Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Menyiapkan 6 Hidangan Lebaran ala Hotel

26 September 2008


Memasuki hari-hari akhir puasa, banyak di antara kita sudah disibukkan dengan persiapan Lebaran. Selain menyediakan isi meja untuk suguhan tamu, yang tak ketinggalan pula adalah menyiapkan menu special Idul Fitri-nya. Nah, menu apa sajakah yang pantas disajikan untuk keluarga tercinta? Berikut beberapa set menu lebaran pilihan ala hotel yang bisa Anda coba.

ADA enam hidangan istimewa yang resepnya bisa Anda racik di rumah. Tak perlu ragu lagi akan keandalan rasanya, karena semuanya sudah diuji oleh para chef khusus Java Paragon Hotel & Residences. Mereka antara lain Chef Edy, Chef Dwi, & Chef Agustin.
Apa saja yang tersaji: antara lain adalah Soto Daging Paragon, Es Tawadhu Paragon, Selada Banjar, Telur Petis Kenangan, Opor Ayam Kemenangan, dan Udang Pencet Sambal Abang. Hmmm… rasanya sudah biking kemerenseng. Menu lainnya ada di Tabloid LeZAT edisi 116.
Nah, agar Anda bisa berbagi, berikut resepnya:


Soto Daging Paragon
Bahan:
- Daging sapi 500 gram, potong setebal 1 cm
- Pekak 2 buah
- Kapulaga 2 buah
- Cengkih 2 buah
- Air 1 liter
- Minyak goreng secukupnya


Bumbu perebus daging:
- Bawang putih 2 siung
- Ketumbar 1 sendok teh
- Garam 1 sendok teh


Bumbu halus:
- Bawang merah 8 butir
- Bawang putih 2 siung
- Kunyit 5 cm
- Lengkuas 2 cm
- Serai 1 batang, memarkan
- Daun jeruk 4 lembar
- Daun salam 2 lembar
- Merica 1/2 sendok teh
- Garam secukupnya


Pelengkap:
- Kerupuk
- Soun
- Perkedel kentang
- Seledri, potong halus
- Bawang goreng


Cara Membuat:
1. Rebus daging dalam air bersama daun salam dan garam hingga setengah matang.
2. Tumis bumbu halus hingga harum, lalu masukkan dalam air rebusan daging bersama pekak, cengkih dan kapulaga, masak hingga bumbu meresap dan mendidih, tiriskan dagingnya.
3. Goreng daging dalam minyak panas sedang hingga kecokelatan dan mengering, angkat.
4. Sajikan soto dengan pelengkapnya.


Catatan:
Lama Persiapan : 15 menit
Lama Memasak : 45 menit
Standar Hasil Jadi : 4 porsi


-----------

Opor Ayam Kemenangan

Bahan:
- Daging ayam 800 gram, potong menjadi 4 bagian
- Kentang 500 gram, kupas, potong-potong
- Santan encer 700 ml
- Santan kental 300 ml
- Serai 1 batang, memarkan
- Daun salam 1 lembar
- Daun jeruk 2 lembar


Bumbu Halus:
- Bawang merah 6 butir
- Bawang putih 3 siung
- Ketumbar 1 sendok teh
- Jinten 1/4 sendok teh
- Lengkuas 1 ruas
- Kemiri 3 butir
- Merica 1/2 sendok teh
- Gula pasir 1 sendok teh
- Garam secukupnya


Pelengkap:
- Lontong

Cara Membuat:
1. Tumis bumbu halus bersama daun salam, serai dan daun jeruk hingga harum, lalu masukkan daging ayam, aduk rata.
2. Tuang santan encer, lalu masukkan kentang dan masak diatas api kecil hingga cairan agak surut.
3. Masukkan santan kental, masak sambil sesekali diaduk hingga mendidih dan bumbu meresap, angkat.
4. Sajikan dengan lontong dan hias sesuai selera.


Catatan:
Lama Persiapan : 10 menit
Lama Memasak : 30 menit
Standar Hasil Jadi : 4 porsi


--------------

Telur Petis Kenangan

Bahan:
- Telur ayam 6 butir, rebus, kupas kulitnya
- Bumbu dasar putih 1 sendok makan, siap pakai
- Kunyit 3 cm, bakar, potong tipis
- Jahe 3 cm, bakar, potong tipis
- Temu kunci 2 cm, bakar, potong halus
- Serai 1 batang, memarkan
- Daun jeruk 3 lembar
- Petis 2 sendok makan
- Cabe rawit 20 biji
- Santan kental 200 ml
- Gula pasir 1 sendok teh
- Garam secukupnya
- Minyak goreng secukupnya


Cara Membuat:
1. Goreng telur dalam minyak panas sedang hingga permukaanya kuning kecokelatan, angkat dan tiriskan.
2. Tumis bumbu dasar putih bersama kunyit, jahe, temu kunci, serai dan daun jeruk, masak hingga harum.
3. Masukkan petis, santan dan telur, masak diatas api kecil sambil sesekali diaduk hingga bumbu meresap dan matang, angkat.
4. Sajikan.


Catatan:
Lama Persiapan : 15 menit
Lama Memasak : 20 menit
Standar Hasil Jadi : 4 porsi


-----------------

Selada Banjar


Bahan:
- Daun selada 200 gram
- Wortel 200 gram, potong memanjang, rebus
- Kentang 200 gram, kukus, potong tipis
- Putih telur rebus 200 gram, potong-potong
- Ketimun 200 gram, potong-potong

Saus:
- Kuning telur rebus 4 butir
- Kentang rebus 4 buah, haluskan
- Bawang merah goreng 4 sendok makan
- Margarin 400 gram, cairkan
- Merica bubuk 1 sendok teh
- Garam secukupnya


Pelengkap:
- Emping goreng secukupnya

Cara Membuat:
1. Saus: Campur semua bahan, aduk hingga tercampur rata.
2. Letakkan daun selada bersama wortel, kentang, putih telur dan ketimun dalam piring saji.
3. Tambahkan saus dan emping diatasnya, lalu hias sesuai selera.
4. Sajikan.


Catatan:
Lama Persiapan : 15 menit
Lama Memasak : 15 menit
Standar Hasil Jadi : 4 porsi


-------------------

Es Tawadhu Paragon

Bahan:
- Tape ketan 8 sendok makan
- Kelapa muda 1 butir, ambil dagingnya
- Es puter rasa strawberry, durian, cokelat 250 gram
- Santan 400 ml
- Es puter strawberry 4 scoop
- Sirup merah 250 ml


Cara Membuat:
1. Letakkan tape ketan dalam gelas saji, lalu tuang santan diatasnya, sisihkan.
2. Campur es puter strawberry dengan kelapa muda, lalu proses dalam blender hingga lembut, tuang dalam gelas saji.
3. Terakhir tambahkan es puter 3 rasa diatasnya dan tuang sirup merah, hias sesuai selera.
4. Sajikan.


Catatan:
Lama Persiapan : 5 menit
Lama Memasak : 5 menit
Standar Hasil Jadi : 4 porsi


----------------
Pencet Udang Sambal Abang

Bahan:
- Udang pancet 500 gram
- Gula pasir 1 sendok teh
- Jeruk nipis 1 buah, ambil airnya
- Garam secukupnya


Bumbu perendam:
- Bawang putih 3 siung, haluskan
- Garam 1 sendok teh
- Air 50 ml


Bumbu halus:
- Cabe merah 10 buah, buang bijinya
- Tomat 2 buah
- Bawang merah 10 butir
- Garam 1 sendok teh


Cara Membuat:
1. Kupas kulit, kepala udang dan belah punggungnya, lalu cuci hingga bersih. Campur udang dengan air jeruk dan garam, aduk rata.
2. Bumbui udang dengan bumbu perendam yang telah dicampur rata, lalu diamkan selama 10 menit hingga bumbu meresap.
3. Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan gula dan udang, lalu tambahkan sedikit air, masak hingga bumbu meresap dan matang, angkat.
4. Sajikan.


