Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Pedasnya Sambal Korek Bebek H Selamet Kertosuro

30 August 2011


Hari kedua puluh sembilan puasa berakhir dengan berbuka Bebek H Selamet Cabang Kertosuro yang berada di Jombang. Menu khas bebek goreng dengan sambel koreknya yang begitu pedas itu sebenarnya alterntif saja, sebab semula tujuan saya adalah Ayam Bakar Wong Solo yang ada sederetan dengan resto bebek ini. Namun karena Wong Solo tutup lebih awal dalam rangka libur lebaran, akhirnya saya putuskan makan bebek saja.

Sampai di kawasan Jl. Meredeka sudah memasuki detik-detik adzan maghrib. Tampak dari luar resto sudah penuh oleh mereka yang ingin menuntaskan hasyrat berbuka bersama keluarga dengan bebek. Beruntung sekali saya mendapat meja, sehingga langsung bisa memesan dua porsi dada plus nasi dan es jeruk serta teh manis. Begitu duduk, adzan berkumandang. Aku batalkan puasa dengan menyecap teh manis.

Sembari menunggu pesanan utama datang, pengunjung lain terus merapat. Parkiran di sisi jalan raya yang sudah penuh, masih saja ditampung oleh tukang parkir. Dengan cekatan seorang pemuda berambut agak gondrong memindahi sebagian motor pengunjung ke bagian trotoar sehingga membuka celah lain untuk memuat lebih banyak lagi sepeda yang hendak parkir. Dan, sepertinya dia juga puasa, karena tampak dia bergegas mengambil teh dalam plastik dan meneguknya begitu gema adzan terdengar. Barokallah, semoga puasa kita hari ini diterima oleh-Nya. Amin…

Sekitar sepuluh menit kemudian akhirnya bebek pesanan datang. Ditempatkan di atas piring terpisah, nasi putih tersaji di atas piring lainnya, lalu disertai cobek mini berisi sambal korek berupa ulekan bawang dan cabe yang sudah terlebih dahulu digoreng yang diletakkan di atas mangkuk cuci tangan.

Sambalnya begitu nendang. Menurut saya terlalu pedas sehingga bila dipaksakan pasti gurih dan empuk daging bebeknya akan tenggelam. Apalagi bebeknya sendiri disajikan sangat sangat hot karena langsung diangkat dari penggorengan. Untuk ada lalapan berupa irisan mentimun, kubis, dan kacang panjang serta daun kemangi yang bisa mengalihkan sejenak perhatian liur yang serasa tak tertahankan.

Bebek H Selamet memang bebek goreng biasa. Artinya tidak seperti nasi bebek ala Surabaya atau Madura yang disertai bumbu khusus. Pada bebek H Selamet hanyalah bebek yang digoreng, namun soal rasa tentu tak kalah dengan bebek khas Surabaya. Daging bebek H Selamet serasa empuk dan tidak ngotot ketika digigit. Bahkan hanya diungkit dengan tangan saja juga bisa lepas dari tulang pelekatnya, sehingga semakin nikmat ketika menyantapnya.

Rasa gurihnya juga sangat pas. Maka tak heran bila porsi nasi sepering rasanya ingin tambah lagi. Apalagi bila menyantapnya disertakan sambel koreknya yang begitu menggugah selera makan. Tapi soal harga sepertinya agak lebih mahal dari bebek-bebek kebanyakan. Bila nasi bebek di Surabaya kisaran harganya Rp7.000-9.000, maka bebek H Selamet ini bisa Rp12.000 belum termasuk nasi dan minuman. Jadi, Anda bisa membandingkan sendiri. Selamat merayakan lebaran idul fitri 1432 H. *

Merdu dan Syahdunya Orkes Melayu

21 August 2011


Era tahun 70-an tembang-tembang irama melayu cukup menyita perhatian. Zaman itu terdapat beberapa grup dan penyanyi yang begitu tenar, misalnya saja Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala, OM Awara, OM Purnama dan lain-lain. Sementara biduan/biduanita yang tersohor pada saat itu antara lain ada A Kadir, Ida Laila, S Ahmadi, dan beberapa lagi yang lainnya, yang kalau tidak salah berasal dari Jawa Timur (Surabaya) semua.

Grup musik dan para penyanyi itu tersohor berkat karya-karya emas yang hingga kini begitu melegenda bagi pecinta musik melayu (baca dangdut), misalnya saja lagu Menanti Kekasih oleh A Kadir, Kenangan Masa Lalu-nya Ida Laila serta masih banyak lagi. Termasuk juga lagu Keagungan Tuhan karya A Malik Bz yang hingga kini banyak dilantunkan penyanyi lain ketika bulan Ramadan seperi sekarang ini.

Menjelang bulan puasa kemarin, saya sempat jalan-jalan ke kampung Ample mengantar kerabat yang ingin berziarah ke makam Raden Rahmat. Saya masuk melalui salah satu gang yang langsung menghubungkan ke pintu areal masjid Ampel. Ternyata, dari salah satu rumah di deretan bangunan tua era kolonial itu, saya mendengar lamat lagu-lagu lama itu berkumandang kembali dengan indahnya, yang sepontan mengingatkan saya pada masa-masa kecil ketika hidup di kampung halaman. Ya, saat kanak-kanak dulu, lagu-lagu tersebut begitu akrab di telinga karena kerap diputar keras-keras melalui speaker TOA pada setiap orang punya hajatan, terutama mantenan.


Kini, di tengah berselancar di dunia maya mencari bahan-bahan pekerjaan, saya iseng mampir ke Youtube dan mengetik A Kadir dan Ida Laila, ternyata lagu-lagu kuno tersebut dan beberapa tembang lama tersohor lainnya ada di sana, seperti lagu pop remaja yang dinyanyikan oleh Oma Irama (sekarang Rhoma Irama yang kondang dengan grup rokc dangdut Soneta).

Menyimak kembali tembang-tembang irama melayu lama terasa begitu syahdu. Beriringkan alat musik sederhana berupa akordion, gendang, biola, plus seruling, sang penyanyi mampu mengumandangkan tembang yang syarat makna. Meski syairnya pendek-pendek dan menyerupai sajak, namun pesan yang terkandung di dalamnya menyiratkan pesan-pesan petuah.

Bandingkan dengan musik anak muda zaman sekarang yang begitu penuh ingar bingar. *