Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Pelajaran Hidup Sesungguhnya

28 January 2012


AKHIR Januari ini sebuah buku inspiratif lahir dari tangan dingin seorang pemerhati dan praktisi pendidikan. Pengalaman dan aksi nyata yang telah dilakukannya sebagai upaya untuk menjadikan pendidikan di Indonesia lebih berkualitas tersusun apik dalam tulisan-tulisan yang terangkum dalam buku “Catatan Waktu (Cawat); Tuhan Sedang Sibuk” ini. Bukan rana pendidikan semata yang diabadikan dalam tulisan yang semula diarsip rapi di blognya itu, ada beberapa tema lain yang sangat dikuasinya, seperti isu masalah lingkungan, keagamaan, juga isu sosial dan budaya.

Gaya tulisannya yang mengalir tersaji begitu simple namun berbobot. Topik yang diangkat pun sebenarnya permasalahan-permasalahan keseharian, ringan tapi memiliki point khusus untuk disampaikan kepada pembacanya. Sama sekali tak ada kalimat mubazir dari uraian yang disampaikan. Dari total 128 judul tulisan yang terbagi dalam 3 bagian atau bab; Catatan Pertama: Perjalanan Mendidik Bangsa, Catatan Kedua: Teropong Waktu, dan Catatan Ketiga: Menyeka Keringat Kehidupan kesemuanya bermuara pada pembelajaran hidup tanpa kesan menggurui sama sekali.

Tak salah bila kemudian Gatot Prio Utomo (Aktivis NU Circle) yang memberikan sambutan pengantar buku ini mengungkapkan bahwa kesejatian dan orisinalitas goresan di buku ini justru lebih layak untuk dikutip dan dijadikan referensi bagi tulisan-tulisan lainnya. Setiap goresannya tidak hanya melulu mengungkapkan hal-hal ideal yang biasa dilontarkan banyak motivator, tetapi juga menyerap berbagai pelajaran sukses dan gagal seperti layaknya hidup manusia. Menurutnya, sang penulis berani masuk ke tengah pusaran dan terlarut sehingga mampu mengapungkan saripati kehidupan dari dasarnya.

Ada banyak pengalaman hidup yang bisa dijadikan pelajaran dari tulisan-tulisan Ahmad Rizali dalam buku ini. Pelajaran yang berasal dari pahitnya kegagalan diungkapkan tanpa ditutup-tutupi oleh Nanang, —panggilan Ahmad Rizali—dan justru menjadi sebuah cara instrospeksi mahadahsyat. Jelas sekali, bagaimana Nanang mengisahkan bagaimana hatinya sebenarnya tercabik-cabik menghadapi ‘kenakalan’ putranya hingga harus tinggal kelas. Padahal dirinya dikenal sebagai aktivisi di dunia pendidikan. Di sana, Nanang bukanlah marah atau bisa jadi menghajar sang anak karena malu kepada keluarga besarnya yang diceritakan sangat berhasil dalam pendidikan. Toh, Nanang malah mendukung dan memberikan jalan terlapang bagi anaknya untuk menentukan jalan hidup atau sekolahnya sendiri hingga akhirnya mengantarnya masuk ke perguruan tinggai ternama di negeri ini. Semua itu dipaparkan Nanang dalam tulisan berjudul “Ketika Anakku Tidak Naik Kelas”.

Pada sisi lain, Nanang juga sangat piawai mengajak pembacanya bersedia untuk peduli dan meneladari orang lain. Contohnya dia lakukan terhadap seorang guru Fisika dari sebuah kota Malang dalam tulisan “Pak Tjandra sang Guru Sejati”. Pak Tjandra yang bermodalkan barang-barang bekas yang disulap menjadi alat peraga luar biasa untuk labolatorium fisika, diantarkan Nanang menjadi selebritis pendidikan hingga mampu menggapai impian sang guru tersebut merealisasikan impian-impiannya.

