Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Alif Gagal Liburan Ke Jogja

23 December 2011


MASA liburan semester ini, Alif tidak mendapat jatah liburan yang pernah dijanjikan ibunya. Maklum nilai rapornya menurun, jadi kesepakatan harus dijalankan. Meski sebenarnya tidak tega, tetapi demi membelajari tentang komitmen, dengan sangat berat hati sang ibu pun tidak menyisakan kursi bagi Alif untuk wisata ke Jogja.

Alif adalah anak yang cerdas. Apa pun yang diinformasikan kepadanya selalu mampu dia cerna dengan baik, termasuk aneka matapelajaran sekolah maupun non-sekolah. Hanya saja, kebiasaanya yang cenderung malas dan semberono, serta obsesinya terhadap kereta api, tanpa dia sadari berakibat kurang baik bagi dirinya sendiri.

Di sekolah, Alif dikenal sebagai anak yang sangat periang dan disukai banyak teman. Kebaikan hatinya bahkan kadang kerap dimanfaatkan teman sekelasnya, misalnya dia mau saja disuruh bantu piket padahal tidak sedang bertugas. Atau bahkan kadang dimintai uang oleh kawan lainnya untuk beli jajan maupun minuman, sementara dia sendiri rela hanya minum air mineral bekal yang dibawanya dari rumah.

Ketika berada di rumah, Alif sangat gemar bermain komputer. Kebiasannya ketika sudah asyik di hadapan komputer adalah membuka internet dan browsing kereta api. Tak heran, pengetahuannya tentang alat transportasi bernama kereta api itu cukup luas. Dari internet, dia mengenal berbagai macam jenis lokomotif dan nama-nama kereta api favoritnya dari masa ke masa. Nah, bila sudah asyik dengan ‘dunianya’ itu, dia paling ogah diganggu. Termasuk ketika adiknya, Olif, merengek minta gantian main game online di komputer yang sama, pasti dia sewot duluan.

Setiap hari, kecuali hari libur, Alif mendapat jatah tidak kurang 2 jam waktu untuk berinternet. Biasanya rutinitas browsing-browsing itu dilakukan usai belajar dan les tambahan di rumah. Selama dua jam itu, Alif akan asyik masuk ke dunia kereta apinya. Melalui hobinya menggali info tentang kereta api itu pula, dia pun masuk sebagai anggota kominitas kereta api di dunia maya. Bahkan namanya pun diembel-embelinya dengan “SiRailfans Sejatie”.

Melalui kegemarannya mengoleksi info-info tentang kereta itu, ada manfaat yang menyertainya tanpa dia sadari, yaitu Alif mampu mengoperasikan Photoshop, softwere yang salah satu fungsinya untuk mengolah gambar di komputer. Awalnya dia kurang tertarik dengan Photoshop tersebut. Tapi, begitu bermaksud mempercantik dan mengolah gambar-gambar kereta sesuai dengan maksud hatinya, maka mulai saat itulah dia minta diajari bagaimana cara mengoperasikan photoshop. Dan hebatnya, dia bisa. Makanya, sejak awal dikatakan bahwa Alif itu memang cerdas. Tapi mengapa kok semester ini nilai turun…? Nah, ini yang perlu dibicarakan sekarang.

Menurut analisis sementara, perkembangan Alif saat ini kurang berimbang. Artinya, obsesinya terlalu besar untuk bisa seperti teman-teman sepermainannya. Padahal, temannya berasal dari banyak latar belakang. Ada teman yang berasal dari sekolah tetangga, teman dari gang sebelah, bahkan ada pula teman yang dari kampung sebelah. Usia teman-temannya pun bervariasi. Ada yang sebaya, umurnya lebih muda atau bahkan lebih tua darinya. Kegemaran sang teman pun pasti juga tidak sama. Ada yang suka main bola, bersepeda, dan ada pula yang senang malin PS saja. Jadi, itulah yang menjadikan Alif ini ingin serba bisa. Mampu mengerjakan dan menjalankan apa yang teman-teman sepermainannya lakukan.

