik menengah maupun kelas atas. Itu terlihat dari antrean parkir motor dan mobil yang berada di area depot.
Karena itulah, jika anda berkunjung pada jam-jam makan siang, bersiap-siaplah untuk menunggu antrean meja makan. Sebab, depot yang memiliki kapasitas sekitar 40 pengunjung ini kebanyakan sudah penuh. Namun, anda tak perlu khawatir, sambil menunggu antrean, aroma bebek yang sedap akan mengusir kejenuhan menunggu.

Karena banyaknya pengunjung itulah, Nurul Qomar, pemilik Bebek Pak Qomar, mengaku paling sedikit menghabiskan 1.500 porsi nasi bebek setiap hari. Keramaian bebek qomar ini selain lezat, juga didukung dengan harganya yang relatif terjangkau. Seporsi bebek, anda cukup merogoh kocek Rp.10.000. Depot ini buka setiap hari mulai pukul 09.00-18.00 kecuali Jumat.

Direbus dengan Bumbu Spesial

Apa yang menyebabkan Bebek Pak Qomar begitu diminati pelanggan? Mengenai hal ini, Nurul Qomar sedikit membocorkan rahasia dapurnya. Menurut Qomar, ia memiliki resep tersendiri untuk menghilangkan amis yang melekat pada daging bebek, yakni terlebih dahulu direbus dengan racikan bumbu yang spesial. Sehingga saat digoreng akan menimbulkan aroma yang lezat dan nikmat.

Mengenai kelezatan bebek pak qomar, Nur Khoiriyah, salah seorang pengunjung mengakuinya.Perempuan asal Pacet, Mojokerto itu mengaku ketagihan bebek pak qomar lantaran rasanya yang enak banget. “Dagingnya gurih, sambalnya mantep, terus ditambah lagi ada kremesannya. Wah, mantep banget. Kalau nggak percaya, coba sendiri deh,” pungkasnya. (as/adv)


Depot Bebek Pak Qomar
Jl Raya Lontar No 46 Surabaya Telp. (031) 7417540
Jam buka: setiap hari pukul 09.00-18.00, (Kecuali Jumat).
Harga: 10.000 per porsi