Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

1001 Kemeriahan Festival Jajanan Bango Jakarta

27 May 2009


Perhelatan akbar Fesitival Jajanan Bango 2009 yang dihelat di Plaza Selatan Senayan, Jakarta (23-24 Mei) menyisahkan kenangan manis bagi saya. Datang dari Surabaya sebagai Bangomania, ternyata pulang membawa kemenangan.

Cuaca cerah ibu kota cukup menyengat, siang itu. Hari pertama bertandang ke arena FJB, saya habiskan untuk memutari 3 lokasi terpisah (bentuk latter T) namun tetap menyatu itu, untuk mendapatkan makanan atau jajanan yang paling unik dan belum pernah saya coba. Sebagaimana tema FJB tahun ini ”Festival Kelezatan Sepenuh Hati”, maka di sepanjang arena pun berjajar tenda kerucut putih dengan penjaja aneka menu istimewa dari seluruh penjuru nusantara.
Awalnya, saya datang salah jalan, sehingga harus menembus pagar pembatas di salah satu sisi arena. Baru ketika sudah berada di dalam arena tersadar bahwa ternyata terdapat 2 panggung. Satu panggung utama dan satu lainnya panggung skunder di depan stand tenda Sate Pejompongan.
Sebagai salah satu Bangomania, tentu saya cukup kaget dan berdecak kagum dengan FJB tahun ini. Benar-benar digelar dengan sepenuh hati! Sepanjang mata memandang, dari ujung hingga ujung berikutnya tersaji kekhasan yang belum pernah saya jumpai dalam festival-festival sejenis.


Berawal menyambangi tenda media untuk mendapat informasi detail FJB, saya bertemu dengan mbak Memoria Dwi Prasita, Brand Manager Bango. Tak ketinggalan sempat juga bertemu mbak Nurulita Novi Arlaida, Media Relation Manager PT Unilever Indonesia, dan tak ketinggalan Mas Radityo Djadjoeri Consulant dari BizzComm! Bersama mereka bertiga saya mendapat penjelasan banyak tentang FJB, Kecap Bango, dan lain-lainnya. Di samping juga diperkenalkan dengan beberapa kawan Bangomania baru, seperti Mbak Ribut yang asli Solo, serta kawan-kawan reporter dari Republika, U’FM, Famele FM, Bahana FM, Rileks.com, dan masih banyak lagi lainnya, terutama dari Mindshare and LOWE.
Dari perbincangan dengan Memor, saya mendapat penjelasan bahwa yang dihadirkan oleh Kecap Bango dalam gelaran selama 2 hari itu adalah ratusan penjaja makanan pilihan berdasarkan keunggulan pada resep warisan, bahan baku pilihan, cara memasak otentik dan penyajian tradisional. ”Melalui FJB, kami ingin mengajak masyarakat luas untuk melestarikan aneka masakan tradisional yang sudah dikenal luas dan dinikmati secara turun temurun, dimana keberadaannya saat ini kalah populer dengan makanan siap saji dari mancanegara,” terang Memor. Lebih lanjut wanita berambut pendek itu mengemukakan bahwa dalam festival kuliner tersebut mereka bisa memperkenalkan salah satu kekayaan budaya nusantara, terutama keanekaragaman makanannya. Dengan kegiatan seperti FJB, Memor berharap kecintaan masyarakat Indonesia terhadap warisan kuliner nusantara kian tumbuh dan berkembang secara luas.

112 Jenis Makanan & 8 Duta Bango
Gelaran FJB 2009 pertama yang digelar di Jakarta ini sangat fantastis. Dengan 112 jenis makanan dari berbagai penjuru nusantara, rasanya tidak cukup bila dihabiskan dalam 2 hari event tersebut. Apalagi masih terdapat 8 duta Bango perwakilan kota-kota besar di Indonesia. Misalnya, Kupat Tahu Gempol dari Bandung, Soto Udang Medan RM Rinaldy asal Medan, Rujak Cingur Sedati Ibu Nur Aini asli Surabaya, kemudian ada Tengkleng Ibu Edi (Solo), Sop Saudara Jl. Irian (Makassar), Brongkos Ibu Suprih (Yogyakarta), dan Tahu Bakso Ibu Pudji – Ungaran (Semarang). Sebagai tuan rumah, Jakarta diwakili oleh Pondok Sate Pejompongan, yang pada tahun sebelumnya memecahkan rekor memasak 80 kambing guling serentak dalam event yang sama.



Dalam kesempatan yang sama, Adeline Ausy S. Suwandi, Marketing Manager Spread Cooking Category & Savoury PT Unilever Indonesia Tbk mengatakan, “Penyelenggaraan Festival Jajanan Bango dari tahu ke tahun selalu kami tingkatkan kualitasnya demi memuaskan para pengunjung. Kebetulan pada tahun ini kami mengusung kampanye bertajuk Kekuatan Sepenuh Hati (The power of wholeheartedness) yang diterapkan secara menyeluruh untuk segala aktivitas komunikasi pemasaran Bango, termasuk pada FJB,” tuturnya.
Ditambahkan Ausy, FJB diselenggarakan sebagai wujud konsistensi Bango untuk terus mengajak masyarakat luas ikut melestarikan berbagai makanan tradisional nusantara warisan nenek moyang kita, sebagai misi sosial yang akan terus menerus digemakan. ”Digelarnya FJB juga merupakan upaya untuk ikut menggerakkan dunia pariwista Indonesia melalui wisata kuliner. Dengan lebih menghidupkan kegiatan wisata kuliner melalui ajang FJB, diharapkan dapat ikut memajuan sektor pariwisata di Indonesia,” terang Ausy.