Analisis kedua, dalam melakukan sesuatu Alif cenderung lambat. Bukan karena dia tidak bisa, tetapi lebih karena dia kurang konsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Mungkin juga itu bisa terjadi karena selama ini dia selalu memperoleh bantuan dari kedua orang tua dan pembantunya di rumah. Bahkan hal-hal sepele seperti makan dan mandi saja, Alif harus minta bantuan, misalnya minta disuapi atau dimandikan. Padahal usianya menjelang 10 tahun. Sementara adiknya, Olif yang baru duduk di bangku TK selalu tidak mau dibantu dalam melakukan segala sesuatu.

Analisis ketiga, konsentrasi Alif kurang sempurna. Itu bisa dilihat dari hasil pekerjaan-pekerjaannya selama ini. Hasil pekerjaannya kurang signifikan dengan capaian sebenarnya yang dia mampu. Itu lebih pada dia tidak tuntas dalam memahami soal, apalagi dia malas membaca tuntas setiap bacaan. Kecenderungannya dia langsung ingin to the point, atau langsung menjawab tanpa melakukan analisa, sehingga jawaban-jawabannya pun spekulatif.

Analisis keempat, belakangan keterbukaannya sebagai anak juga berkurang. Dia sepertinya lebih menyimpan masalah yang dia hadapi. Dalam beberapa kasus, ketika tugas dari gurunya tidak bisa dia kerjakan, atau bahkan pada saat mendapat nilai jelek, dia tak langsung membukanya kepada orang tua. Malah coba-coba untuk disembunyikan. Mungkin dia punya alasan saat melakukan itu, misalnya saja takut dimarahi.

Simpulannya, Alif dan orang tuanya harus sama-sama membuka diri dan introspeksi untuk memperbaiki diri agar bisa bersama-sama berwisata ke Jogya atau tempat lainnya pada semester depan. (kang abu)

Ibu Tua Yang Pikun dan Tuli

22 December 2011


BANYAK kisah dan cerita tentang hari ibu. Salah satunya adalah kisah nyata berikut ini. Yaitu kisah tentang seorang ibu tua yang telah mengidap pikun dan tuli tapi mampu mengingat kembali.

Wanita renta itu usianya sekitar 80 tahun. Wajah dan kulit tubunya sudah amat keriput, bahkan bisa dikatakan peot, karena hampir semua giginya telah tanggal sehingga tak menyisakan keanggunan sama sekali ketika dipandang. Semakin lengkap keuzurannya, dengan sisa rambutnya yang tak seberapa dan semuanya sudah berwarna putih keperakan.

Setiap hari wanita tua itu hidup di rumah peninggalan almarhum suaminya yang pensiunan PNS kelas rendahan. Di sisa umurnya ini praktis dia bergantung dari cucunya yang juga tinggal bersamanya. Sebenarnya wanita tersebut mempunyai tiga orang anak; dua perempan dan satu laki-laki. Namun, kini hanya tinggal anak tertuanya, seorang perempuan berusia 60-an. Sementara dua anak lainnya, putra keduanya yang seorang pria telah meninggal pertengahan Ramadhan (1432) lalu saat umroh, dan putri bungsunya pun mendahuluinya menjelang tutup tahun (2011) ini, karena kecelakaan di jalan saat hendak menjenguk sang ibu tercintanya yang telah renta dan tak bisa ke mana-mana.

Wanita itu benar-benar telah pikun. Karena kepikunannya itu pula sampai dia tak lagi mengenali anak cucunya sendiri. Bahkan, tatkala sang putra meninggal di tanah suci, salah seorang cucunya mengabarinya dengan sangat hati-hati, supaya dia tidak kaget. Namun, dengan entengnya wanita itu menanggapi. “Siapa yang kamu kabarkan meninggal itu? Orang mana? Anaknya siapa?”

Mengetahui sang nenek tak mampu mencerna kabar duka yang disampaikannya, cucu ini pun menjawabnya dengan bijak. Tanpa menyebutkan lagi bahwa ayahnya telah pergi untuk selama-lamanya, sang cucu membisikkan kalimat agak keras di dekat telinga neneknya yang ternyata juga tuli tersebut. “Ya, sampeyan yang sabar saja. Doakan saja, semoga segala dosanya diampuni Allah SWT.” Kalimat itu pun ditanggapi dengan sunggingan senyum saja oleh sang nenek.