Catatan:
-Lama Persiapan : 10 menit
-Lama Memasak : 25 menit
-Standar Hasil Jadi : 4 porsi


Kurma-Kurma Primadona di Surabaya

25 September 2008


Bulan puasa identik dengan kurma. Di Surabaya, buah yang berasal dari negara padang pasir ini bisa dijumpai di berbagai sudut kota. Salah satu toko grosir terbesar yang menjual kurma di Surabaya berada di kawasan Ampel. Namanya toko Lawang Agung. Berdiri sejak tahun 1950-an, toko ini diakui menyediakan kurma berkualitas, terlengkap, dan terbesar di Surabaya.

DALAM jalan-jalan Ramadan tahun ini, tabloid LeZAT edisi 116 sempat mampir ke Toko Lawang Agung dan berbincang dengan pemiliknya, Yasir Salim. Menurut paparannya ia menjual lebih dari 20 jenis buah kurma. Istimewanya lagi, kurma-kurmanya langsung didatangkan dari Arab, Mekkah, Madinah, Mesir, Aljazair hingga Amerika. Yasir merasa beruntung karena banyak kerabatnya yang tinggal di negara Timur Tengah sehingga membantunya untuk mendatangkan kurma-kurma tersebut. Tentunya kurma-kurma yang didatangkan dari berbagai negara itu jenisnya berbeda-beda.
Berdasarkan tingkat kematangan ada dua jenis kurma yang umumnya dijual di pasaran yaitu jenis tamr yaitu kurma yang benar-benar masak pohon dan jenis kurma ruthob. Kurma ruthob merupakan jenis kurma yang dipetik sebelum buah tersebut matang. Kurma setengah matang ini memiliki rasa yang lezat, daging buahnya empuk, manis dan lembut. Karena ada jenis kurma yang tidak bisa bertahan lama, maka Yasir mendatangkan kurma-kurma tersebut menggunakan dua jasa angkutan laut dan udara. “Khusus kurma ruthob harus naik pesawat, karena dibiarkan sehari saja mudah rusak dan busuk. Lain halnya dengan jenis kurma lainnya, tahan satu hingga dua tahun”, jelas Yasir.
Di toko Lawang Agung, aneka jenis kurma ditawarkan dengan harga yang beragam begitu juga dengan macamnya. Dari Madinah begitu banyak jenisnya. Ada sekitar lebih dari 5 jenis, di antaranya ruthob, mabrum, sofri, helwi, safawi, ajwah, dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan kurma Mesir, kurma Tunisia yang juga populer dan banyak disuka. Mengenai harga, kurma-kurma itu ditawarkan dari harga yang murah sekitar 16 ribu rupiah per kilo hingga 250 ribu perkilonya untuk kurma ruthob.
Buah-buahan ini makin laris saat musim haji dan bulan puasa, pembelinya pun bervariasi dari perseorangan hingga perusahaan besar. Baik dari sekitar Surabaya maupun dari luar kota.

Kurma Berkhasiat Obat
Di balik cita rasanya yang legit, buah kurma merupakan salah satu buah yang memiliki kandungan kalori terbilang cukup tinggi yang dihasilkan dari karbohidrat. Di antara sekian banyak jenis kurma, kurma jenis ajwah paling banyak dicari pembeli. Ada yang bilang kurma ini adalah kurma Nabi yang berkhasiat sebagai obat.
Kurma tersebut berwarna hitam pekat, bentuknya bulat dan rasanya begitu legit. Sebagai buah yang berkhasiat obat, kurma Ajwah dipercaya untuk menyuburkan kandungan, meningkatkan hemoglobin, meredakan demam, mengobati pilek, radang tenggorokan, radang pernafasan ataupun radang hati.
“Orang yang membeli kurma ajwah seringnya tidak untuk dikonsumsi sehari-hari, tetapi sebagai obat. Kadang juga, sebagai makanan pembuka saat puasa senin kamis. Karena berkhasiat Sebagai obat, kurma jenis ajwah, memiliki harga yang relatif cukup mahal, sekitar 250 ribuan perkilo” ungkap Yasir.

Macam Kurma & Penyimpanannya
Kalau diamati lebih detail, umumnya buah kurma memang mudah sekali dikenali. Berbentuk bulat lonjong nan mungil dengan diameter antara 1 – 3 cm, warnanya kuning hingga cokelat kemerahan, tekstur daging buahnya yang lembut, tebal dan berbiji, serta citarasanya yang legit. Dari sekian banyak jenis kurma, buah-buahan ini memiliki penampilan bentuk yang berbeda-beda.
Kurma Mesir dan kurma Tunisa yang popular dan banyak disuka, memiliki bentuk yang serupa, lonjong, kadar gula buahnya tidak lengket, dan untuk kurma Tunisia biasanya dijual dalam keadaan masih ada tangkainya. Sedangkan kurma California (Amerika), berukuran besar-besar dan rasanya cenderung legit. Jangan salah, ada juga lho kurma yang daging buahnya lonjong teksturnya agak keras, manis dan warna cokelat kemerahan, kurma ini jenisnya kurma mabrum.
Buah kurma memiliki kulit yang tipis sehingga memudahkan daging buahnya dimasuki ragi dari udara yang akan memfermentasi karbohidrat. Dengan kandungan kadar gula yang tinggi, maka buah kurma tidak perlu diawetkan lagi.
Sebagai pengusaha yang sudah berpengalaman dalam urusan kurma, Yasir menyarankan sebaiknya kurma disimpan dalam tempat yang sujuk, bersih, terhindar dari air dan bebas dari kutu kecuali kurma ruthob harus disimpan dalam lemari pendingin. Yang musti ingat musuh kurma adalah kutu. Serangga kecil ini bisa menembus daging kurma seperti rayap. Sehingga meninggalkan serbuk-serbuk putih saat kurma dibelah. Dengan begitu kualitas kurma sudah jelek.
Lantas bagaimana memilih kurma yang berkualitas? Yasir menjelaskan “Setiap orang memiliki lidah pengecap yang berbeda-beda untuk merasakan bagaimana jenis kurma yang enak atau tidak itu tergantung dari selera. Ada yang suka rasa kurmanya sangat manis sekali, ada juga yang tidak”, pungkasnya. (LeZAT)

Di Balik Sukses Kue Kering Ginos & Tutinos


Momentum Lebaran atau Idul Fitri kerap dituding sebagai hari-hari paling konsumtif. Namun bagi mereka yang memiliki kejelian, justru pola konsumtif itu bisa dibalik jadi produktif. Contohnya adalah Pak Wagino dan Bu Tuti Karnasih. Berikut reportase tabloid LeZAT edisi 116.

LEBARAN merupakan hari fitri yang sangat dinanti-nanti seluruh umat muslim setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa. Tak hanya saling bersilaturahmi dan memaafkan, namun saat lebaran tiba, tentu saja kita juga ingin menyuguhkan suguhan istimewa di hari yang istimewa pula. Suguhan lebaran tak lengkap rasanya tanpa kehadiran kue-kue kering yang identik disebut dengan kue-kue lebaran. Nah, menjelang lebaran, kue-kue kering pasti banyak diburu orang, baik untuk dijadikan suguhan maupun sebagai hantaran. Dimana kita bisa mendapatkan kue-kue kering untuk suguhan maupun hantaran saat lebaran nanti?
Menjelang lebaran, pasti banyak sekali toko-toko maupun supermarket yang menjual aneka macam kue kering. Sehingga, tak ada salahnya bila kita mengenal sosok pengusaha kue kering yang kini telah meraup kesuksesan besar setelah menggeluti usaha kue kering.


