Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Asas Kolaborasi Bisnis IT dan Telekomunikasi yang Menyejahterakan

31 December 2008


Beruntung sekali generasi masa kini, yang dengan mudah dapat memperoleh akses komunikasi berbasis teknologi informasi mutakhir. Dibanding generasi terdahulu, masyarakat era tahun 2000-an ini benar-benar telah menikmati kemajuan zaman digital yang begitu pesat perkembangannya. Lihat saja pergeseran tipe dan fasilitas fitur HP (handphone) yang hampir setiap pekan berubah. Itu semua terjadi karena tuntutan pasar dan kebutuhan konsumen. Sebab, HP sendiri sudah bukan lagi kebutuhan skunder, melainkan sudah merupakan perkakas harian yang tak bisa lepas dari genggaman setiap orang sebagaimana namanya sendiri, telepon genggam.

(Oleh: Abdur Rohman)
SETALI tiga uang, provider pun turut beradu keunggulan guna meraih konsumen sebanyak-banyaknya. Caranya dengan menjual layanan semurah-murahnya namun berisi fasilitas sebanyak-banyaknya. Tak dipungkiri lagi, akhirnya konsumen pun turut diuntungkan, karena persaingan harga pulsa juga begitu kompetitif. Hal tersebut dibarengi dengan regulasi pemerintah yang tetap memberikan keberpihakannya kepada masyarakat dengan menghalau adanya monopoli di bidang layanan jasa komunikasi.
Kehadiran HP dan provider yang andal kini mampu mengubah sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi realistis terjadi. Perbedaan jarak dan waktu sekarang bukan lagi penghalang, karena rentang jarak maupun waktu kini bisa disingkat via layanan multimedia dengan memanfaatkan teknologi informasi.
Informasi cepat yang pada awalnya hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu, sekarang telah menjamah segenap lapisan masyarakat. Mulai dari konglomerat hingga para pekerja berat hampir semuanya telah memfasilitasi diri dengan HP. Hanphone yang dulunya mengunggulkan fitur pesan teks via SMS, kini telah jauh melangkah dengan fasilitas-fasilitas lainnya. Berkat dukungan provider yang selalu mengikuti perkembangan dan keinginan konsumen kini bahkan sudah meninggalkan layanan MMS menjadi layanan 3G yang dapat dimanfaatkan untuk mengakses internet dengan bermacam keunggulannya.
Layanan email, chating, browsing, hingga internet banking semuanya kini bisa berada digenggaman. Tak heran bila ada yang mengatakan bahwa dunia benar-benar bisa berada di genggaman tangan, karena fasilitas handphone dan provider pendukungnya telah begitu sempurna.

Perang Tarif vs Layanan
Dalam hukum ekonomi, biasanya konsumen selalu berada di pihak yang dilematis dan cenderung dirugikan. Namun tidak demikian dengan lahirnya perang tarif dan layanan pada sektor telekomunikasi dewasa ini. Justru, sepertinya konsumen digiring ke arah yang lebih cerdas dalam menentukan pilihan. Lihat saja iklan provider di media massa yang setiap hari menghadirkan paket-paket baru; dari yang menawarkan tarif 0,1 rupiah sampai yang gratis.
Kesannya memang antar-provider saling menjatuhkan dengan keunggulan yang diusungnya bagi pelanggan. Namun sekali lagi, konsumenlah yang memiliki pilihan dan bebes menentukan penilaian mana provider yang dirasa paling cocok bagi dirinya. Konsumen masa kini sudah cukup cerdas dan memiliki alasan khusus dalam menentukan setiap pilihannya berdasarkan kebutuhan. Oleh karena itu, bisa jadi satu orang memiliki beberapa HP dengan provider berbeda pula. Tak lagi ada provider yang dominan, karena masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan.

Manfaat yang Merakyat
Imbas positif dari persaingan tarif dan layanan provider adalah kian terpacunya vendor penyedia gadget dalam mengembangkan inovasi mutakhirnya. Gadget-gadget keluaran terbaru di bidang komunikasi bukan lagi mengandalkan kejernihan suara dua arah saat digunakan bertelepon, tetapi juga memiliki manfaat lain seperti video call, pelacak lokasi lewat jaringan GPRS, hingga transmisi berkecepatan tinggi yang lebih dikenal dengan EDGE.
Pemanfatan lain kecanggihan telekomunikasi berbasic handphone dan provider ini juga dapat diterapkan dalam dunia pendidikan dan teknologi (IPTEK). Misalnya, beberapa sekolah dewasa ini sudah ada yang menggunakan presensi via ponsel, sehingga wali murid dapat memantau putra-putrinya lewat layanan provider melalui HP. Termasuk juga informasi akademik bisa diakses via handphone, sehingga orang tua tak harus datang ke sekolah bila bermaksud mengetahui perkembangan anaknya di kelas.
Konvergensi IT dan telekomunikasi juga mampu membawa informasi sampai jauh ke pelosok daerah pedalaman. Dengan tersedianya jaringan BTS yang mampu menyambungkan informasi dari kota ke desa, sektor perekonomian masyarakat di daerah terpencil secara perlahan dapat diangkat. Lewat cepatnya arus informasi yang diterima masyarakat pedalaman, para petani dan peternak di puncak gunung akan bisa langsung bertransaksi dengan pedagang di kota-kota besar. Dengan begitu gairah perekonomian masarakat pun akan terus menggeliat dari berbagai sektor berkat ketepatan fungsi teknologi komunikasi.