Waktu terus bergulir. Selang sebulan berikutnya, giliran ada kabar duka lagi. Kali ini yang meninggal adalah adik kandung sang nenek pada usianya yang hamper 70 tahun. Adik yang sangat menyayanginya, yang setiap minggu pasti menjenguknya. Namun sekali lagi, kepikunannya menghalau rasa duka pada hati dan jiwanya. Dia seakan tak mengenal sama sekali siapa orang yang meninggal itu, yang sejatinya adalah adiknya sendiri.

Tak lama setelah itu, hampir dalam rentang waktu yang sama, usai empat puluh hari peringatan wafatnya sang adik. Nenek ini kembali mendapat kabar duka. Kini giliran putri bungsunya yang dipanggil sang khaliq dalam usia 45 tahun. Awalnya, ketika mendapat informasi terjadi kecelakaan yang menewaskan anak ketiganya ini, wanita tua itu juga menanggapinya biasa saja. Maklum sudah pikun, jadi seakan dia lupa sama sekali tentang siapa-siapa saja anak, cucu, dan keluarganya.

Namun sesuatu yang luar biasa terjadi. Pada hari ketujuh meninggalnya sang putri, tiba-tiba cucu-cucu wanita tua itu tersentak. Seakan ada yang membisiki sang nenek. Tiba-tiba saja wanita tua menanyakan kabar anak perempuannya yang meninggal karena kecelakaan tujuh hari lalu. Sontak dia menangis sekeras-kerasnya dengan suara pilu yang menyayat. Seakan-akan dia dibukakan ingatannya kembali oleh Allah SWT tentang anak petempuannya yang hampir setiap dua hari sekali menjenguknya dan membawakannya beberapa bungkus jajan pasar kesukaannya itu.

“Ya Allah… anakku telah meninggal. Anakku telah mati… Anakku telah kau ambil….” Begitu kalimat yang berulang-ulang terucap lewat paraunya suara bercampur tangisan wanita tua yang pikun dan tuli itu.

Dari sepenggal cerita ini menunjukkan, betapa kasih sayang ibu itu sangat luar biasa. Cinta dan kasihnya tak kan pernah putus sepanjang masa. Bahkan pada seorang wanita renta yang telah pikun dan tuli ini pun masih mampu menyisakan potongan-potongan memori tentang anak yang sejatinya dicintainya. Anak perempuan yang selalu mencoba berbakti kepadanya, meski Tuhan ternyata lebih dulu memanggilnya.

Sungguh bahagianya kita yang masih mampu menjumpai ibu kita dengan keadaan sehat. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepadamu, Ibu…. (kang abu)

Ingin Menjadi Penyiar

21 December 2011


SEJAK kecil aku paling suka mendengarkan radio. Kebiasaan itu bisa jadi meniru kesukaan bapak yang memang amat gemar menikmati siaran radio, khususnya siaran berita berbahasa Indonesia BBC London. Biasanya, bapak mendengarkan radio sambil rebahan di tempat tidur. Maklum siaran berita-berita BBC yang zaman itu hanya bisa dipantau melalui gelombang pendek SW mengudara pada pukul 5 pagi atau pukul 18 petang. Masih ingat benar, pada era itu tengah seru-serunya perang Iran-Iraq juga gempitanya kejuaraan sepak bola dunia di Mexico. Saya selalu mencuri dengar info-info dari radio merek Philips seukuran kotak songkok khas Gresik itu, saat disetel bapak.

Bapak yang hanyalah seorang buruh penambang batu di gunung padas milik juragan di desa kami, rutinitasnya sangat terbatas. Pagi sekitar pukul 06.30 berangkat ke bidang garapannya, lalu balik ke rumah menjelang dhuhur untuk makan siang sebelum kemudian kembali lagi meneruskan garapannya, dan baru pulang pukul 16.30 jelang maghrib.

