Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

KISWA RAMADAH (5) Tak Membuang Waktu Percuma

25 July 2012

Menjalankan puasa bagi anak (seusia saya), 30 tahun silam tantangan tidak seberat sekarang ini. Kehidupan desa yang permai dengan tingkat polusi yang masing rendah, serta minimnya pengaruh dunia hiburan tentu sangat membantu saya dan teman-teman sepantaran menghabiskan bulan Ramadan dengan nyaman. Tak salah bila kami selalu merindukannya. Perubahan kebiasaan ngaji di langgar bersama Wak Kasun yang digeser dari waktu usai salah maghrib ke ba’dah subuh juga tak merisaukan kami. Bahkan, kami merasa lebih senang ngaji pagi hari, karena setelah itu bisa bermain dakon ramai-ramai di teras rumah Nyai Jaiyah, yang rumahnya persis di sebelah pintu langgar.

Permainan-permainan masa itu benar-benar ramah dengan usia kami. Kalau tidak dakon, ya benthikan (patelele), koprolan, sodoran, bentengan, deblekan, boy-boyan, umbul, catur, dan khusus Ramadan ada tambahan main mercon bumbung.

Beda halnya dengan saat ini, yang hampir semua anak telah mengenyam kehidupan modern serba otomatis dengan waktu yang terprogram pula ala kehidupan orang dewasa. Gangguan puasa –khususnya yang dapat mengurangi pahala puasa– tentu lebih berat dan menantang lagi bagi anak-anak masa kini, apalagi bagi para anak kota. Gangguan yang utama bagi anak sekarang adalah televisi dan video game.

Bila pada masa kecil saya dan teman-teman sepantara dulu hanya menghabiskan waktu beberapa jam saja sesuai kadar kekuatan tenaga kami bermain, tapi anak sekarang bisa seharian penuh menonton teve atau bermain game karena mereka hanya duduk dan asyik dengan jemari dan bola matanya tanpa aktivitas fisik berarti. Tentu ini perbedaan signifikan yang akan berpangaruh banyak pada jiwa seseorang (baca: anak) nantinya.

Waktu bagi kami pada dunia kecil saya dan teman sepantaran sangatlah berharga. Meski tanpa program tercatat, namun semua berjalan alamiah dilandasi kesadaran diri masing-masing untuk menunaikannya penuh tanggung jawab. Sungguh luar biasa para orang tua kami masa itu, mampu menanamkan pendidikan pekerti yang mahadahsyat, sehingga kami dengan mudahnya menurut apa yang mereka inginkan sesuai tataran kehidupan masyarat setempat.

Sekali lagi, waktu bagi saya dan teman sepantaran zaman itu sangat berharga. Dan, hal itu semakin terasa sekarang ini, setelah malampauinya puluhan tahun berselang. Sepertinya semua ajaran-ajaran orang tua dan guru-guru kami untuk tidak menyia-nyiakan waktu betul-betul membekas di hati. Apalagi jika merenungkannya kembali ketika mendengar lantunan surat Al-Ashr dalam salah satu rakaat shalat tarawih setiap malam Ramadan yang saya ikuti di masjid tak jauh dari rumah.

“1 ~ Demi masa.

2~ Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

3~ Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihati menasihati supaya menetapi kesabaran.”(QS. Al-Ashr [103]: 1-3)

Wallahu a’lam. Semoga perjalanan masa kecil saya dalam mengarungi bulan-bulan suci Ramadan bersama teman-teman sepantaran dulu tercatat sebagai amal shaleh. Dan apa saja yang kami kerjakan tidak termasuk yang sia-sia atau merugi. (25/7-arohman/bersambung)

KISWA RAMADAH (4) Grogi, Baca Alquran di Depan Microphon

24 July 2012

Ramadan sudah berlalu tiga hari. Ingatan saya langsung terlontar jauh semasa madrasah Ibtidaiyah (SD). Jauh di pedesaan sana, saya telah melewatinya dengan banyak catatan istimewa. Suka-duka berpuasa bersama teman-teman sepantaran di kampung halaman maupun kawan-kawan sekelas di sekolah yang berasal dari banyak daerah. Maklum, sekolah saya di bawah naungan sebuah ponpes tersohor.