Berawal dari Coba-Coba
Mereka adalah pasangan suami istri, Pak Wagino dan Bu Tuti Karnasih. Mereka merintis usaha kue-kue kering ini pun juga berawal dari coba-coba saja. Berawal dari hobi memasak dan membuat kue, maka pada bulan Mei 1997, Bu Tuti pun iseng-iseng membuat satu toples kue kering lalu menitipkannya di warung terdekat dengan rumahnya. Ternyata, baru sehari saja kue kering buatan Bu Tuti sudah laku terjual. Kemudian esoknya lagi, Bu Tuti kembali membuat 2 toples kue kering dan kembali menitipkannya di warung. Ternyata, 2 toples kue kering itu pun laku juga berkat promosi gratis dari mulut ke mulut orang yang sudah pernah membeli kue kering Bu Tuti. Malahan banyak yang mulai memesan kue kering buatan Bu Tuti.
Sejak saat itulah Bu Tuti dengan dibantu suaminya, Pak Wagino, mulai serius membuat kue kering dalam jumlah yang lebih besar dan menitipkannya ke warung-warung. Saat itu, Bu Tuti hanya membuat kue putrid salju, nastar, pia, kue kacang, dan kue gambang yang memang sudah familiar di masyarakat.
Semakin lama, pesanan kue kering yang datang ke Bu Tuti dan Pak Wagino ini semakin banyak hingga akhirnya mulai mempunyai karyawan. Apalagi bila menjelang bulan puasa dan lebaran, pesanan bisa meningkat berkali-kali lipat sehingga sering kewalahan memenuhi permintaan pembeli yang tidak saja datang dari kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor , Depok, Tangerang, dan Bekasi), namun juga mulai merambah ke kota-kota lain di Jawa Barat.
Akhirnya pada awal tahun 2003, Pak Wagino dan Bu Tuti mulai mencari pinjaman modal ke Bank, dan ternyata proposal yang diajukan langsung disetujui oleh BRI yang memberikan bantuan modal sekitar Rp 1,7 Milyar. Setelah mendapatkan kucuran modal dari bank, mulailah Pak Wagino mencari lokasi strategis untuk pembuatan sebuah pabrik kue. Kebetulan sekali, lokasi yang didapat untuk pembuatan pabrik seluas 2000 meter persegi ini berada di Jln Bougenville RT. 10/RW. 3 Kelurahan Kamal Kecamatan Kalideres Jakarta Barat yang tempatnya tidak begitu jauh dengan Bandara Soekarno Hatta.
Sejak saat itulah, Pak Wagino dan Bu Tuti mulai pindah rumah dan tempat usaha, yang semula tinggal di Pademangan Jakarta Utara kemudian sempat pindah lagi ke kawasan Sunter Jakarta Utara, akhirnya tinggal tidak jauh dengan pabrik kue kering miliknya tersebut.
Dengan tempat tinggal yang berdekatan dengan pabrik kuenya, maka lebih memudahkan Pak Wagino dan Bu Tuti dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja para karyawannya, sehingga kualitas mutunya tetap bisa dipertahankan.
Setelah pabrik mulai berdiri kokoh, mau tidak mau Pak Wagino harus membeli mesin oven skala besar yang bisa memanggang kue dalam jumlah besar. Maka, ia sering mendatangi acara-acara pameran mesin-mesin industri makanan. Ternyata, biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli mesin oven dalam skala besar ini lumayan besar, sehingga Pak Wagino dan Bu Tuti yang hanya lulusan SMA ini harus memutar otak untuk menciptakan mesin oven sendiri untuk menghemat biaya.
“Bapak kan memang pintar nggambar, jadi dengan mencari informasi di majalah akhirnya Bapak menggambar dan merakit sendiri mesin oven dan memesannya ke orang Depok. Dan ternyata oven yang didesain Bapak, bisa juga dibuat. Setiap oven memerlukan biaya hingga Rp 40 juta, dan kita sekarang memakai 3 buah oven,” terang Bu Tuti.
Dengan oven rakitannya sendiri itu, tidak kurang dari 40 – 45 loyang kue bisa dipanggang dalam setiap oven dengan memerlukan waktu panggang sekitar 30 menit.

Aneka Kue Kering Penggoda Selera
Dari beberapa macam kue kering saja, seperti kue salju dan nastar, kini Bu Tuti dan Pak Wagino sudah bisa membuat 104 macam kue kering yang tentu saja menggugah selera. Ada kue Cokelat Blok, Cerry Green, Nastar Tulip, Carlous Wijen Coklat, Green Kenari Keju, Marlo Mede, Cokelat Carlous Mede, Marlo Double Mede, Keju Cokelat Blok, Sagu Keju, dan masih banyak lagi pilihan kue kering lainnya.
Untuk selalu menambah variasi kue, Pak Wagino dan Bu Tuti selalu melakukan inovasi dengan menciptakan kue-kue rasa baru. Karenanya, Pak Wagino dan Bu Tuti yang memang keduanya jago membuat kue ini selalu rajin membaca aneka majalah dan tabloid kuliner untuk memperkaya wawasannya menciptakan kue-kue rasa baru.
“Saya memang suka sekali baca-baca majalah atau tabloid kuliner. Dari situ saya mulai dapat inspirasi untuk mencoba-coba resep baru,” ungkap Pak Wagino.
Dengan pabrik seluas 2000 meter persegi dan listrik berkapasitas 14.000 watt, pabrik kue Pak Wagino dan Bu Tuti bisa memproduksi sekitar 2000 lusin kue kering setiap hari. Tentu saja dengan produksi selama 24 jam sehari dan dikerjakan oleh sekitar 270 karyawan yang bergantian shift.
Tak hanya menciptakan prospek usaha yang menguntungkan, namun usaha kue kering Pak Wagino dan Bu Tuti ini juga membantu mengurangi angka pengangguran dengan banyak memperkerjakan karyawan yang tinggal di daerah sekitar pabrik, sehingga turut membantu pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi remaja putus sekolah maupun ibu-ibu rumah tangga.

Paket Harga Menggiurkan
Untuk memenuhi selera pembeli, selain menciptakan berbagai pilihan rasa Pak Wagino dan Bu Tuti juga menyiapkan berbagai pilihan harganya. Ada 4 klasifikasi harga, yang masing-masing dibedakan sesuai dengan merk jualnya.
Kue Asorted (paket lebaran isi 6 toples) merk Tutinos (merk termurah) dijual seharga Rp 75.000. Asorted (paket lebaran isi 6 toples) merk Tuti (merk agak murah) dijual dengan harga Rp 85.000. Asorted merk Ginos (merk agak mahal/sedang) dijual dengan harga Rp 150.000, sedangkan Asorted King’s Gin (merk termahal) dijual dengan harga Rp 200.000. Selain itu juga tersedia paket parcel berisi 3 toples.
Saat ini, kue kering Pak Wagino dan Bu Tuti telah menjangkau kota Sumatera dan Lampung, Batam, Bali , Kalimantan, dan juga Irian Jaya. Bahkan distribusi kue-kue Pak Wagino ini juga telah masuk ke berbagai mall dan toko ritel seperti Ramayana, Makro, Indomart dan Alfamart.
Kesuksesan yang diraih Pak Wagino dan Bu Tuti tentu diraih dengan semangat yang besar dan kerja keras, sehingga kurang dari 5 tahun saja sudah mencapai Break Even Point alias balik modal dan mengembalikan pinjaman bank.

Utamakan Kualitas Rasa
Agar tetap bersaing dengan usaha-usaha serupa, maka kue-kue kering Pak Wagino dan Bu Tuti ini selalu mengutamakan kualitas rasanya. Sehingga bahan-bahan pembuat kue pun merupakan bahan-bahan pilihan. Beberapa bahan bahkan ada yang diimpor dari luar negeri, seperti keju dari Belanda, Mentega dari Belanda, susu dari Australia . Sedangkan tepung dan gulanya tetap menggunakan pasokan lokal dengan kualitas terbaik.
Karena menggunakan bahan-bahan impor itulah maka Pak Wagino kadang menemukan hambatan, lantaran pewangi makanan yang diimpor dari Australia suka terlambat pengirimannya.
“Kesulitan kita itu justru saat mengimpor pewangi makanan yang khusus kita beli dari Australia . Kadang pengirimannya suka terlambat,” papar Pak Wagino yang kelahiran Cilacap Jawa Tengah, 7 Januari 1965 ini.
Sekali mencoba kue-kue kering Pak Wagino dan Bu Tuti ini, dijamin langsung ketagihan, terlebih dengan harga yang sangat menggiurkan. Berani mencobanya? (LeZAT)

Sea Master, Seafood Market & Open Kitchen

24 September 2008


Enggan bersantap soto, rawon, pecel, atau makanan yang itu-itu saja. Tidak ada salahnya sesekali memanjakan lidah dengan hidangan seafood yang diolah dalam beragam resep sesuai selera.