Usai salat maghrib, aktivitasnya sudah tidak ada lagi, kecuali hanya istirahat di balai-balai (tempat tidur dari bambu) yang ada di ruang depan rumah sembari menyetel radio kesayangannya. Bapak yang menurut ceritanya tidak tamat SD, kadang hanya sesekali memperhatikanku yang belajar ditemani lampu minyak. Ketika itu belum ada listrik. Jadi benar saja, bila malam menjelang hiburan satu-satunya yang menarik tak lain hanyalah radio itu.

Kebiasaan mendengar radio ternyata benar-benar membuatku keranjingan. Dari sekadar turut mendengarkan siaran berita BBC, lama-lama aku kerap meminjam radio Philips itu untuk kunikmati sendiri. Pertama sekali aku senang mendengarkan serial Sanggar Cerita yang biasanya diputar salah satu radio swasta setiap hari minggu pagi. Pagi hari adalah waktu yang pas untuk meminjam radio bapak, karena jam-jam tersebut sedang ditinggal bekerja, sementara aku sendiri masih di rumah, karena sekolahku siang hari.

Kebiasaan mendengar radioku semakin tak terkendali, sehingga kemana-mana aku tak bisa lepas dari radio, termasuk ketika harus mengembalakan kambing ke ladang kosong di luar desa bersama teman-teman sebaya. Kali ini bapak membelikanku sebuah radio yang ukurannya lebih kecil dari radio pertama kami. Sebuah radio merek National yang dilengkapi tali multifungsi sehingga semakin memudahkanku menentengnya kema-mana. Cukup digantungkan saja dileher. Tak heran baterainya tak sampai seminggu sudah harus minta diganti, karena radio tidak pernah mati. Ya, hampir di setiap jam aku punya acara favorit di radio-radio tertentu. Misalnya saja radio Cakrawala yang menyajikan serial drama radio Pelangi di Atas Singasari. Lalu radio Carollina yang menyiarkan Tutur Tinular, radio RRI Surabaya dengan Butir-Butir Pasir di Laut-nya, radio Merdeka dengan drama Misteri Gunung Merapi, drama Ibuku Malang Ibuku Tersayang di radio Mercury, dan lawakan Triborolo di radio Suzana. Itu semua merupakan acara favoritku sepanjang SD-SMP. Tentunya selain acara ludruk Sidik CS yang banyak diputar di radio amatir (julukan radio swasta zaman dulu).

Begitu memasuki bangku SMA acara-acara favoritku mulai bergeser ke radio-radio anak muda. Awal tahun 90-an gelombang radio mengalami kemajuan dengan munculnya radio FM dengan format acara yang kian menarik, khususnya radio-radio anak muda, sebut saja radio EBS. Radio ini begitu menginspirasiku untuk bisa menjadi penyiar. Karena sepertinya sangat enak dan membanggakan menjadi penyiar radio. Bukan karena gajinya tinggi, tetapi karena banyak fans yang mengidolakan penyiar tertentu. Ya, banyak teman-teman sangat mengagung-agungkan penyiar radio. Mereka sangat terpikat oleh merdunya suara dan rayuan mautnya, meski tak pernah jumpa darat atau bersemuka langsung. Lucu memang…!

Dengan banyak mendengar penyiar-penyiar top saat itu, akhirnya aku dapat menirukan beberapa gaya penyiar. Bahkan saking ngefans-nya pada penyiar tertentu aku kerap berceloteh ala penyiar tanpa sadar, sehingga dianggap unik oleh orang-orang yang memperhatikanku. Alhasil, akhirnya aku pun terpincut untuk bisa menjadi seorang penyiar.

Seingatku, meski waktu itu belum lulus SMA aku sudah beberapa kali memasukkan lamaran ke beberapa radio favoritku. Namun semuanya tidak ada yang berbalas. Baru setelah aku kuliah di IKIP Surabaya, kalau tidak salah saat awal-awal semester IV ada lowongan diumumkan di radio. Yang pertama lowongan di Radio Suzana dan yang kedua di Radio Rajawali. Keduanya merupakan radio top di Surabaya pada masa itu.