Dalam urusan agama, Nanang termasuk sangat relegius. Hal itu bisa dilihat dari deretan tulisan yang sangat menginspirasi di buku ini. Walaupun sebenarnya tulisannya diambil dari hal-hal remeh dalam kehidupan beragamanya, tetap secara dalam dia memberikan pembelajaran bagaimana cara menjalankan ibadah yang ikhlas. Dia sama sekali tak mempersoalan pertentangan bagaimana Salat Tarawih yang dilakukannya, pengalaman-pengalaman ritual puasa Ramadan semasa kecil di pedalaman Kalimantan hingga di Glasgow, Skotlandia. Dan masih banyak lagi catatan relegius penulis, yang kesemuanya berasal dari pengalaman beragama yang sangat mengasyikkan untuk diikuti.

Buku ini komplet sekali sebagai referensi ketika pembaca menginginkan suatu motivasi hidup. Pelajaran-pelajaran hidup dalam “Cawat; Tuhan Sedang Sibuk” ini sangat realistis dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mungkin sekali dialami oleh setiap pembaca sendiri. Membaca buku ini, seakan kita bercermin pada bayangan diri seorang Ahmad Rizali yang ingin berbagi kisah pribadi dan masyarakat yang kerap digaulinya sehari-hari. Pertentangan dalam realita hidup yang kadang tidak mampu dinalar secara biasa itu akhirnya menyimpulkan bahwa mungkin Tuhan sedang sibuk sehingga membuat banyak hal tak terjawab dalam setiap doa. Wallahu’alam. *

Judul Buku: Catatan Waktu (Cawat): Tuhan Sedang Sibuk
Penulis: Ahmad Rizali
Penerbit: CBE Publishing
Halaman: xi + 362 hlm, ; 20 cm.
Cetakan Pertama: Februari 2012
Peresensi: Abdur Rohman, SPd

Gong Xi Fa Cai

23 January 2012


Hampir sepuluh tahun terakhir aku selalu merayakan tahun baru, tiga kali dalam setahun. Kok bisa? Ya tentu. Selain pergantian tahun masehi yang lazim dirayakan setiap malam 31 Desember, saya juga turut merayakan Tahun Baru Hijriyah setiap 1 Muharram, serta satu lagi yaitu Tahun Baru Imlek yang biasa dirayakan masyarakat Tionghoa.

Meski perayaan Imlek baru bisa dirayakan dengan bebas penuh kemeriahan di negeri ini sejak pemerintahan Gus Dur (Presiden KH Abdurrahman Wahid), namun secara budaya, aku sudah memahami betapa agungnya perayaan Imlek. Walaupun aku seorang Jawa -muslim, namun semangat keberagaman begitu aku nikmati. Apalagi setelah tahun 2004 setiap Imlek dijadikan hari libur nasional, tentu semakin berasa makna Imlek sebagai hari besar yang diakui di negeri ini.

Keakrabanku dengan nuansa Imlek tak lepas dari pekerjaan harian yang banyak berkutat dengan sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat Tionghoa. Pimpinan, kawan, dan rekan sekantor awalnya banyak dari mereka yang warga keturunan itu pada mulanya juga sempat membuatku merasa kurang nyaman. Namun karena kita bekerja profesional lama kelamaan akhirnya juga mampu meleburkanku kepada kebiasaan mereka, meski sebagian dari mereka ada juga yang tetap menjaga jarak dengan orang sepertiku yang bukan dari kalangannya. Tak masalah. Itu urusan mereka.

Kegiatan Imlek yang kebetulan sepuluh tahun terakhir ini hadirnya tak jauh akhir maupun awal tahun Masehi, turut menanamkan rasa tersendiri dalam kehidupan kantorku. Moment Imlek bahkan kerap dijadikan sebagai wahana saling mendekatkan diri antarkaryawan dengan menyelenggarakan acara semacam family gathering. Biasanya kantor menyewa sebuah restaurant untuk acara makan bersama dengan selingan pembagian angpau atau kado kejutan. Walau sebenarnya kini kebanyakan karyawan kantorku adalah orang-orang berkulit sawo matang (pribumi) sepertiku, namun tetap saja ada rasa emosional dengan keberadaan Imlek. Mungkin itu bisa terjadi karena selama ini telah terjadi rasa saling memahami dan menghormati budaya masing-masing. Hal itu biasa kami lakukan saat perayaan hari raya seperti Imlek dengan saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai, yang aku sendiri tak pernah tahu apa artinya, atau ketika Idul Fitri kita sesame rekan sekantor saling menghaturkan Minal Aidin wal Faizin dalam halal bihalal perusahaan.