BAGI Anda yang ingin melakukan perbaikan gizi, makanan seafood sangat layak dikonsumsi. Alasannya, menu berbahan dasar biota air ini merupakan makanan alternatif yang banyak mengandung protein, lemak, dan vitamin. Banyak ragam resep diolah sebagai penunjang selera makanan yang satu ini, bahkan di tiap negara antar benua mempunyai ciri khas resep berbeda satu sama lain dengan keunggulan masing-masing di dalamnya.
Bila di Indonesia terkenal dengan makanan tekwan, pem-pek, dan otak-otak maka di Jepang cukup tenar dengan makanan bernama tempura, sushi atau sashimi. Sementara di Thailand cukup populer dengan menu olahan tom som pla dan tom yam yang sama-sama berbahan dasar seafood. Di benua selain Asia, negara-negara di benua Amerika, Eropa dan Australia juga mempunyai kekayaan khas kuliner berbahan biota air.

Bagi warga Surabaya, yang ingin mencicipi masakan seafood dalam beragam sajian, tidak ada salahnya mendatangi restoran khusus penyaji menu seafood yang kini sudah cukup menjamur. Salah satunya adalah Sea Master Seafood Market & Restaurant. Resto yang berada di kawasan Surabaya barat ini termasuk salah satu tempat makan seafood jempolan yang ada di kota ini.
Tidak hanya menu olahan dalam negeri yang bisa dipilih, menu olahan luar negeri dari racikan chef manca dan domestik bisa dipesan dalam berbagai keinginan. Termasuk pengunjung yang gemar dengan makanan seafood yang dimasak ala makanan khas Asia, terutama untuk masakan khas Thailand.
Sup tom yam seafood paling dicari di resto yang mendiami food garden di kawasan HR. Muhammad ini selain masakan berjuluk tiga rasa. Dua jenis hidangan ini diakui paling diburu para pelanggan karena mengusung rasa bak di negara asalnya meski kadang pesanan pengunjung dimodifikasi dengan selera lidah masyarakat lokal.
Olahan tiga rasa dari ragam bahan seafood seperti kepiting, belut, ikan gurami, patin, udang, lobster, dan kerang menjadi menu khas dari resto ini. Bermodal chef atau koki kepala langsung dari Thailand, menu yang beraromakan rasa asam, asin, dan pedas ini disajikan tanpa mengurangi kelengkapan taste masakan itu sendiri.
“Sea Master sengaja mendatangkan koki asli dari Thailand untuk menjaga kualitas rasa sajian menu disini. Chef ini sebagai kepala untuk senantiasa mengontrol masakan-masakan yang dipesan, dengan begitu nantinya tidak mengurangi taste masakan itu sendiri. Seperti halnya tom yam dan masakan tiga rasa yang banyak digemari pengunjung,” kata Dian Sandrayani.

Seafood Market
Pengalaman berbeda juga ditawarkan di tempat ini, para pengunjung diberi keleluasaan untuk memilih sendiri jenis seafood yang akan dilahapnya. Artinya, pengunjung bisa melihat langsung jenis biota air dalam akuarium dan memesannya untuk dimasak dalam olahan sesuai selera.
Pola seperti ini akan memudahkan pembeli memilih ukuran bahan dasar seafood tanpa khawatir kantong jebol. Ragam jenis bahan seafood hidup dalam akuarium sudah ditempeli kertas bertuliskan harga beli bak toko swalayan. Bila enggan membeli bahan yang masih hidup, pengunjung bisa memilih seafood fresh yakni bahan yang sudah mati tapi masih segar dalam ‘balutan’serutan es. Sama seperti diatas, jenis fresh ini juga banyak ragam yang bisa dipilih mulai kerang, lobster, kerapu sampai aneka jenis ikan laut.
Tak cukup disitu, selain bahan dasar seafood hewani, beberapa jenis sayur-mayur turut dijual sebagai pelengkap olahan masakan. Di tempat itu, disediakan space khusus untuk mendisplay sayuran berjajar dengan seafood fresh. “Kami memang menerapkan sistem market sebagai pembeda dengan tempat lain. Dengan begini, pembeli bisa leluasa memilih dan memesan makanan yang disuka tanpa membatasi porsi sajian,” kata wanita yang menjabat komersial manager ini.
Setelah pengunjung puas dengan bahan-bahan itu, berikutnya pengunjung bisa melongok langsung cara pembuatannya. Setelah pilih-pilih bahan dan request menu masakan, pengunjung bebas melihat pola memasak para koki resto.
Menurut Dian, di restoran tersebut sudah menerapkan sistem open kitchen. Jadi pembeli bisa melihat langsung proses pembuatan masakan dari dapur ‘terbuka’ yang hanya tersekat kaca, dengan begitu pembeli tidak akan merasa kecewa dengan pola pembuatan yang dirasa kurang bersih atau meragukan kehalalannya. “Disini pengunjung tidak usah merasa sangsi karena bisa melihat langsung pola pembuatan dan penyajiannya. Selain kebersihan, resto ini juga menjamin 100 % halal dan terbebas vetsin,” kata Dika.
Puas melihat proses memasaknya, berikutnya pengunjung bisa memilih posisi makan yang pas. Selain bisa memilih di hall utama, bisa juga memilih di lokasi dekat kolam ikan. Atau kalau sedang ramai-ramai, bisa memesan ruangan khusus atau privat room. Setidaknya di resto ini mampu menampung 1000 ruang, atau sekitar 100 meja. *venus/f&r


Ragam Olahan Seafood Antar Negara

ASIA
Indonesia: tekwan, pempek, otak-otak, sambel be tongkol, be pasih mepanggang
Jepang: sashimi, sushi, tempura, kamaboko
Korea: mae-un tang, okdom-gui
Kamboja: samla mchou banlé, dan khor trey
Myanmar: mohinga
Singapura dan Malaysia: kepiting lada hitam, yong taufu
Thailand: tom yam, tom som pla
Vietnam: canh chua cha, chạo tôm cuốn, cá chiên nước mắm gừng

EROPA
Bulgaria: Tikvitchki s Anshoa
Italia: Brodetto di Pesce Veneziano
Jerman: Hamburger Aalsuppe
Perancis: Bouillabaisse, Anguille Médocaine, Morue à la Bordelaise, Saumon en Pain de Caudebec, Alose au Four
Polandia: Sledz w Smietanie
Portugal: Caldeirada
Spanyol: Caldereta, Lubina a la Santanderina
Turki: Balık Corbasi Bodrumlı
Yunani: Kakaviá, Athenaikí Mayonaísa

AFRIKA
Maroko: Sharmoola

AMERIKA
Amerika Serikat: clam chowder, crab cake

Kemuliaan di Ujung Malam

20 September 2008


Malam kian larut berselimut gulita
T’lah sekian lama tiada kekasih kucumbu
Demi Allah, bila bukan karena mengingat-Mu
Niscaya ranjang ini t’lah bergoyang
Namun duhai rabbi,
Rasa malu telah menghalangiku…