Penguat Jaringan Sosial
Memasyarakatnya handphone dan provider kartu juga menguatkan jaringan sosial kemasyarakatan. Perkumpulan-perkumpulan (society) yang pada awalnya dibentuk provider dengan tujuan untuk mengikat kesetiaan pelanggan, belakangan ini justru manfaatnya lebih dapat dirasakan oleh masyarakat. Contohnya, pada sebuah organisasi kemasyarakatan yang beranggotakan kelompok masyarakat tertentu, maka mereka bisa membuat komunitas dengan menggunakan provider tertentu sehingga mereka dapat memanfaatkan akses gratis dalam berkomunikasi. Kesannya memang mengikat, namun bila ditilik dari segi ekonomis tentu akan lebih murah dan hemat dalam biaya pulsa.
Jadi, masyarakat kita (Indonesia) sekarang sebenarnya sudah cukup mendapat keuntungan dan mafaat dari perkembangan dunia IT dan telekomunikasi ini. Tinggal bagaimana kita memacu pengembangannya untuk berbagai sektor yang selalu terbuka celah untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya. (*)


Jamuan Gulai Kambing & Ayam Kremes di Food City ITC Surabaya

04 December 2008


Lama tidak jalan-jalan dan makan-makan, akibat tumpukan pekerjaan di kantor yang tak bisa ditinggalkan, membuat selera menciut. Buktinya, ketika mendapat undangan makan malam dari Humas ITC Mega Grosir Surabaya, tak sampai mencicipi banyak variasi makanan di sana. Padahal, di kompleks Food City, yang berada di Lt. 3 ITC Surabaya terdapat 80 stand/outlet/resto makanan-makanan enak berbagai macam jenis.

DATANG di ITC pasca Maghrib bersama seorang rekan kantor, kami berdua disambut oleh Ibu Avy Chujnijah dengan ramah, dan langsung mengajak ke Food City. Banyaknya menu pilihan membuat kami jadi bingung menentukan pilihan. Namun tak perlu waktu lama, kami pun diajak ke bagian agak ujung dari Food City. Di sana kami langsung dipersilakan duduk di Kedai ONENG (Spesial Penyet dan Nasi Goreng).



Ketika daftar menu diberikan, ada sekitar 35 jenis makanan, 8 jenis snack, dan 16 macam minuman. Saya agak bingung menentukan pilihan untuk menyesuaikan selera petang itu. Sementara kawan saya sudah menjatuhkan pilihan kepada seporsi Ayam Kremes dan Teh Botol, sedangkan sang tuan rumah hanya memilih Soda Gembira. Akhirnya aku pun memilih menu yang bisa menghangatkan tubuh, yaitu satu porsi Gulai Kambing dengan segelas jus jeruk.



Bicara mengenai Gulai Kambing, rasanya menjelang Idul Adha begini cukup cocoklah sebagai pemanasan dan penyesuaian lidah. Apalagi, Gulai Kambing di Kedai Oneng rasanya tidak terlalu “keras” sehingga masih tergolong aman bagi kesehatan.
Sebagaimana kebanyakan gulai kambing, aroma sajian menu ala timur tengah ini dominan oleh rasa rempah yang begitu mengigit. Dipadu dengan sepiring nasi, kuah gulai yang begitu menggiurkan itu terasa segar dan hangat sekali menggelontor tenggorokan. Gurih dan maknyusss. Sayang porsi isi (daging kambing)-nya cuma 3 potong, itu pun lengket di permukaan pecahan tulang tetelan. Namun, cukuplah untuk membasuh kerinduan untuk mengonsumsi makanan kelas berat seperti itu.
Sedangkan rekan saya, begitu mendapat seporsi ayam goring kremes dia langsung menyantapnya dengan tambahan sambal dan lalapan plus nasi. Sembari berbincang kami pun akhirnya dengan sempurna menyantap hidangan di Depot Oneng hingga finish pada kata “sampai jumpa lagi…”


Master Suyatno jadi Doktor Sastra Anak


Sebagai Ganesis saya pantas berbangga. Sebab dari kalangan internal almamater, telah lahir doktor baru yang kian meningkatkan citra Unesa di mata masyarakat.
(Master) Suyatno akhirnya secara resmi dikukuhkan sebagai Doktor “Sastra Anak”, setelah berhasil mempertahankan desertasinya di hadapan para professor yang mengujinya, pada ujian terbuka di Ruang Sidang Pascasrjana Unesa, Kamis (4/12).



Berkat penelitian mengenai sastra anak, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa itu lulus dengan predikat sangat memuaskan. Hal tersebut tak lepas dari keoriginalitasan bahasan disertasi yang ditulisnya.
Dalam disertasinya, dosen dan motivator ulung dalam bidang pendidikan itu menulis kekhasan karya sastra yang ditulis oleh anak-anak. Mulai dari proses kreatif hingga karaktersitik karya sastra sejumlah anak yang telah ditelitinya.
Dengan gaya bahasa yang lugas, bapak tiga anak ini selalu menanggapi setiap pertanyaan dan pernyataan para penguji secara tepat. Tak jarang, para penguji pun mengucapkan kata “bagus” di sela menyimak jawaban sang promovendus.
Para audien yang hadir pun dibuatnya bertepuk tangan sebagai aplaus atas kepiawaian pria kelahiran Ponorogo ini dalam mendemonstrasikan cara mendongeng maupun memenuhi permintaan penguji untuk menceritakan ulang salah satu karya sastra anak yang ditelitinya.


Setelah menyandang gelar doktor, Suyatno pun berjanji untuk berkomitmen dan mendedikasikan kemampuannya untuk dunia pendidikan sastra anak. Bahkan, dia pun berkeinginan membangun sebuah sanggar yang nantinya diperuntukkan bagi anak-anak yang ingin mengeksplorasi kemampuan menulis.
Hadir sebagai “suporter” dalam ujian terbuka kemarin adalah para alumnus dan dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, serta para kolega lainnya.
SELAMAT PAK YATNO…