Kini, Imlek sepertinya sudah dimiliki oleh negeri ini setelah sekian puluh tahun sempat terpejara karena dianggap sebagai budaya negatif. Imlek tak ubahnya perayaan 1 Syuro (Tahun Baru Islam, 1 Muharram) yang diperingati oleh Umat Islam, khususnya oleh masyarakat Jawa. Keberadaannya merupakan gabungan dari ajaran budaya dan keagamaan yang melebur sebagai aktivitas masyarakat yang benar-benar adi luhung.

Imlek sendiri merupakan spirit mawas diri bagi siapa pun yang akan menghadapi tantangan masa depan secara lantang. Mungkin karena itu pula, di setiap pergantian tahun China selalu akrab juga dengan adanya perhitungan peruntungan berdasar kalender (Lunar) dengan pengaruh keduabelas shio yang dipercai dapat dikendalikan melalui perhitungan fengshui sesuai tradisi nenek moyang masyarakat Tionghoa.

Akhirnya, semoga di tahun Imlek 2563 yang bertepatan dengan Tahun Naga Air ini, kita semua mampu melakukan yang terbaik untuk kemaslahatan segenap umat manusia. Gong xi fa cai… (arohman)

Kelezatan dan Eksotika Kue Putu

22 January 2012


Anda kenal kue Putu? Kalau belum kenal, tentu si manis ini bukanlah putri atau gadis asal Bali. Melainkan sebuah panganan khas beraroma harum, rasanya gurih dan manis, serta sangat lembut saat disantap. Satu lagi, harganya sangat ramah dengan isi kantong.

Meskipun namanya kue Putu –yang sangat erat dengan nama khas orang Bali—namun kue Putu ini identik sebagai makanan tradisional khas Jawa (Indonesia). Kue yang aslinya berbentuk bulat memanjang seukuran baterai ukuran ‘C’ ini warnanya pun khas, yaitu hijau.

Menurut beberapa referensi, kue Putu berasal dari Kerala, India. Entah mulai kapan kue putu ini sendiri masuk ke Indonesia (Jawa) yang kemudian begitu akrab sebagai jajanan nusantara. Yang jelas, sebagian besar masyarakat kita, khususnya yang ada di pulau Jawa pasti mengenal dan pernah mencoba kelezatan kue Putu ini.

Kue Putu dalam penyajiannya juga tak neko-neko, sederhana, tapi mampu mencitrakan sebuah cita rasa. Bahannya juga mudah didapat, bahkan siapa pun dapat mencobanya sendiri karena proses pembuatannya pun tergolong gampang. Komposisi bahan kue yang dominan dengan parutan kelapa berisi gula merah ini antara lain; tepung beras, kelapa, gula pasir, garam, gula merah, juga daun pandan sebagai pengharum sekaligus pewarna hijau khas Putu.

Yang membuat kue Putu ini juga unik adalah cara memasaknya. Kue Putu dimasak dengan cara dikukus dalam tabung-tabung bambu mungil berdiameter sekitar 3cm yang dipanaskan di atas sebuah pemanas khusus. Pemanas khusus itu biasanya terbuat dari kaleng seng yang dilubangi beberapa bagian untuk mengeluarkan uap panas yang berfungsi mematangkan Putu. Sementara di salah satu lubang ditempeli alat semacam peluit yang selalu berbunyi nyaring, “tiuuutttt...!”. Bunyi ini lantas menjadi pertanda tersendiri bagi para penjual Putu keliling.

Tentang rasa, Putu ini tentu gurih karena bahan dasarnya berupa tepung beras ditambah santan, juga parutan kelapa yang ditaburkan. Hampis sama dengan jenis panganan olahan singkong seperti Jemblem yang tengahnya berisi gula merah, Putu juga memiliki efek kejut saat menyantapnya. Bila dalam jemblem gula merah terbungkus rapat di dalam makanan, maka dalam Putu biasanya gula dibiarkan sampai meleleh keluar. Itu juga menjadi eksotika tersendiri dari Kue Putu ini, sebagai penggugah selera sebelum menyantapnya. Apalagi aromanya yang harum dan sedap pasti akan membangkitkan gairah liur siapa pun yang tergoda oleh kemolekan sang Putu ini.