HARI demi hari berlalu tanpa kesan apa pun, semua dirasakan kosong, semua berlalu secepat petir yang singgah hanya dalam hujan sehari. Perasaan itu seakan berteriak kencang ‘aku butuh teman’….tapi tak seorang pun mampu mendengarnya, lalu dipejamkan matanya, berpikir…’aku dalam kesendirian’.Kungkungan sunyi dan kehampaan hati itu seakan bertanya, adakah seseorang yang mau berbagi. Berbagi dalam suka dan duka, tak peduli pagi, siang dan malam. Dia membutuhkan semua itu, merindukan saat-saat indah itu. Saat ketika rindu menyapa yang membawanya jauh dengan perasaan itu, hasrat itu.
Wanita itu termenung di balik jendela kamarnya. Tatapan matanya kosong. Sementara suasana malam terasa begitu mencekam: dingin dan sepi. Suami tercinta berada di negeri jauh melaksanakan tugas khalifah di medan jihad. Wanita itu nyaris frustrasi karena pertahanan diri mulai terganggu. Wanita shalihah yang tinggal di pinggiran madinah ini lebih suka sendirian dalam kamarnya. Ia seakan hilang dari kehidupan ramai. Apalagi sewaktu udara begitu dingin menusuk tulang. Berkawankan sepi dan dingin, namun dalam suasana demikian mampukah wanita itu melahirkan muraqabatullah.
Syair itu menggambarkan pergulatan batin yang luar biasa, dilantunkan seorang perempuan di zaman Umar bin Khatab. Waktu itu, Umar sedang berkeliling kota dalam kegelapan malam. Dalam perjalanan rutin itu, sampailah beliau ke dekat rumah seorang perempuan yang sedang menahan gejolak biologisnya karena ditinggal berjihad suaminya dalam waktu yang lama. Untuk sekedar menghibur diri sendiri dalam kesepian yang begitu sangat, terlantunkanlah syair itu yang kemudian didengar oleh Umar.
Keterpisahan dengan suami tercinta dalam waktu lama, kesepian, kegelapan malam melambangkan kesuraman yang melanda jiwanya. Kesulitan untuk tidur pada waktu itu mungkin merupakan pengalaman terburuk yang pernah dijumpainya. Penderitaan yang paling menyiksa bagi seseorang yang mengalami kesepian.
Orang yang terjaga dari tidurnya di tengah-tengah kesunyian malam, sangat mudah dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya. Bayang-bayang mimpi yang mendatangkan perasaan cemas dan gelisah meninggalkan kesan yang mencekam perasaan. Cara apa pun yang katanya dapat menghapus perasaan was-was itu pada keesokan harinya tidak banyak bermanfaat. Bahkan, sekalipun kita tidak mengalami tekanan perasaan seberat yang dialami wanita tadi, ketakutan-ketakutan (trauma) yang terkubur dalam alam bawah sadar kita menyebabkan kita mudah diserang oleh perasaan cemas dan gelisah itu.
Manusia tanpa kesadaran muraqabatullah akan selalu dahaga, karenanya mereka sangat bernafsu untuk memburu segala sesuatu yang berhubungan dengan hasrat ini. Menyalurkan hasrat rendah ini dalam rel yang berseberangan dengan perintah Allah bukanlah meredakan gairah, tapi malah semakin memacu semangat mendapatkan kemaksiatan yang lain. Faktanya, usaha manusia untuk senantiasa berpacu dalam memenuhi segala hasratnya malah menimbulkan tegangan dan dorongan baru yang harus dikejar dan dipenuhi yaitu “keinginan”.
Keinginan adalah sesuatu yang paradoks: setelah suatu keinginan terpenuhi, timbul keinginan lain untuk segera diselesaikan dan dipenuhi hajatnya. Namun, dalam kerangka kehidupan modern, keinginan haruslah menjadi sesuatu yang tak berujung dan harus selalu diposisikan sebagai pesona yang dapat menyedot hasrat.
Subhanallah, ternyata penderitaan wanita itu tidak berakhir dalam kemaksiatan. Kesetiaannya masih tegak berdiri seperti gunung memaku bumi. Padahal badai hasrat itu begitu kuat seakan tsunami yang melantakkan apa saja. Namun ‘al khauf’ yang menghunjam jiwanya memenangkan Allah atas segalanya. Hatinya dikuasai Allah, kesadaran dzikrullahnya begitu teruji.
Inilah pangkal masalah terbesar yang kita hadapi saat ini yaitu jauh dari Allah, jarang mengingat Allah, dan “dikuasainya” hati kita oleh sesuatu selain Allah. Inilah masalah yang akan mendatangkan banyak masalah lainnya. Saat jauh dari Allah, maka kita akan leluasa berbuat maksiat. Tidak ada lagi rasa malu. Tidak ada lagi rasa diawasi oleh Allah, sehingga tidak ada lagi yang mengendalikan perilaku kita. Maksiat inilah yang kemudian melahirkan ketidaktenangan, kehinaan, dan kesengsaraan hidup.
Sejak temuan kasus ini, maka Umar bersegera menemui putrinya yang tercinta, Hafshah, kemudian bertanya, “Berapa lama seorang perempuan tahan menunggu suaminya ?“ Dijawablah oleh Hafshah, “empat bulan”. Setelah kejadian tersebut, Umar memerintahkan kepada para panglima perang untuk tidak membiarkan seorangpun dari tentaranya meninggalkan keluarganya lebih dari empat bulan. Begitulah kepedulian sekaligus solusi seorang pemimpin seperti Umar di zamannya.
Kemudian apa yang tengah terjadi dengan wanita kita sekarang, dengan isteri-isteri kita, dengan anak-anak kita bahkan dengan ibu-ibu kita. Kalau keterbatasan teknologi di zaman Umar saja nyaris menggelincirkan iman seorang wanita mukminah, bagaimana dengan kita sekarang? Zaman dimana teknologi telah menyatu dengan kehidupan manusia kalaupun belum bisa dikatakan diperbudak teknologi. Hampir tak ada wilayah privacy yang tidak tersentuh produk teknologi ini, bahkan ketika kita menghadap Allah pun ringtone HP masih menyertai. Industrialisasi yang kapitalistik telah menghantarkan wanita sebagai komoditas. Semangat konsumerisme dipompakan dengan begitu hebat. Pengertian konsumsi yang absurd ini dalam kehidupan modern menjadi arena sosial yang menyedot dan menarik minat energi pelampiasan.
Ia menjelma menjadi medan kesadaran yang harus segera dipenuhi dan dipuaskan kebutuhannya. Identitas diri di hadapan lingkungan sosial yang demikian diperebutkan dan dibentuk oleh produk-produk rayuan melalui citra-citra tertentu yang ditawarkan lewat berbagai media massa: Supaya Anda kelihatan jantan dan macho Anda harus mengisap rokok tertentu. Supaya perempuan kelihatan cantik, pergunakanlah kosmetik merek tertentu. Agar Anda dikategorikan sebagai manusia yang tidak ketinggalan zaman, milikilah atribut artis yang lagi ngetop!
Logikanya adalah jika segala hawa nafsu disalurkan demi pemenuhan kenikmatan, ia dapat menjadi semacam dinamo yang pengoperasiannya bisa dilakukan menjadi tanpa batas sehingga akhirnya ia menjelma menjadi sesuatu yang tidak realistis dan membahayakan eksistensi manusia itu sendiri. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika para ‘ulama yang shalih, misalnya, memandang manusia seperti ini sebagai manusia yang dibutakan matanya yang hanya tertarik pada kulit ketimbang terpesona untuk mencari dan menemukan isi.
“Apakah engkau tidak perhatikan orang yang telah menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Apakah engkau akan dapat menjadi pelindungnya. Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memehami? Mereka itu hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi.” Qs. Al Furqan: 43-44)
Dapat dimengerti jika logika hawa nafsu sanggup memalingkan dan menyamarkan setiap upaya pencarian manusia terhadap nilai-nilai luhur sebab logika hawa nafsu yang mewabah akibat bekerjanya spirit kapitalisme diproduksi oleh apa yang mereka sebut sebagai “mesin hawa nafsu”–sebuah peristilahan psikoanalisis yang mereka gunakan untuk menjelaskan mekanisme produksi “ketidakcukupan” dalam diri seseorang. Keinginan untuk “memiliki” bukan disebabkan “ketidakcukupan alamiah” yang ada dalam diri kita, melainkan hanya untuk memenuhi pencarian identitas yang tidak henti-hentinya. Oleh karena itu, identitas manusia hari ini adalah identitas yang dibangun oleh proses konsumsi dan proses komoditi dari citraan dan rayuan-rayuan media massa.
Iklan-iklan di televisi misalnya, ia beroperasi lewat pengosongan tanda-tanda dari pesan dan maknanya secara utuh sehingga yang tersisa adalah penampakan semata. Sebuah wajah merayu yang penuh atribut dan make-up adalah wajah yang kosong tanpa makna sebab penampakan artifisial dan kepalsuannya menyembunyikan kebenaran diri. Apa yang ditampilkan dari kepalsuan dan kesemuan tersebut menjadi sebuah rayuan bagi para pemirsa. Hingga yang muncul dari sebuah rayuan, bukanlah sampainya pesan dan makna-makna, melainkan munculnya keterpesonaan, ketergiuran, dan gelora hawa nafsu: gelora seksual, gelora belanja, gelora berkuasa.
Sehingga tidak sedikit kita lihat, banyak wanita yang terjebak dengan anggapan bahwa keelokan fisik adalah segala-galanya. Mereka menganggap bahwa kemuliaan dan kebahagiaan akan didapat bila berwajah cantik, kulit yang putih, dan tubuh yang ramping. Maka tidak aneh kalau banyak ditemukan wanita yang mati-matian memperputih kulitnya, mengoperasi plastik bagian tubuhnya, menghambur-hamburkan berjuta-juta uang demi mengejar prestise.
Sementara bagi yang tidak mampu, mereka menjadi rendah diri dan merasa tereliminasi dari pergaulan. Padahal, kecantikan dan kemolekan tubuh tidak dapat dijadikan tolok ukur kemuliaan. Lebih jauh lagi, semua itu tidak bisa menjamin seseorang akan bahagia. Sesungguhnya kemuliaan yang diraih seorang wanita salehah adalah karena kemampuannya untuk menjaga martabatnya (‘iffah) dengan hijab serta iman dan takwa.
Ibarat sebuah bangunan, ia akan berdiri lama jika mempunyai pondasi yang kokoh. Andaikan pondasi sebuah bangunan itu tidak kokoh, maka seindah dan semegah apapun, pasti akan cepat runtuh. Begitu juga dengan iffah yang dimiliki oleh seorang wanita, dengan iman dan takwa merupakan pondasi dasar untuk meraih kemulian-kemulian lain.
Dengan iffah, seorang muslimah akan selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Sebagaimana terukir dalam hadis Nabi Saw. : ”Malu dan iman itu saling bergandengan, jika hilang salah satunya, maka hilanglah bagian yang lain.” (HR. Hakim dan At-Thabari).
Adanya rasa malu, membuat segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan melakukan sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Sehingga dengan akhlak yang dimiliki, ia lebih harum daripada kesturi.
Dengan iffah, seorang muslimah akan sadar betul bagaimana cara bersikap dan bertutur kata. Tidak ada dalam sejarah, seorang wanita salehah centil, suka jingkrak-jingkrak dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian mutu manikam yang penuh makna bermutu tinggi.
Tengoklah figur-figur mulia yang mendapatkan tempat terhormat di tengah-tengah umat hingga kini. Khadijah ra. misalnya, namanya terus berkibar sampai sekarang, bahkan setiap anak wanita dianjurkan untuk meneladaninya.
Terkenalnya seorang Khadijah bukan karena kecantikan wajahnya, namun karena pengorbanannya yang demikian fenomenal dalam mendukung perjuangan dakwah Rasulullah Saw. Begitu pun Aisyah ra., salah seorang istri Nabi dan juga seorang cendikiawan muda. Darinya para sahabat mendapat banyak ilmu. Ada pula Asma binti Yazid, seorang mujahidah yang membinasakan sembilan tentara Romawi di perang Yarmuk, hanya dengan sebilah tiang kemah. Masih banyak wanita mulia yang berkarya untuk umat pada masa-masa berikutnya. Keharuman dan keabadian nama mereka disebabkan oleh kemampuan mengembangkan kualitas diri, menjaga iffah (martabat), dan memelihara diri dari kemaksiatan. Sinar kemuliaan mereka muncul dari dalam diri, bukan fisik. Sinar inilah yang lebih abadi.* (Aidil Heryana, S.Sosi)