Di kampung halaman sebenarnya rutinitas harian tidak ada yang beda, yang membedakan hanyalah malam hari harus salat tarawih dan mengikuti tadarrus di langgar. Pengalaman-pengalaman unik juga kerap terjadi pada bulan Ramadan itu, misalnya pengalaman pertama ngaji atau membaca Alquran di hadapan microphon.

Dahulu, hanya anak-anak yang sudah khatam Alquran yang diizinkan ngajinya disuarakan langsung ke speaker. Dan, itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi si anak dan orang tuanya, karena dinilai sudah bisa ngaji. Kebetulan ketika Ramadan itu saya termasuk yang sudah khatam sehingga mendapat kesempatan bisa bersenandung menyuarakan ayat-ayat-Nya dengan benar dan merdu di mic.

Tadarus di langgar kami dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok setiap malam harus menyelesaikan 5 juz. Tidak semua kelompok ngaji tersebut yang ‘disiarkan’ langsung ke speaker dan membahana ke segala penjuru kampung, melainkan hanya kelompok dewasa, yaitu kelompok yang melingkar di belakangan pangimaman atau mihrab.

Di kelompok pangimaman itulah aku pertama kali menyuarakan lantunan ayat suci Alquran menggunakan speaker. Di samping perasaan bangga, perasaan grogi dan takut salah baca campur aduk jadi satu dan terkumpul menjadi keringat dingin. Maklum, di kelompok itu yang nyemak atau memperhatikan bacaan adalah para guru ngaji kami. Jadi, meskipun sudah setiap petang belajar membaca Alquran sesuai dengan tajwid dan makhorijul khuruf-nya serta lagu yang mendayu, begitu menghadap mic langsung kabur semua, dan akhirnya membacanya grathul-gratul atau tak bisa selancar yang dibayangkan.

Bila mengingat hal itu, saya jadi bangga terhadap para guru ngaji masa kecil dulu. Mereka tanpa pamrih setiap usai maghrib membelajari kami ngaji, mengenalkan huruf-huruf hijaiyah dan bacaannya sampai akhirnya saya dan teman-teman bisa membaca Alquran. Wak Kasun (almarhum) adalah guru ngaji pertama saya di langgar. Beliau merupakan imam rawatib di langgar lanang. Sehari-hari beliau bekerja sebagai petani di sepetak kecil sawahnya dan nyambi sebagai tukang pangkas rambut setiap Pasaran Legi di sebelah pertigaan lapangan desa. Setiap malam usai salat Maghrib, hampir semua anak-anak di desa kami berkumpul di belakang pangimaman untuk belajar ngaji kepadanya. Ngaji dilakukan setiap hari Sabtu sampai Selasa, hari Rabu diisi Fashalatan atau belajar salat dan bacaan-bacaannya serta amalan lainnya, sedangkan hari Kamis diisi dengan Dibaan atau membaca berjanji atau geladen (belajar) seni hadrah. Sebagai bentuk imbalan atas kebaikannya yang tak ternilai tersebut, biasanya kami dan para keluarga kami yang pernah belajar ngaji kepada beliau, setiap malam lebaran mebayarkan zakat fitrah kepada Wak Kasun. Karena menurut pandangan warga, beliau termasuk mustakhiq karena berjuang di jalan Allah.

Kini, setiap malam-malam Ramadan aku selalu berusaha mengisinya dengan membaca Alquran dengan harapan mampu mengkhatamkan-nya menjelang lebaran nanti. Dan di bulan suci Ramadan ini, tak lupa juga aku memohonkan ampunan dosa untuk almahum ayah saya, yang dahulu setiap malam lantunan ngajinya selalu membangunkanku menjelang sahur. Semoga segala bimbingan-bimbingannya kepada saya dulu menjadi bagian dari tiga amal yang tak terputus pahalanya, antara lain termasuk ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh. “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh” (HR. Muslim). Amin…