Dalam hal varian, terdapat beberapa macam Putu. Di samping Putu tradisional ini sendiri, juga ada kue Putu Ayu yang tampilannya memang lebih cantik karena dibuat dengan cetakan modern dalam aneka bentuk. Dan khusus untuk Putu Ayu ini tak disertai gula merah. Bahannya pun telah ditambah seperti telur, terigu dan beberapa pelengkap rasa lain. Mungkin juga di beberapa daerah lain di Indonesia terdapat panganan yang hampir sama dengan Putu ini, namun bebeda namanya. Karena di negera Melayu lainnya, seperti Singapura dan Malaysia juga ditemui makanan hampir sama persis dengan kue Putu namun namanya berbeda. Sudahkah Anda mengudap kue Putu? (arohman)

Menjadikan 2012 sebagai Tahun Prestasi

08 January 2012


Tahun 2012 bersamaan dengan Tahun Naga (Air). Bagiku setiap tahun adalah perubahan. Dan setiap perubahan haruslah berdampak positif bagi kehidupan yang menyertai proses berikutnya.

Setidaknya pada tahun 2012 ini aku memiliki target yang sudah tersusun sejak beberapa waktu sebelum berakhirnya tahun 2011. Aku tak terlalu banyak menderetkan harapan, karena beberapa program yang berlum berhasil tahun lalu masih ada beberapa dan harus bisa diperbarui pada tahun ini sesuai target.

Beberapa target yang tercatat di antaranya program yang berkaitan dengan pekerjaan di kantor, dan beberapa lainnya merupkan target pribadi yang tak ada kaitannya dengan urusan kantor, namun sangat berpengaruh terhadap integritas individu berkaitan dengan masalah idealisme.

Program kantor erat kaitannya dengan peningkatan produktivitas dengan melipatgandakan jumlah terbitan majalah yang aku handle. Dari durasi dua bulanan menjadi bulanan. Bukan hanya itu, ketika rutinitas terbit majalah lebih deras, maka cost-nya pun otomatis akan bertambah, sehingga mau atau tidak pendapatan harus meningkat, khususnya pemasukan dari sektor iklan.

Bila dibandingkan tahun lalu, tahun ini aku harus mampu memompa semangat marketing iklanku untuk memenuhi target. Ini sebenarnya cukup berat. Karena setelah ditinggal dua personal pada pertengahan tahun lalu, praktis aku hanya mengandalkan seorang marketing yang sesekali dibantu orang redaksi yang harus turun tangan menyuport divisi iklan ini.

Meski demikian, aku tetap optimis dapat memperoleh hasil terbaik hingga penghujung akhir 2012 nanti, karena beberapa point penting simpulnya sudah kelihatan. Tinggal bagaimana cara menarik simpul tersebut agar benar-benar terbuka menjadi peluang sesuai kenyataan.

Untuk mencapai semua itu. Baik target rutinitas kantor maupun target bayangan dalam mempertahankan idealisme, aku telah mempersiapkan program-program pengiring. Di antaranya telah mempersiapkan materi yang siap digunakan sampai kapan pun, serta memanfaatkan sarana promosi melalui dunia maya (internet) yang kian efektif saja.

Bila pada tahun lalu dan sebelumnya aku hanya mengandalkan website dan promosi di media cetak, maka mulai tahun ini aku dan pasukanku siap melakukan perubahan cara kerja multimedia. Dengan biaya terjangkau, kini aku bisa memanfaatkan sarana internet 24 jam non-stop untuk mempublikasikan aneka produk dan jasa yang sudah siap dipasarkan. Melalui jejaring sosial aku akan fokus mendapatkan impact sebanyak-banyaknya. Baik dari segi jumlah iklan yang masuk maupun penjualan media secara tradisional ke lapak-lapak di seputar Surabaya dan sekitarnya.