Seafood Basket, Renyah hingga Gigitan Terakhir

13 September 2008



Bagi penggemar seafood cobalah sajian yang terdiri dari ikan, udang, kerang dan cumi-cumi yang dibalut tepung dan disajikan dalam satu basket. Apalagi dipadu saus tar-tar, membuat sajian ini mempunyai rasa yang berbeda dan unik. Dimana kita bisa menikmati sajian seafood ini?

KESAN mewah, megah dan mahal mungkin pertama kali terbesit dalam benak Anda, ketika mampir di Pakuwon Golf & Family Club yang terletak di kawasan Vila Bukit Regensi Pakuwon Indah Surabaya. Dengan panorama yang indah dan suasana yang nyaman seakan menjadi daya tarik tersendiri.

Di tempat ini, ada 3 tempat jujukan yang mampu membius Anda dalam menikmati makanan dengan nuansa yang berbeda, di antaranya Moonlight Bistro, Gazebo Pool Terrace dan Palm Cafe. Bersantap di resto-resto yang elegan dan nyaman ini, para tamu selalu dimajakan dengan pemandangan asri yang tertata cukup apik dan semua itu memberikan atmosfer yang indah yang bisa menenangkan hati.
Selain itu, untuk memuaskan selera tamu yang datang, Fahriansyah selaku Executive Sous Chef dan tim dapur Pakuwon Golf & Family Club cenderung lebih banyak menyediakan beragam menu populer. Pilihan menunya yang beragam, belum lagi ada tambahan menu pilihan yang selalu berganti setiap jangka waktu tertentu. “Menu yang beragam ini dimaksudkan agar tamu yang hendak makan di Moonlight Bistro, Gazebo Pool Terrace dan Palm Cafe selalu punya pilihan hidangan sesuai selera dan tidak cepat bosan meski sering berkunjung ke sini. Dan salah satu menu itu ada seafoodnya lho”, terang Fahriansyah kepada FR & VENUS.

Apa Istimewanya, sih?
Pilihan menu yang sengaja FR recomended kali ini adalah Seafood Basket. Hidangan ini boleh disebut bagian dari masakan Barat (western) yang cara memasaknya sangat khas dengan bumbu-bumbu yang praktis. Sajian seafood basket memiliki kelezatan dengan ciri khas tersendiri dan cocok dinikmati untuk lidah orang Timur maupun Barat.
Untuk hidangan seafood ini terdiri dari ikan, udang, kerang hijau dan cumi-cumi yang digoreng dengan balutan tepung roti. Sebelum digoreng bahan makanan tersebut dibumbui dengan merica dan garam, lalu didiamkan selama beberapa menit agar bumbunya meresap.
Bahan sari laut atau seafood dominan aromanya sangat amis. Nah untuk menyiasatinya Chef Fahriansyah memiliki trik tersendiri. “Bila seafood akan diolah menjadi masakan Barat bisa ditambahkan perasan air jeruk lemon atau bawang putih yang dicincang. Sedangkan untuk masakan oriental, penghilang aroma amis biasanya saya menambahkan jahe,” sarannya.
Pembuatan seafood basket sebenarnya tidak terlalu sulit cuma diperlukan keuletan, karena teknik pencelupan berkali-kali dalam telur kocok kemudian dilumuri tepung roti (bread cramb). Ketika semua bahan seafood tertutupi oleh tepung roti dan supaya benar-benar menempel, bahan tersebut harus disimpan terlebih dahulu dalam lemari pendingin.
Keunikan dari seafood basket, setelah bahan dipotong dan dibersihkan seperti cumi-cumi dipotong bulat-bulat atau udang yang telah dikupas dan tinggal ekornya itu dilumuri tepung roti hingga rata. Kemudian seafood-seafood yang telah digoreng itu disajikan dengan pelengkapnya saus tartar.
Saus tartar dibuat dari mayonnaise dan diaduk dengan putih telur rebus cincang. Agar lebih berasa tambahan bumbu merica dan garam tak pernah terlupakan. Sebagai pelengkapnya, kentang keriting goreng berbumbu siap menemani acara bersantap Anda.
Siap menyantap seafood basket? Begitu dinikmati, rasa daging seafoodnya sangat menggigit. Kerenyahan dari balutan tepung roti yang krispy, membuat seafood basket renyahnya sampai pada gigitan terakhir. Anda mau coba?
Menikmati Seafood Basket di Moonlight Bistro, Gazebo Pool Terrace dan Palm Cafe yang buka setiap hari ini serasa bersantap di hotel berbintang lima. Bagaimana tidak? Suasana nyaman, rasa sajian seafood basket yang mantap, penyajian hidangan yang begitu menggiurkan dan ditata apik. Harganya pun cukup fleksibel dan tidak membuat kantong bolong mengingat bahan yang digunakan selalu berkualitas. Bayangkan saja, hanya dengan Rp 27.000, kita bisa menyantap seporsi seafood basket lengkap dengan kentang berbumbu dan cocolan saus tartar, dijamin langsung puas. *

Bersantap Olahan Burung Dara Skala Resto

11 September 2008


Di Surabaya, olahan ayam dan bebek sudah cukup populer sebagai lauk andalan. Bagaimana dengan burung dara skala restoran? Apakah juga semaknyuss dan dapat diandalkan seperti menu berbahan unggas lainnya?