KISWA RAMADAH (3) Menu Sahur Pecel Bandeng, Takjil Serébeh Kuah Santan

23 July 2012

Hari-hari puasa tentu tantangan tersendiri bagi saya dan teman sepantaran semasa kecil. Meski semangat dan kegembiraan kami luar biasa saat menyambut kehadiran Ramadan, namun bukan berarti kami semua esoknya puasa sempurna. Usia kami yang rata-rata belum akil baligh kebanyakan tidak mampu nutuk atau berhasil menahan lapar dan dahaga sampai bedug maghrib. Tak jarang kami hanya mampu puasa bedug atau sampai tengah hari, dan ada juga yang sampai adzan Ashar saja. Hal seperti itulah yang kini membuat saya sadar bahwa membelajari puasa kepada anak-anak, termasuk kepada anak saya si Alif dan Olif juga harus bertahap. Tidak bisa sekonyong-konyong langsung sehari penuh. Dan, Alhamdulillah, tahun ini si Alif sudah mampu puasa penuh, sementara adiknya, si Olif masih belajar dengan poso sapi alias mari mangan diusapi (habis makan dilap agar tak ketahuan bila tidak puasa, hehehe).

Romantika puasa masa kecil kerap juga membuat saya tersenyum-senyum sendiri mengenangnya. Semasa kecil saya tergolong patuh berpuasa dibanding teman-teman sepantaran. Karena beberapa teman saya waktu itu saat sahur turut makan bersama ayah- ibunya, tapi ketika bermain mereka mokah atau meneguk air saat merasa haus atau ada juga yang malah makan mangga runtuhan di atara rimbun dan rapatnya pohon mangga milik Wak Kaji, salah seorang tuan tanah di kampung kami. Namun mereka tetap memasang muka kuyuh lemas saat kembali pulang ke rumah dan turut nungguh (menanti) maghrib bersama-sama keluarganya untuk berbuka.

Awalnya, pada hari pertama saya hanya mampu bertahan puasa sampai kumandang adzan dzuhur alias poso bedug. Kemudian esoknya kalau mampu akan ditingkatkan menjadi poso ashar, dan hari berikutnya poso maghrib. Setelah berhasil menunaikan puasa sampai maghrib, maka serasa sudah kewajiban bagi saya untuk terus melakukannya puasa sehari penuh. Teman-teman sepantaran saya juga melakukan hal serupa, sesuai yang diharapkan orang tuanya pula. Begitulah tradisi dan cara kami belajar puasa semasa kecil.

Hal yang paling saya sukai saat puasa adalah disediakannya menu-menu istimewa saat sahur dan berbuka puasa. Saat sahur biasanya ibu menyediakan menu pecel bandeng dan telur ayam rebus. Pecel bandeng yang saya maksud adalah menu lauk ikan bandeng yang digoreng kering, kemudian dipenyet di atas sambal petis, kecap, dan kacang tanah yang bentuk jadinya seperti bumbu rujak cingur tapi lebih pekat dan liat. Nasinya juga nasi putih (beras), bukan nasi jagung seperti hari biasa. Bandeng dan telur ayam pada masa kecil saya termasuk menu lauk istimewa. Sebab pada hari-hari biasa kami hanya mengonsumsi ikan kali atau ikan asin, sementara telur ayam lebih dimanfaatkan untuk dijual karena memiliki nilai ekonomis lebih atau kadang ya sebagai bahan barter bumbu-bumbu dapur dan minyak tanah di warung kelontong sebelah rumah.

Demikian pula saat berbuka, nenek selalu menyediakan kue serébeh berkuah santan sebagai menu hidangan takjil sekeluarga. Entah ini sebuah tradisi atau kebiasaan, sebab, seingat saya, nenek atau ibu selalu menyediakan takjil serébeh itu pada hari-hari awal saja. Sementara hari-hari berikutnya hidangan takjilnya berupa kolak labu kuning bercampur pisang atau sukun. Jarang sekali ada es, karena bila menginginkan es, maka siangnya terlebih dahulu harus membeliny di penjal es sebelah kantor kecamatan, yang jaraknya sekitar dua kilometer dari kampung tempat kami tinggal.

Kebiasaan nungguh maghrib juga menjadi rutinitas Ramadan yang paling paling kami nantikan. Teman-teman biasanya ada yang ‘membunuh jenuh’ dengan menaikkan layangan sowangan yaitu layang-layang berbentuk bulan sabit bertingkat dengan ujung dipasangi alat menyerupai busur yang disebut sowangan, sehingga ketika dinaikkan bisa berbunyi ‘wang… wang…”. Saya sendiri lebih suka menanti adzan maghrib dengan tidur-tiduran menahan lemas sekujur tubuh sambil mendengar siaran radio RRI Surabaya di gelombang 585 AM.