Sarana Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lainnya merupakan tumpuanku untuk mengubah paradigma kantor yang cenderung konfensional dan hanya mau untung saja, tanpa rela mengeluarkan budgeting promosi. Untungnya jaringan perkawanan yang meliputi berbagai sektor dan latar belakang cukup memudahkanku memasuki rana yang selama aku khawatirkan. Semoga di tahun 2012 ini titik terang yang ada dipuncak langit mampu aku raih bersama timku, kemudian kunyalakan lebih terang lagi untuk membawa perubahan dan kemampanan yang aku dambakan. Yaitu menjadikan 2012 ini sebagai tahun prestasi. Insyaallah Tuhan mempermudah setiap langkahku ini. Amin… ya rabbal alamin… (arohman)

Khasiat Olahraga


Aku termasuk orang yang kurang berolahraga. Bukannya aku malas, namun tidak sempat saja gerak badan. Ngeles aja hehehe…

Pagi tadi, usai bangun tidur dan bantu-bantu membersihkan rumah, aku membulatkan tekad rutin berolahraga. Tak perlu mahal. Cukup jalan kaki sambil sesekali berlari kecil mengitari masjid Al Akbar yang tak jauh dari tempat tinggalku. Meski sudah terbilang kesiangan, namun aku tetap saja meluncur ke masjid terbesar di Surabaya tersebut. Demi keringat.

Masjid Agung –demikian biasa orang menyebut masjid negara di Jawa Timur tersebut—pada hari Minggu pagi biasanya suasananya sangat ramai. Maklum, setiap hari Minggu di sekitaran masjid disesaki oleh masyarakat yang bermaksud refreshing. Apalagi di sebidang tanah kosong di utara masjid digelar semacam pasar krempyeng yang dipenuhi penjual aneka kebutuhan, termasuk kuliner dan arena permainan anak. Lengkaplah sudah keramaian di sekitaran masjid Agung.

Kembali ke olahraga. Sampai di lokasi tujuan, aku memarkir sepeda dan mulai memanaskan badan. Pertama yang kulakukan adalah jalan sekali putaran. Dengan langkah biasa memerlukan waktu sekitar 10 menitan. Ketika sampai di titik start, aku meningkatkan kekuatan dari berjalan biasa menjadi jalan cepat. Namun kali ini aku tidak memutari masjid lagi, melainkan hanya melintas dari pintu masuk utara menuju pintu depan bolak-balik sekitar setengah kilometer. Keringat mulai terasa membulir kecil di keningku. Aku terus memacu langkah lagi dengan berlari ringan sampai tubuh benar-benar panas dan berkeringat.

Ketika tubuh mulai panas, di tengah berlari terasa muncul gatal di beberapa bagian tubuh. Mungkin karena tak pernah berolahraga sehingga ketika tubuh dipacu dan jantung memompa peredaran darah secara cepat membuat alirannya agak kaget sehingga menyebabkan gatal-gatal tersebut. Atau bisa juga di darahku sudah kurang sehat lagi akibat tubuh yang dialirinya jarang digerakkan secara maksimal sehingga di beberapa bagian terjadi sumbatan yang membuat alirannya tidak lancar. Itu sih analisisku saja. 30 menit berolahraga cukuplah bagiku.

Biasanya aku berolahraga rutin setiap minggu bersama teman-teman kantor dengan bermain futsal. Sayangnya kegiatan baik tersebut tidak berlangsung lama, dan sejak menjelang Ramadhan lalu tak lagi aktif kami lakukan. Di samping harus membayar sewa lapangan, teman-teman juga merasa keberatan karena lapangan langganan kami jauh dari rumah masing-masing. Akhirnya ya… selesai deh.

Olahraga memang tidak harus mahal. Asal tubuh dapat digerakkan dengan aktif dan mengeluarkan keringat rasanya sudah cukup mampu menyegarkan tubuh. Yang penting persendian dan rangkaian otot tubuh mampu digerakkan secara kontinyu sehingga peredaran darah yang dipacu oleh kinerja jantung berlangsung lancar dan normal.

Dulu semasa kecil sampai remaja aku termasuk individu yang aktif. Meski tanpa olahraga rutin seperti lari pagi maupun senam yang biasanya hanya kulakukan di sekolah, namun dalam hal aktivitas tubuh sudah sangat memadai. Maklum sehari-hari aku harus bekerja keras menggunakan otot dan menguras tenaga untuk membantu orang tua.