Aku memasukkan lamaran ke Radio Suzana, saat itu aku juga berkesempatan untuk kali pertama bisa bertemu dengan penyiar idolaku, yaitu Bung Victoria dan Bung Dino. Bung Dino yang merupakan penyiar Panorama Pagi dengan pembacaan artikel-artikel pengetahua-nya, waktu itu dialah yang langsung mengetesku membaca artikel seperti yang biasa dia lakukan. Namun sampai di situ saja. Setelah itu tidak ada kabar untuk keberlanjutannya. Beda halnya dengan lamaran yang ke radio Rajawali. Aku dipanggil dan harus melakoni berbagai penyaringan dengan pesaing yang jumlahnya puluah orang dari berbagai latar belakang pendidikan. Bahkan ada yang sudah sarjana dari kampus ternama. Awalnya sih aku segan juga. Sempat grogi menghadapi persaingan dengan mereka. Namun karena aku sudah niat bulat ingin bisa menjadi penyiar maka terabaikanlah semua keraguan tersebut.

Proses menjadi penyiar akhirnya dimulai. Aku dapat melewati tes awal dan terpilih menjadi 10 besar sampai kemudian menjadi 5 besar. Dengan masuk 5 besar ini, kemudian aku harus mengikuti training selama 3 bulan penuh. Aku dengan antusias mengikuti training tersebut yang kujalani setiap pulang kuliah. Setiap hari aku harus menyisihkan dua jam untuk masuk ruangan rekaman sebelum kemudian nanti ditentukan cocok dengan karakter acara tertentu yang harus aku bawakan di acara on air yang sesunggunya. Selama training ini aku diberi uang transport Rp. 60 ribu per bulan. Itu merupakan uang pertama dari jerih payahku bekerja sendiri di kota orang. Uang yang lebih besar Rp. 10 ribu dari bekal jatah bulanan dari bapak di kampung untuk hidup kuliah di Surabaya.

Akhirnya, selama 3 bulan aku pun harus bekerja keras. Kuliah yang dalam pertengahan perjalanan aku niatkan jangan sampai rontok. Maka sebisa-bisanya aku tak boleh meninggalkan kuliah. Biasanya kuliah berlangsung tak sampai pukul 13 siang. Paling mentok biasanya sampai pukul 14.00 WIB.

Usai perkuliahan, biasanya aku langsung bergegas menuju terminal Joyoboyo dengan jalan kaki dari kampus Ketintang, lalu naik lyn F menuju kawasan Kusuma Bangsa untuk menjalani training di Radio Rajawali di Jl. Kacapiring Surabaya. Begitu terus aku jalani sampai tuntas 3 bulan.

Dari informasi Direktur Program Radio Rajawali saat itu, Bapak Ketut Wawanda, kabar diterima atau tidaknya menjadi penyiar nanti akan diinformasikan melalui surat. Aku bingung. Lewat surat? Aku alamatkan ke mana ya…? Sementara aku sendiri saat itu nebeng ‘ngekos’ di HMJ karena tidak mampu kos. Telepon apa lagi…! Akhirnya aku pasrah saja. Kalau Tuhan menghendakiku yang berhasil terpilih menjadi penyiar di radio itu pasti ada saja nanti jalannya. Meski aku juga tetap waswas karena memang sangat berharap bisa menjadi penyiar.

Suatu siang, saat rehat dari perkuliahan, ketika sedang santai di teras gedung G3, tiba-tiba ada gadis manis berparas ayu datang menghampiriku dan menyapa. “Mas, ini panggilanmu. Kamu sama aku dan mbak Vina yang diterima jadi penyiar.” Rupanya Dina, temanku semasa training telah mendapat panggilan dan telah melakukan wawancara akhir ke studio. Dengan niat baiknya, dia yang mengetahui surat panggilanku belum dikirim karena tak ada alamat, berinisiatif mampir ke kampusku dengan membawakan surat panggilanku. Terima kasih Tuhan, ternyata doaku terkabulkan. Aku akan bisa menjadi penyiar… terima kasih juga Dina, karena kalau sampai kau tidak mengantar surat panggilan itu, tentu aku tak kan pernah bisa menjadi penyiar.