Dan, ketika adzan maghrib benar-benar berkumandang dari corong radio Telesonic kepunyaan ayah itu, kegembiraan pun membuncah. Saya pun seakan punya tenaga baru untuk segera bergegas ke dapur menyantap hidangan berbuka yang telah disediakan ibu. “Alhamdulillah….”

Sampai kini, ketika peristiwa itu berlalu sekitar 30-an tahun silam, namun masih saja saya tetap mampu merasakan kesenangan --atau lebih tepatnya sensasi-- yang luar biasa pada saat-saat menyambut waktunya berbuka. Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah Muhammad SAW dalam HR.Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; kebahagiaan tatkala ia berbuka dan kebahagiaan tatkala ia bertemu dengan Rabbnya.” Semoga puasa kita ini diterima Allah SWT. Amin… .(23/7-arohman/bersambung)

KISWA RAMADAH (2) Diawali Melotre Puluran dan Patrol Sahur

22 July 2012

Hari-hari pertama menunaikan ibadah puasa terasa sangat menyenangkan bagi saya dan teman-teman sepantaran di desa. Dari kebiasaan berburu burung dan ikan di kali, sampai beradu keras suara mercon bumbung merupakan rutinitas mainan harian kami sepanjang Ramadan, di samping ngaji, tadarrus dan sembahyang tarawih bersama.

Malam pertama menunaikan tarawih seperti biasa semua sof penuh, bahkan kadang sampai meluap ke teras langgar. Anak-anak yang biasanya tidak ke langgar, malam itu juga turut ayah mereka ke langgar, bergabung bersama kami sepantaran untuk menunaikan salat tarawih. Salat jamaah di desa kami dilakukan tersendiri antara jamaah pria dan jamaah wanita, karena memang ada dua langgar yaitu langgar wedok (khusus prempuan) dan langgar lanang (khusus pria).

Tarawih dijalankan sebanyak 20 rakaat plus 3 rakaat witir. Usai tarawih berjamaan pada malam pertama, para warga dan kami, anak-anak sepantaran tidak langsung pulang. Biasanya kami turut asyik mengikuti pengambilan lotre atau undian pembagian puluran jaminan tadarus sepanjang Ramadan yang akan lewat. Puluran jaminan adalah makanan dan jajajanan serta minuman yang dihidangkan untuk para jamaah yang mengikuti tadarus Alquran. Setiap kepala keluarga mendapat kewajiban menyediakan makanan sesuai kemampuannya. Ada yang membawa masi kuning lengkap dengan lauknya, ketan dengan parutan kelapa dan sambalnya, juga jajanan-jajanan tradisional seperti lemper, grubi (tepung beras dicampur kacang hijau yang dimasak dengan dibungkus daun pisang) pisang goreng, sukun godog, buah pisang, dan lain-lain. Minuman yang disediakan juga bervariasi sesuai kemampuan, biasanya berupa teh manis, wedang jahe, juga wedang kopi. Semua dihidangkan setiap malam oleh setiap kepala keluarga sesuai urutan hasil undian seusai pelaksanaan tarawih pada malam Ramadan.

Saya dan teman-teman sepantaran biasanya juga melakukan dolanan di halaman dan jalanan sebelah langgar, usai ikut pembagian puluran. Dengan benerang lampu strongking dan deretan lampung ting, yaitu lampu minyak teplok yang diletakkan di atas tiang khusus sebagai penerangan jalan, kami bermain sodoran, atau biasa disebut gobak sodor. Permainan ini kami lakukan sampai semua kelelahan. Bila sudah lelah, tanpa mempedulikan siapa tim yang menang atau kalah, kami kemudian berkumpul kembali di teras langgar untuk tidur dan mempersiapkan diri membangunkan sahur dini hari nanti dengan keliling kampung.

Tidur kami tidak panjang bila Ramadan, karena begitu terdengar blenggur (gelegar suara mercon besar, atau berupa suara bedug yang sangat keras dari masjid saat dini hari) dari desa seberang bengawan (sungai bengawan solo yang ada di bagian selatan desa kami), kami semua seakan otomatis bangun dan langsung mencari peralatan seadanya untuk dibuat alat tabuhan musik patrol guna membangunkan para ibu yang mempersiapkan makan sahur bagi keluarganya.