Ketika pagi harus sekolah, maka siang hari aku harus mengayuh sepeda jengki jauh sampai ke wilayah kecamatan tetangga untuk mencari rumput sebagai makanan ternak piaraan keluarga. Pulang-pergi dengan beban penuh aku harus mengayuh kurang lebih 8 kilometer setiap hari. Belum lagi olahraga hiburan berupa sepakbola di tengah lapangan cadas bersama teman-teman dari kampung sebelah. Atau malam hari bermain sodoran (gobaksodor) di halaman musalah usai ngaji. Jadilah aku tak perlu berolahraga lagi, karena porsinya sudah cukup mengatasi kebutuhan berolahraga normal.

Kini, olahraga sepertinya wajib bagi tubuhku yang sudah memasuki masa-masa berumur. Dengan pekerjaan rutin yang hampir seharian duduk di balik meja sembari memelototi komputer, gerak badan merupakan sesuatu yang langka. Dengan aktivitas kantor yang lebih banyak duduk dan hanya sesekali berdiri dan berjalan beberapa meter dari meja untuk mengambil air minum atau ke kamar kecil, tentu gaya hidupku tak sehat lagi. Untuk itu aku sudah harus memulai kebiasaan berolahraga secara teratur.

Tren bersepeda yang kini digandrungi masyarakat sebenarnya juga bisa aku jadikan alternatif. Namun aku tak mau latah dan hanya ikut-kutan saja. Aku ingin membiasakan berolahraga teratur bukan karena ikut-ikutan melainkan berdasar kebutuhan. Meski di rumah juga ada sepeda angin yang kadang juga aku gunakan memancing keringat, namun jalan kaki dan lari-lari kecil menurutku lebih efektif sebagai olahragaku yang menyehatkan.

Aku merasakan manfaat olahraga ringan yang kujalani. Tubuh terasa nyaman, makan dan istirahat pun bisa teratur. Yang utama lagi aku merasa nyeri di pangkal pinggang yang kualami meluruh pasca aku rutin berolahraga. Satu lagi, aku bertambah rajin minum air putih. Ayo membiasakan diri berolahraga! (kang abu)

Akhirnya Alif Sunat…

02 January 2012


HARI Minggu di penghujung tahun 2011 lalu merupakan hari yang bersejarah bagi Alif. Anak sulungku ini telah berhasil melalui salah satu fase dalam kehidupannya, yaitu sunat atau berkhitan. Tepat pada penanggalan 25 Desember 2011, dia sudah memasuki usia 9 tahun lewat 9 bulan sekaligus mencatatkan sejarah tersendiri dalam hidupnya. Dia merelakan ujung ‘burungnya’ dipotong di ruang praktik dr Widyawati, Karah Agung Surabaya.

Sebenarnya Alif sudah sejak awal tahun lalu telah memiliki keinginan disunat. Namun keinginan tersebut angin-anginan. Maklumlah, sepertinya dia juga agak takut menjalani sunat. Padahal sudah berkali-kali aku katakana bahwa sunat itu tidak sakit. Paling rasa sakinya seperti digigit semut, yaitu pas disuntik penahan rasa sakit saja. Aku selalu menandaskan begitu. Betul tidak sakit. Wong aku sendiri sudah pernah mengalami sunat. Itu pun saat usia ayahmu ini masih sekitar 6 tahun, saat kelas satu Ibtidaiyah (SD). Tapi, ya dasar anak-anak. Ada saja cara untuk ngeles atau menghindar, sehingga acara sunat itu pun sempat beberapa kali tertunda, dan sampai akhirnya kemarin hari itu terlaksana dengan sukses.

Keberanian Alif untuk sunat kemarin juga antara iya dan tidak. Dua hari sebelumnya dia baru saja mengakhiri masa ujian semester gasal dan dilanjutkan menerima raport dan kemudian liburan. Nah, waktu liburan inilah yang dimanfaatkan untuk sunat, sehingga tak harus bolos sekolah.

Ketika menghadapai anak yang sudah siap mental untuk sunat, aku dan ibunya pun bergegas mendatangi dokter langganan keluarga yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Kami konfirmasikan waktunya yang pas. Jauh waktu sebelumnya kami sudah pernah sampaikan niat menyunatkan Alif ke dokter tersebut, namun karena waktu itu bersamaan dengan sang dokter harus bertugas sebagai tenaga medis haji ke tanah suci, kami pun harus menahan sabar, menunggu sampai beliau kembali, sepulang berhaji.