MENIKMATI hidangan nasi ayam dan bebek di Surabaya bukanlah hal sulit, karena penjaja kedua menu itu begitu menjamur di jalanan. Sementara untuk merasakan nikmatnya nasi berlauk burung dara (merpati), pembeli harus bersusah payah mendeteksi warung atau restoran penyaji santapan yang jempolan di kota ini.
Penjual makanan yang biasa dihidangkan dengan sambal ini umumnya pedagang kaki lima (PKL) yang mengelar dagangan di bahu jalan protokol. Hampir di setiap sudut jalanan Surabaya, penjual makanan ini bisa dijumpai dengan aneka rasa olahan.

Burung dara goreng biasa dijual bersamaan dengan nama besar lauk ayam, dan bebek. Ini tidak lain karena nama kedua bahan lauk yang terakhir itu lebih familiar ketimbang burung dara. Tapi bila bicara selera, makan berlauk merpati ini tidak kalah nikmat. Bayangkan, gorengan kering lauk burung dara disajikan dengan sambal pedas berpadu lalapan segar. Nyamm…
Bila yang berhasrat enggan untuk menyantap makanan yang satu ini ke kedai atau warung pinggir jalan, ada satu alternatif mendatangi tempat makan yang lebih bersahabat dan berkelas resto. Menu hidangan berlauk merpati juga tidak kalah nikmat disajikan di restoran Mango Terrace.
Ada dua macam olahan burung dara yang dihidangkan di resto ini yaitu dimasak goreng kering dan disajikan dengan guyuran saus inggris. “Tidak ada nama khusus untuk menu ini. Kami hanya menyebutnya burung dara spesial, tinggal pembeli minta di goreng atau pakai saus Inggris,” kata Adji selaku manajer operasional.

Digoreng Renyah
Setelah disajikan, terlihat secara fisik burung dara tampak digoreng begitu kering. Kasat mata, sajian ini begitu renyah dan menggoda selera. Hampir di setiap sisi lauk tersebut terlihat matang, renyah, kering, namun tidak gosong.
Di atas sebuah piring, ‘dihuni’ dua ekor burung dara yang disajikan secara original berupa gorengan kering berpadu dengan lalapan yang berisi daun selada, mentimun, dan tomat. Agar tidak tampak tradisional food, nuansa chinnese food turut diusung dengan menyertakan garam oyong sebagai kombinasinya.
Sementara itu, olahan burung dara dengan saus inggris tidak kalah terkenal di tempat ini. Sama halnya dengan yang original, olahan berbahan saus inggris cukup disuka dengan alasan lebih familiar yaitu variasi masakan yang lebih dikenal ketimbang masakan asing lainnya. Bagi yang tidak suka dicampur bersama lauk, bisa mengorder bumbu saus secara terpisah.

Disajikan secara Alakat
Dalam satu porsi yang tersaji secara alakat, menu burung dara original dan saus inggris memang menghadirkan dua ekor burung dara berukuran tidak besar. “Di sini menu tersebut disajikan secara alakat. Sementara untuk ukuran porsi ya begitu itu, berisi dua ekor. Meski tidak besar, tapi kenikmatannya cukup terasa. Kami memang sengaja menggunakan bahan burung dara yang berusia muda, agar dagingnya lebih empuk. Masih bisa kok untuk 2-3 orang,” katanya.
Menurutnya, diperlukan upaya sortir terlebih dulu untuk bahannya. Burung dara yang dipilih untuk masakan harus berusia lebih muda agar daging yang ‘tidak besar’ itu bisa empuk dikonsumsi. Selain itu, bahan yang digunakan adalah unggas khusus ternak. Ini tidak lain untuk menunjang kesehatan dan kebersihannya.
Restoran yang bersegmen keluarga ini memasang harga burung dara original sebesar Rp.36.000 per porsi. Sementara untuk olahan saus inggris seharga Rp.37.000 per porsi.(*)

Pecel Semanggi: Pusaka Itu Tak Kunjung Punah

10 September 2008


Nasi bebek (nasbek) boleh saja dipredikatkan sebagai makanan khas Surabaya. Namun, nasbek bukanlah satu-satunya makanan khas kota Buaya ini. Selain Nasbek dan lontong balap, Surabaya juga punya pusaka kuliner bernama pecel semanggi.

BILA menjejakkan kaki di kota Pahlawan, mungkin yang sering Anda jumpai adalah makanan bernama soto ayam, rawon, pecel, nasbek, atau makanan aneka sambal. Bukan hanya sekelas pedagang kaki lima saja yang menjajakan, warung atau restoran sekalipun nyaris tidak kelewatan menjajakan ragam makanan di atas.

Tapi bila yang ditanyakan tentang pecel semanggi, maka siap-siaplah mendapat jawaban susah untuk mencarinya. Ya, mencari pecel semanggi tidak semudah membalikkan telapak tangan, atau membandingkan dengan rentetan makanan lainnya, meski nama makanan pecel semanggi cukup kesohor di kota ini. Bahkan bisa dikatakan sebagai ikon Surabaya juga.
Jika dirunut dari sejarahnya, pecel semanggi tidak hanya khas di Surabaya saja. Setidaknya nama pecel semanggi sudah mewakili skala provinsi untuk urusan jenis makanan khas. Pecel semanggi bukan hanya milik Surabaya, tapi sudah menjadi ikon kuliner Jawa Timur.
Sayang, nama besar pecel semanggi rupanya tidak sebanding dengan keberadaannya. Bila ada pepatah menyebut ‘sulitnya mencari jarum dalam tumpukan jerami’, mungkin saja pas dengan memburu pecel semanggi di kota buaya ini. Jangankan untuk mendatangi sebuah restoran atau depot, mencarinya di penjual kaki lima pun juga sulitnya minta ampun.
Penjual pecel semanggi mayoritas menjajakan dagangannya dengan cara berkeliling antar-kampung. Jarang sekali dari mereka menyediakan stan khusus atau semacam warung untuk menggelar dagangan. Di Surabaya, mayoritas penjual pecel semanggi berasal dari kawasan Benowo (daerah Manukan). Pedagangnya kebanyakan wanita paro baya ke atas. Mereka menjajakan semanggi ke seluruh pelosok kota Surabaya dengan menggunakan gendongan di punggung dan berjalan kaki.

Ganti Sendok dengan Krupuk
Bagi yang belum pernah menyantapnya, maka jangan merasa heran ketika melihat makanan khas yang satu ini. Meski modelnya tidak jauh beda dengan makanan berbumbu pecel dan sambal-sambalan, namun tampilan semanggi cukup mengundang perhatian. “Penampilan semanggi memang ya begitu itu, terlihat sederhana. Tapi jangan ditanya rasanya,” kata Arni.
Secara fisik, tampilan pecel semanggi memang tidak eye catching mengingat pecel semanggi hanya dibuat dari bahan daun semanggi yang dikukus dan kemudian dinikmati dengan sambal mirip bumbu pecel. Semanggi kerap dihidangkan bersama sayur-mayur lain berupa kecambah dan kangkung.
Sebagai pelengkapnya, penyajiannya dipadu dengan kerupuk gendar-orang Jawa atau Surabaya biasa menyebut kerupuk puli-yang terbuat dari bahan dasar beras yang ditumbuk hingga halus. Untuk urusan bumbu, pecel semanggi biasa menggunakan bumbu yang berbahan dasar ketela rambat bukan dari kacang tanah laiknya bumbu pecel, tapi tetap saja terasa pedas dan nikmat.
Ada beberapa versi sambal untuk pecel semanggi, di Surabaya bumbu semanggi menggunakan sambal yang dibuat dari singkong, gula jawa, terasi, petis udang, dan cabai. Sementara di Banyuwangi sambal semanggi dibuat dari cabai, serai, belimbing dan sedikit gula jawa.
Dalam pola penyajiannya, daun semanggi yang dikukus itu ditempatkan di sebuah pincuk daun pisang. Pola makannya pun beda, bila umum bersantap dengan sendok dan garpu, maka cara makan semanggi hanya menggunakan perantara kerupuk puli (uli/gendar) berukuran besar itu sebagai pengganti sendok.