Ironisnya, saat kali pertama aku harus memenuhi panggilan kerja menjadi penyiar itu, aku sempat sedikit berbohong kepada almarhum Pak Leo pengampuh matakuliah Analisis Wacana. Caranya dengan meminta surat keterangan dokter yang menyatakan aku sakit dan tidak bisa mengikuti UTS. Mohon maaf Pak Leo. Itu aku lakukan demi menangkap secercah kesempatan, bukan bermaksud lain.

Sebulan setelah menjadi penyiar, aku pun untuk kali pertama menerima gaji. Saat itu aku menerima amplop berisi uang tunai sebesar Rp. 175.000. Itu merupakan gaji penyiar part timer sepertiku awal tahun 1996. Kalau tidak salah per jamnya dihonor Rp. 2.500.
Begitu terima gaji, yang kutuju saat itu adalah JMP (Jembatan Merah Plaza). Waktu itu aku seperti biasa setiap bulan pasti pulang kampung. Dan kebetulan terminalnya masih di Jembatan Merah, dalam masa transisi akan dipindah ke Osowilangun. Aku pulang kampung sambil menenteng sebuah tape compo yang harganya tak sampai Rp. 100 ribu, yang selama puluhan tahun aku impi-impikan. Mimpi seorang anak desa yang akhirnya mampu diraih lewat jerih payah sendiri. Sungguh sangat mengesankan.

Kini, aku lebih mensyukuri apa yang telah aku terima dan miliki. Tanpa awal-awal yang pahit itu, tentu tak akan ada peluang yang mengantarkanku menjadi seperti sekarang ini. Semoga Allah SWT meridhoiku. Amin… (kang abu)

Wader & Patin Party

09 December 2011


WADER hanyalah ikan kali yang di daerah-daerah pedesaan jarang dimanfaatkan, atau paling-paling dimanfaatkan untuk tambahan makanan itik atau diolah menjadi kerupuk. Lain ceritanya bila ikan wader ini sampai di tangan mereka yang berjiwa entrepreneur, tak ayal jadilah wader --yang kurang berguna-- itu menjadi menu istimewa ala Kedai Kincir.

Tak percaya? Lihat saja antrean setiap jam makan di Warung Wader Kedai Kincir di Jl Ketintang Permai (pintu keluar SMP Al-Hikmah). Meski tempatnya persis bersebalahan dengan rel dan perlintasan kereta api tak berpalang pintu, juga tepat di pinggiran kali, namun daya tariknya tak mengusik mereka yang sudah ketagihan gurihnya wader goreng ini. Hidangan sederhana yang hanya terdiri dari wader goreng plus sambel dan lalapan juga nasi (bisa pilih nasi putih, nasi jagung, atau nasi gurih) betul-betul menyita perhatian, khususnya bagi mereka yang gemar berkelana kuliner. Bahkan di komunitas alumni Unesa (Ganesis) mereka kerap mengistilahkan “wader party” untuk acara traktiran makan bareng di sana.

Soal rasa wadernya harus diakui memang cukup gurih dan renyah. Hanya saja, bila agak sore selepas jam makan siang sambelnya kurang afdol, sepertinya sudah ‘kanginan’, sehingga kurang nikmat. Tapi tetap saja mampu mengaduk dan memancing selera bagi mereka yang khusus ke sana untuk makan besar.

Bagaimana dengan menu lainnya? Ya, ini dia yang saya maksud. Mungkin untuk menciptakan variasi atau tidak melulu terkungkung dengan wader, bisalah Anda memilih Patin Bakar. Tongkrongan bakaran ikan mirip lele yang besar ini sangat menggiurkan untuk disantap disertai sambel dan nasi panas. Daging patin yang lembut dan tebal benar-benar lumer di lidah saat disantap bareng nasi dan sambal. Tak percaya juga? Tanyakan kepada Cak Basyir dan Mas Sha juga Mbak Fafi yang kemarin (8/11) ditraktir Mbak Ida di sana. Kebetulan saya mengamati betapa mereka asyik menikmati sajian pilihan tersebut sembari menikmati segarnya es dawet.