Sewaktu kami datang untuk kedua kalinya kemarin, sang dokter sudah ada. Dan, akhirnya disepakati hari Minggu (25/12) itu sebagai waktu khitan Alif.

Minggu pagi kami sudah siap semua menuju dokter. Tapi tiba-tiba saja ketika hendak berangkat, Alif tampak agak gerogi. Tangannya terasa dingin dan berkeringat. “Wah, gawat. Jangan-jangan dia tak mau lagi disunat, karena takut lagi,” batinku dalam hati. Ibunya agak bingung juga mendapati perubahan Alif seperti itu. Padahal sudah dijadwalkan oleh dokter pukul 09.00. Untungnya sang ibu dengan sabar memberinya pengertian dan motivasi. Sambil dinasihati dan sesekali dirayu, termasuk dibelikan es krim kesukaannya di Indomaret depan gang rumah, akhirnya kami pun benar-benar berangkat ke dokter untuk mengantar si jagoan itu sunat.

Sampai di tempat praktik dokter, sang dokter sudah menunggu kami. Kami pun dipersilakan masukyang kami sambut dengan senyuman senang. Lain halnya dengan Alif, yang justru malah semakin pucat. Matanya juga tmpak berkaca-kaca hendak menangis. Dia sepertinya ketakutan. Takut disunat.
Ketika berada di dalam ruangan praktik, dokter pun menyuruh Alif melepaskan celananya dan tidur telentang di atas tempat tidur untuk dilakukan operasi ringan, berupa pemotongan kulup atau ujung penutup kelaminnya. Dengan sisa-sisa keberaniannya,pertahanan Alif pun runtuh. Dia tak kuasa menahan tangisnya. Dia luapkan emosinya dengan menangis sangat keras. Melihat suasana histeris seperti itu, istriku kembali berusaha menenangkan Alif. Dengan berbagai jurus rayunya, akhirnya secara perlahan Alif kembali tenang. Dia tak lagi menangis usai disuntik “patirasa” atau penahan rasa sakit sebelum dieksekusi.

Alif menjalani sunat menggunakan motode Flash Cutter, dimana proses pemotongan kulit penutup depan penis atau frenulum bukan menggunakan pisau bedah atau alat lain, melainkan menggunakan panas yang tinggi tetapi dalam waktu yang sangat singkat. Konon metode ini memiliki kelebihan dalam hal mengatur pendarahan, dimana umum terjadi pada anak berumur di bawah 8 tahun, yang memiliki pembuluh darah yang kecil dan halus.
Dalam wikipedia.org diterangkan bahwa metode Flash Cutter ini merupakan pengembangan dari metode electrocautery. Metode ini menggunakan sebilah logam yang sangat tipis dan diregangkan sehingga terlihat seperti benang logam. Logam tersebut kemudian dipanaskan sedikit menggunakan battery. Hal ini dimaksudkan untuk membunuh bakteri yang kemungkinan masih ada, dan juga untuk mempercepat pemotongan. Karena alat ini menggunakan battery, alat ini cenderung lebih mudah dibawa sehingga beberapa dokter yang memiliki alat ini bisa melakukan proses sirkumsisi di rumah pasien sampai selesai.

Nah, karena sistem pengoperasian Flash Cutter berbasis pemanas, maka ketika dokter memotong “si kulup” langsung tercium aroma kulit/daging terbakar. Dengan menggunakan alat semacam penjepit, kulup yang hendak dihilangkan itu diangkat, lalu “cling” dalam beberapa nyosan saja langsung putus. “Kok bau gosong?” komentar Olif yang pagi itu turut mengantar kakaknya sunat.

Usai dihilangkan bagian ujungnya, burung Alif pun dirapikan dengan beberapa jahitan lalu dibersihkan dengan obat antibakteri. Untuk melindungi luka dan bekas jahitan yang ada, ditutuplah dengan perban agar “si kecil” itu tak terganggu dulu untuk beberapa hari, supaya cepat pulih.

Kini Alif telah memiliki sesuatu yang baru. Yang pasti akan sangat membanggakannya. (kang abu)