Warung, No! Resto, Yes!
Bagi sebagian orang Surabaya, pecel semanggi adalah makanan yang ngangeni. Selain susah untuk membelinya, panganan ini mempunyai rasa dedaunan yang khas. Kalau sedang beruntung, mungkin siapa saja bisa menjumpai pedagang yang rata-rata wanita berusia uzur itu di pinggir jalan atau sudut gang.
Kebanyakan mereka menjajakan dagangannya dari pagi hingga siang, jarang sekali penjual pecel semanggi ditemui pada sore apalagi malam hari. Bila tidak beruntung, penikmat semanggi bisa mendatangi kawasan Jl. Bintoro atau pujasera Kartika di Jl. Diponegoro. Di situ, pengunjung bisa menemui penjaja semanggi yang berjualan sampai malam setiap hari.
Tapi, penjual di kawasan itu bukanlah penjaja semanggi keliling, melainkan penjual semanggi kelas resto. Harganya memang tidak sama, bila penjual pecel semanggi keliling mematok harga Rp.3.000 per pincuk, maka di kawasan pujasera itu dijual Rp.8.000 per pincuknya. Hampir dua kali lipatnya.
Walaupun lebih mahal, urusan rasa tidak kalah dengan pedagang lain. Misalnya saja Semanggi TOP Surabaya yang mendiami pujasera Kartika itu sudah cukup punya nama di Surabaya. Alasannya, Ibu Lima sang pemilik stan semanggi tersebut sudah berpengalaman dalam meracik makanan ini.
“Sekarang ini sudah dua generasi. Ibu saya (Ibu Lima) itu sudah 17 tahun berjualan semanggi, dan kini sedang saya teruskan usahanya. Tapi resep bumbu yang saya pakai sekarang ini tidak ada bedanya dengan yang lama,” kata Arni ketika ditanya di sela-sela aktivitasnya sebagai peserta di Festival Jajanan Bango 2008 lalu di Surabaya. (*

Yuk, Berburu Oleh-Oleh Khas Surabaya!

09 September 2008


Bila Anda berkunjung ke Surabaya, kurang lengkap kiranya tanpa membawa oleh-oleh khas kota Pahlawan ini. Selain Bandeng asap, aneka krupuk berbagai olahan bisa Anda bawa pulang.

‘Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan’, sebait lagu itu kiranya cocok menafsirkan Surabaya yang menjadi salah satu surga tempat belanja. Bicara mall, setidaknya ada delapan tempat belanja moderen berskala besar di kota ini antaranya Plaza Surabaya, Royal Plaza, Galaxy Mall, Pakuwon Trade Center hingga lainnya, khusus Tunjungan Plaza disebut ikon mall di Surabaya.
Jika berburu tren fesyen dan aksesoris, mungkin tempat-tempat di ataslah yang cocok dijujugi. Tapi bila yang Anda inginkan adalah belanja oleh-oleh berupa panganan khas, mendatangi mall-mall di atas malah salah alamat. Karena di Surabaya ada tempatnya tersendiri. Setidaknya di Surabaya ada dua sentra penjaja makanan khas Surabaya dan beberapa oleh-oleh khas kota tetangga.
Pusat oleh-oleh paling familiar bagi warga Surabaya adalah kawasan Pasar Genteng. Kawasan ini tergolong cukup terkenal sebagai sentra jajanan, sekaligus pusat perlengkapan dan spare part barang elektronik. Bila Anda bertanya mengenai sentra ini kepada masyarakat Surabaya, maka mayoritas jawaban hanya seputar dua hal di atas. Mencari Pasar Genteng bukan hal yang sulit mengingat lokasinya berada di pusat kota. Pasar Genteng terbilang masih satu kompleks dengan jalan Tunjungan, hanya saja posisinya berada di ruas jalan yang berbeda. Dari Tunjungan Plaza, menuju Pasar
Genteng tidak sampai menempuh 1 kilometer. Malah posisinya lebih dekat dengan Hotel Majapahit yang berjarak sekitar 500 meter.
Sesampai di kawasan ini, pengunjung tidak usah masuk bangunan pasar yang bertingkat. Para penjaja panganan khas ini tersebar di sekeliling pasar bagian dasar, malah kebanyakan toko jajanan membuka bisnisnya di depan jalan Genteng. Bila berjalan atau berkendara, di kanan kiri ruas jalan akan terlihat toko-toko penjual oleh-oleh.

Dari Macan, Bandeng, sampai Petis
Bila lokasinya sudah terdeteksi, maka selanjutnya Anda tinggal memilih toko mana yang ingin didatangi. Rata-rata dari penjaja menjual sajian yang nyaris tidak berbeda, ragam kerupuk dan camilan menjadi menu jualan utama para pedagang di sana.
Selain makanan kering, jenis panganan basah seperti udang dan siwalan segar turut dijual dengan ukuran dan bobot bervariasi. Uniknya, mereka juga banyak yang menjual petis-makanan terbuat dari udang segar yang ditumbuk halus, direbus dengan air abu merang dan dibumbui, berwarna hitam. Ada yang padat dan kental, berbau tajam-khas Sidoarjo.
“Di sini rata-rata menjual kerupuk dan camilan khas Surabaya. selain jajanan kering, ada juga yang basah. Biasanya wisatawan paling suka memborong yang kering-kering, karena takut basi. Biasa kan, perjalanan mereka cukup jauh dan memakan waktu lama,” kata Sonny Kuntoro, pemilik salah satu toko oleh-oleh di kawasan itu.
Tambahnya, paling laris mereka menjajakan ragam kerupuk dan camilan dalam bentuk kemasan. Kerupuk udang, dan kerupuk mawar (keriting kecil) tergolong favorit. Kerupuk mawar yang dijual menyajikan tiga rasa yaitu rasa bawang, terasi dan udang, tidak heran bila panganan ini sering diburu pengunjung. Selain itu, beberapa jenis kerupuk lain tidak kalah laris, sebut saja kerupuk macan, bawang, bawang bibir, dan cassandra, sementara camilan berupa keripik kentang, melinjo dan rengginang turut laku keras.
Di sini, pembeli bisa bertransaksi barang kemasan atau yang timbangan (kiloan). Bila ingin efisien dan praktis, sebaiknya membeli oleh-oleh yang sudah jadi kemasan dengan harga yang sudah dipatok sebelumnya. Jika ingin membeli yang seperti ini maka perhatikan masa laik konsumsinya, jangan sampai barang yang dibeli sudah mendekati masa kadaluarsa.
Sedangkan bila ingin belanja kiloan alias timbangan, kemampuan menawar sangat berguna. Kebanyakan para pedagang menjual produk dengan hitungan bobot. Meski terkadang ada plafon harga tertentu, kemampuan menawar diperlukan karena harga di sana tidak begitu saklek. Jika Anda lihai menawar, harga bisa ditekan semurah-murahnya.
Sementara itu bagi yang enggan bertandang ke pusat kota. Pencari oleh-oleh khas Surabaya bisa mengunjungi sentra wisata pantai Kenjeran (Kenpark). Wahana pantai itu tidak hanya menyajikan arena hiburan saja, pengunjung kawasan ini juga bisa menyantap makanan khas Surabaya dan Jawa Timur seperti lontong kupang dan lontong balap.
Setelah itu baru bisa berbelanja oleh-oleh yang berada di sekitar kawasan tersebut. Sentra penjaja oleh-oleh terpusat di sisi timur Kenjeran lama meski ada beberapa pedagang yang menjual di depan pintu masuk wahana dan komplek jajanan di dalam tempat wisata itu.
Mayoritas dari pedagang menjajakan menu oleh-oleh berbahan dasar hasil laut misalnya saja kerupuk ikan, keripik teripang dan kerupuk udang. Ikan asin dan petis udang tidak ketinggalan dijajakan. Untuk harganya, pembeli bisa bertransaksi tawar menawar atau membeli langsung yang berupa kemasan. *