Peralatan yang biasanya kami pakai keliling adalah botol, timba, kaleng cat, dan beberapa alat dapur yang sudah tidak terpakai. Dengan irama yang sudah terasah dari generasi ke generasi, perkusi yang kami lantunkan serasa merdu. Diiringi salawat nabi dan puji-pujian, bahkan kadang juga lagu Rhoma Irama, kami penuh semagat keliling kampung dan dusun sebelah untuk membangunkan warga makan sahur. “Sahur…! Sahur…!” begitu teriakan yang kami suarakan bergantian sepanjang jalanan.

Begitulah rutinitas masa kecil saya bersama teman-teman sepantaran menyamarakkan Ramadan. Masa-masa yang indah, yang saat ini menjadi motivasi tersendiri untuk bisa menjalankan ibadah puasa pada Ramadan yang selalu penuh barokah ini. (arohman/bersambung)

KISWA (KISAH WAKTU) RAMADAN (1) Keceriaan Sambut Ramadan Masa Kecil

21 July 2012

Puasa Ramadan selalu memiliki kisah tersendiri bagi kehidupan saya selama ini. Mulai dari awal melaksanakan puasa semasa kanak-kanak hingga dewasa kini, ada saja kesan yang tetap tersimpan dengan kesan yang berbeda-beda tentunya.

Sebagai ritual khusus yang berlangsung selama sebulan penuh, dari Ramadan ke Ramadan, saya memiliki catatan-catatan istimewa di setiap tahunnya. Dan, catatan Ramadan kali ini saya awali dari kenangan Ramadan semasa kanak-kanak di desa.

Masa kecil saya terurai panjang di sebuah dusun kecil, Padukuan Karangpoh, Desa Bungah, Kabupaten Gresik Jawa Timur. Tahun 80-an, kebanyakan warga di kampung setempat adalah petani. Perekonomian warga juga termasuk pas-pasan, sehingga sehari-harinya menu makanan juga berkisar nasi beras, jagung, ketela, dengan sayuran-sayuran seperti daun kelor, kangkung, dan labu putih. Sementara lauknya berupa ikan-ikan yang banyak ditemui di kali dan persawahan seperti bader, mujaer, gabus, belut, wader, dan beberapa jenis ikan air tawar lainnya.

Itulah kira-kira gambaran masa kecil saya 30 tahun silam di desa tersebut. Tentu, bila ditarik ke zaman sekarang, perubahan perekonomian masyarakat di sana sudah berbalik 180 derajat. Kampung yang dulu semasa kecil saya hanya dihuni beberapa puluh warga itu, kini telah memiliki ratusan kepala keluarga, pendatang dari desa-desa manca yang membeli tanah dan mendirikan rumah tinggal di sana. Tempat-tempat penuh kesan semasa saya kecil untuk mengisi suasana Ramadan, sekarang sudah tidak ada lagi di desa kenangan itu. Hampir semua sudah berubah menjadi kompleks hunian baru ala kota.

Balong atau semacam telaga tempat saya dan kawan-kawan sepermainan bermain air dan belajar berenang juga mencari ikan, kini sudah berubah menjadi kali dangkal yang diperuntukkan membantu irigasi persawahan yang tersisa. Pohon sukun yang dulu berjajar sepanjang jalanan masuk kampung, kini tinggal tersisa beberapa pohon saja, sehingga burung Dares atau burung Hantu yang biasa tinggal di gowok atau dalam bongkah dahan pohon-pohon sukun itu pun bisa dipastikan turut sirnah entah hijrah kemana.

Ramadan saya di tanah kelahiran sungguh tetap menyisakan kenangan. Salah satuya adalah keceriaan bersama teman-teman semasa kecil menyambut datangnya bulan puasa. Pada masa itu, saya termasuk anak-anak pantaran kedua. Pantaran adalah istilah untuk mengategorikan teman-teman berdasarkan umur. Teman-teman yang tahun kelahirannya sama biasanya disebut satu pantaran. Pantaran saya masa itu ada sekitar sepuluan orang, di antaranya adalah Sueb, Mahgfur, Maskur, Kamit, Naderon, Yusuf, Sokib, Nizar, Ismail, dan Huda. Kebanyakan dari mereka pun masih merupakan kerabat dekat saya. Anak-anak dari bude dan paman yang rumahnya hanya dipisahkan lompongan atau teritisan sebelah rumah juga kebun pisang.