Biasanya sih, ketika makan siang di sana, saya memilih meja di pinggiran yang menghadap kali. Sekalian makan, bisa juga menikmati panorama pintu air yang terus menyuarakan kericik air. Mungkin karena itu pula depot pinggir kali ini dinamakan Kedai Kincir, karena bersebelahan dengan pintu air yang bentuknya menyerupai kincir.
Oh ya… Hajatan Mbak Ida kemarin merupakan acara dadakan. Mestinya mbak Ida ingin berburu Pecel Lele depot Sederhana di stasiun Gubeng. namun berhubung acaranya bersamaan dengan rapat panitia Kumpuis, akhirnya acara traktiran itu dialihkan ke lokasi yang dekat dengan kampus, yaitu Wader Kedai Kincir.

Seandainya kemarin kami hadir lebih awal, mungkin masih kebagian menu-menu lain yang cukup menggoda selera. Namun apalah daya, kami harus puas dengan sajian pesta wader dan patin bakar diiringi dengan mbok nom alias es sinom mapun es jeruk dan teh manis.
Terima kasih Mbak Ida atas traktirannya…. Kalau masih berkenan pecel lele Stasiun Gubeng, lain waktu bisa diagendakan ulang. Sepertinya mbak Ida bene-bener ngidam nih….!? (hehehe) (AROHMAN)

Wajah Baru Koran Surya

07 December 2011


PAGI ini, Rabu (7/1), ada sesuatu yang berbeda dari penampilan koran SURYA. Harian pagi di bawah managemen Tribun (Kompas Gramedia) yang terbit dari Surabaya untuk kawasan Jawa Timur ini hadir dengan wajah baru. Unsur baru itu begitu terasa dari penampakan logo baru yang terkesan lebih dinamis dan elegan. Sepertinya koran ini ingin menyasar ke segmen lebih elite atau kelas menengah, meninggalkan konotasi koran kriminal sebagaimana logo lamanya –yang memang dulu berwarna merah.

Informasi lifestyle sepertinya bakal menjadi andalan koran, yang seingat saya lahirnya hampir bersamaan dengan mengudaranya televisi swasta pertama di Surabaya (SCTV). Agaknya, koran SURYA ini masih terus berupaya menemukan jati dirinya dan berusaha keras mendekatkan diri kepada pembaca dengan pergantian wajah untuk yang kesekian kalinya ini dalam rentang waktu tak lebih dari 3 tahun. Padahal, rival sekotanya, RADAR SURABAYA (Jawa Pos Grup) masih eksis dengan performanya, karena lebih tepat dalam memilih konsep ketika melakukan perubahan wajah beberapa tahun lalu.

Tidak ada kata ‘telat’ dalam melakukan perubahan dalam bisnis media yang sengit saat ini. Apa yang dilakukan SURYA sudah merupakan tuntutan tren media agar bisa tetap eksis. Apalagi persaingan memperebutkan pasar semakin sempit dengan kemunculan koran baru seperti BERITA METRO maupun koran lama yang lebih dulu eksis seperti SURABAYA PAGI maupun SURABAYA POST. Belum lagi pesaing lainnya; MEMORANDUM, HARIAN BANGSA, dan DUTA MASYARAKAT bahkan JAWA POS yang selalu harus diperhitungkan. Jadi, mau tidak mau perubahan perlu dilakukan agar tetap mampu memenuhi harapan pembaca, dan utamanya harapan managemen.

Bukan hanya tampilan edisi cetaknya yang berubah pada harian SURYA, versi online-nya (www.surya.co.id) pun juga tampil lebih ciamik. Rubrikasi baru sebagai andalan SURYA antara lain Tunjungan Life dan Super Ball sebagaimana promo mereka di bandu-bandu jalan di atas raya Panglima Sudirman, Basuki Rahmat (depan Plaza Tunjungan), dan beberapa kawasan lainnya, diharapkan bisa berdampak signifikan terhadap kemajuan SURYA ke depan. Apalagi bandrol ecerannya hanya Rp. 1.000 per eksemplarnya. Kiranya recehan sekecil itu cukup murah untuk mengganti ongkos kirim cetakan setebal 20 halaman itu. Soal bobot kontennya, silakan simak sendiri edisi SURYA terbaru.