Ada kebiasaan unik di antara kami yang selalu dilakukan saat menjelang Ramadan. Hari terakhir di bulan sya’ban biasanya kami hamburkan untuk membantu teman-teman ngaji di langgar (musala) untuk brokoan atau kerja bakti membersihkan langgar. Teman-teman sepantaran saya yang masih duduk di kelas 3 dan 4 SD/MI ditugasi Wak Kasun, sang guru ngaji kami sekaligu imam rawatib di langgar Baitul Muhibbin mengepel lantai sekaligus mencuci karpet yang ada. Sementara teman-teman pantaran remaja ditugasi mengerjakan hal-hal yang lebih rumit, seperti mengecat dan membenarkan speaker TOA yang sudah sangat berumur agar selama digunakan Tarawih tak mengalami troble. Pekerjaan ini kami lakukan bahu membahu khas anak-anak, yaitu sambil guyon atau bermain-main, tapi semua dapat selesai dengan baik.

Para orang tua kami, menjelang sorenya biasa menyuruh kami segera mandi dan menuju langgar lagi. Dan, usai salat Maghrib, kami para anak-anak yang biasanya belajar ngaji baca Alquran dibawah asuhan Wak Kasun, petang itu diliburkan dan diganti bersama-sama diajari doa-doa, antara lain doa mandi menjelang puasa, doa puasa, doa berbuka, dan doa membayar zakat. Itu semua dilakukan sampai adzan isya’ dikumandangkan. Tanda dumulainya Ramadan dengan salat tarawih berjamaah. (arohman/bersambung)

Fungsi dan Makna

05 July 2012

|| Kolom Warna Majalah Unesa Edisi Juli 2012

Sampai di penghujung manakah batas selera kepuasan seorang manusia? Itulah pertanyaan yang memberikan kepastian terhadap wilayah sebuah kepuasan setiap manusia. Dengan pertanyaan itulah, dunia berkembang silih berganti memberikan asas kemanfaatan dalam kepuasan yang hidup. Kepuasan disusuli kepuasan yang lainnya sampai memperkokoh sebuah kehidupan.

Lihat saja, sebuah gedung dibangun tidak berhenti pada fungsi semata tetapi dibangun sampai pada taraf makna. Dari sebuah makna itulah, sebuah gedung dikenali lebih mendalam dan tertahan dalam memori seseorang dibandingkan dengan gedung lain yang berdiri tanpa makna. Ketika seseorang disodori gambar gedung tertentu, seketika itu pula seseorang menyebutkan nama gedung. Kemudian, terlahirlah bangunan yang mudah dikenali karena bermakna, seperti gedung DPR, menara Petronas, rumah gadang, rumah joglo, kampus UI, dan gedung yang lainnya.

Unesa saat ini mulai merambah ke makna sebuah sarana dengan mempercantik diri yang berdasarkan aksentuasi tertentu dan memberikan memori tersendiri bagi yang melihatnya. Dunia bentuk dan fungsi akan dilampaui sampai ke ujung jauh dari sebuah makna di Unesa. Tak ayal, kelak, makna berbagai sarana di Unesa akan dikenang semua orang hanya dengan melihat gambarnya atau hanya mendengar namanya semata.

Kantin tidak sekadar bentuk kantin dan berfungsi untuk melepas dahaga dan lapar semata. Kantin di Unesa memberikan makna “baseball” yang mengindikasikan buah manis atau olahraga permainan yang bernuansa kerja sama, kekompakkan, dan persahabatan. Ranunesa tidak sekadar bentuk tangkapan air dan berfungsi sebagai penampung air tetapi memberikan makna tertentu bagi yang menikmatinya. Gedung PPG tidak sekadar gedung yang berfungsi melainkan sebuah gedung yang memberikan aksentuasi tersendiri bagi yang melihat dan menikmati gedung tersebut.

Bermain-mainlah sampai ke makna agar dunia mengakui kekhasan yang dihasilkannya. Makna bangunan akan memberikan arti yang melebihi dari sebatas bentuk dan fungsi. Untuk itu, teruslah mengisi makna dalam segala ikhtiar sampai pada terbentuknya sebuah ciri khas. Unesa ke depan tentu membangun berdasarkan makna yang dimunculkan sehingga memberikan nuansa tersendiri dari nuansa-nuansa yang pernah ada. (S)