Semoga perwajahan baru koran SURYA ini lebih menggairahkan bisnis persuratkabaran media cetak di Surabaya, Jawa Timur, dan Indonesia. *

Awas, Pecel Lele Bikin Lupa Mertua!

06 December 2011


PECEL Lele merupakan salah satu menu sederhana yang nikmatnya bukan alang kepalang. Meski sajiannya hanya terdiri atas ikan lele goreng dengan sambal tomat sebagai pendamping nasi punel hangat, namun sudah langsung mengantar berjuta rasa, sampai-sampai kerap dihiperbolakan –bikin lupa sama mertua (hikkk!).

Sebenarnya sudah cukup lama saya tak menyantap Pecel Lele di depot ini. Nah, kebetulan ketika mengantar si kecil ikutan lomba mewarnai di kawasan Kusuma Bangsa akhir pekan lalu, pulangnya kami mampir ke Depot Sederhana yang tempatnya persis di pojokan sebelah kiri Stasiun Gubeng.

Depot Sederhana sesungguhnya tak asing bagi saya, karena di depot inilah saya mulai mengenal tempat makan enak. Ya, tempat makan ini merupakan jujukan saya semasa masih bekerja sebagai penyiar radio di Jalan Kacapiring.

Era 97-an depot ini sudah sangat ramai. Sama seperti ketika kemarin saya kembali. Suasana dan penataan bangku mejanya pun tak berubah. Hanya ada beberapa tambahan pemanis di beberapa sudut. Bukanya pun full 24 jam non-stop. Menu-menunya juga cukup banyak macamnya. Yang menjadi favorit pengunjung di antaranya Pecel Lele tentunya. Menu lainnya bagaimana? Tentu juga sangat digemari, seperti Penyet Ayam, Cap Jai, Nasi Goreng, Krengsengan, Rawon, maupun Sayur Asem. Semuanya memiliki rasa yang khas dan sangat kental dengan rasa lidah orang Surabaya. Bahkan tamu-tamu Hotel Sahid yang persis bersebalahan tembok dengan depot ini, tak sedikit yang ternyata nge-fans dengan menu-menu Depot Sederhana ini.

Bicara soal menu Pecel Lele Depot Sederhana Gubeng Pojok ini, rasa dan aromanya begitu maknyusss. Lelenya disajikan dalam bentuk gorengan kering sehingga dimakan seduri-durinya pun tak terasa. Dua ekor lele goreng disajikan di atas cobek penuh sambal tomat yang nendang, dengan lalapan irisan mentimun dan daun kemangi serta perasan air jeruk nipis, hemm langsung membangkitkan selera dan mengundang liur. Apalagi nasinya juga anget-anget kuku, so pasti satu porsi dijamin ingin nambah lagi. Untungnya saya langsung pesan dua porsi, jadi tak perlu minta tambah ke pelayannya yang ramah-ramah.

Nah, untuk menutup santap siang menu Pecel Lele hari itu, saya memilih minuman yang segar dan menyehatkan, yaitu Es Tomat. Bila di tempat lain biasanya tomat dijadikan minuman dengan dijus, tetapi di Depot Sederhana ini Es Tomat terbuat dari buah tomat merah ranum yang diiris menjadi beberapa bagian lalu dimasukkan gelas dan disiram sirup gula, baru ditimpali es batu. Puas sudah rasanya mampu melahap Pecel Lele dan Es Tomat setelah sekian tahun tak lagi mampir ke Depot Sederhana. Meski namanya Depot Sederhana, tapi soal rasa benar-benar tak mengalahkan citarasa resto hotel bintang lima. Nggak percaya…? Silakan mampir kalau ada waktu dan mencobanya sendiri. Bila butuh teman saya pun bersedia menjadi teman makan Anda. Bagaimana… (hehehe jangan ragu kontak saya ya...).