FJB tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dikatakan Memor, karena FJB 2009 menghadirkan Kampung Bango, yaitu sebuah etalase proses sepenuh hati pembuatan Kecap Bango. Sebuah upaya Bango untuk semakin dekat di hati percintanya. Pengunjung dibawa tur yang mengupas proses pemilihan bahan baku alami terbaik hingga diproses menjadi kecap berkualitas tinggi.

Yang istimewa lagi dari ajang FJB 2009 adalah hadirnya Dapur Bango Cita Rasa Nusantara dengan bagi-bagi resep dan tips dipandu koki-koki Bango juga oleh Surya Saputra. Di samping itu, disediakan pula Rujak Bango gratis dan hiburan bersama Krisdayanti.

Provokasi Nasi Brongkos Surya Saputra
Surya Saputra memang pembawa acara yang andal. Tak heran bila dia juga sangat piawai menggoda selera pengunjung FJB untuk mencoba setiap makanan khas yang ada. Dan, di selah kesibukannya syuting yang dilakukan di beberapa stand peserta FJB, suami Cintya Lamusu itu kerap memprovokasi para reporter yang mewawancarainya. ”Eh, kamu sudah makan belum? Coba nasi brongkos, dech! Eehmm... rasanya.... tak terkatakan! Rugi lu kalo gak nyobanya (sambil menunjuk tenda Nasi Brongkos Ibu Suprih yang berada di depan tenda media)”, begitu katanya setiap ada wartawan (baik teve maupun radio) usai wawancara dengannya.
Saya pun termasuk yang terprovokasi, apalagi menurut Mas Radityo, Nasi Brongkos itu dimasak khusus menggunakan kayu tertentu yang didatangkan dari daerah Muntilan, Jawa Tengah. Gila benar..., komentar saya dalam hati.
Dengan Rp. 15.000,- saya pun kemudian dapat mencicipi dan menikmati Nasi Brongkos yang mirip rawon itu, setelah melalui anteran cukup panjang. Ya, nasi Brongkos secara penampilan memang mirip rawon, tapi bersantan. Jadi, yang membuat aromanya kuat adalah santannya. Apalagi irisan daging kecil-kecil yang begitu menyatu sehingga tak salah bila Surya Saputra pun begitu membanggakan menu nasional asal Jawa Tengah ini.

Tawaran Makan Sate Pejompongan

Belum luruh nasi Brongkos ke dalam perut, datanglah Ola dari Radio Bahana FM yang mengajak mencoba Sate Pejompongan milik Pak Rahmanto. Wah, spesial sekali. Karena daging satenya begitu lembut bak makan potongan lemak bakar. Rasanya gurih dan tanpa bau prengus sama sekali. Apalagi, menurut Pak Rahmanto proses membakarnya menggunakan kecap Bango, dan bumbunya pun berbahan dasar kecap Bango. Makanya kok nikmat sekali.... Sayang antreannya panjang sekali, sehingga gak bisa nambah lagi... lain kali saja saat nanti pagelaran FJB di Surabaya. (arohmanmail@yahoo.com)

Unilever Gelar Festival Jajanan Bango “Festival Kelezatan Sepenuh Hati”

19 May 2009



Diselenggarakan sepenuh hati oleh Bango untuk terus wujudkan misi lestarikan warisan kuliner Nusantara, dengan menghadirkan Duta Bango dari beberapa kota di Indonesia.

PT. Unilever Indonesia Tbk., melalui merek kecap andalannya, Bango, kembali menunjukkan konsistensinya dalam melestarikan warisan kuliner Nusantara dengan menyelenggarakan acara tahunan bertajuk ”Festival Jajanan Bango” (FJB), dimana FJB yang digelar kali ini telah memasuki tahun kelima. Jakarta mendapat kehormatan sebagai kota perdana untuk ajang festival jajanan yang bergengsi tersebut. Kota persinggahan berikutnya adalah Bandung (Jawa Barat) dan Surabaya (Jawa Timur). “Penyelenggaraan Festival Jajanan Bango dari tahun ke tahun selalu kami tingkatkan kualitasnya demi memuaskan para pengunjung. Kebetulan pada tahun ini kami mengusung kampanye bertajuk Kekuatan Sepenuh Hati (The power of whole-heartedness) yang diterapkan secara menyeluruh untuk segala aktivitas komunikasi pemasaran Bango, termasuk pada FJB,” tutur Adeline Ausy S. Suwandi, Marketing Manager Spread Cooking Category & Savoury PT Unilever Indonesia Tbk.

Menurut Ausy, kampanye pemasaran ini mengemas pesan: “Segala sesuatu yang datangnya dari hati akan menciptakan hasil yang istimewa.” Seperti halnya dalam pembuatan kecap Bango, mulai dari proses awal bahan baku utama melibatkan peran para petani kedele hitam dan pengrajin gula kelapa binaan Yayasan Unilever Indonesia (YUI). Dengan sepenuh hati, para petani kedele hitam menanam, merawat, memanen dan menyortir biji kedele jenis Mallika, dimana hasil akhirnya adalah kedele hitam bermutu tinggi. Kampanye pemasaran ini juga menyentuh para ibu rumah tangga yang tanpa kompromi dan sepenuh hati menggunakan kecap Bango untuk memasak hidangan buat anggota keluarga tercinta. Terakhir, kampanye pemasaran ini menggaungkan pesan kepada para penjaja makanan yang dengan sepenuh hati menyajikan hidangan lezat khas Indonesia demi kepuasan para pelanggannya.

Ausy menambahkan, FJB diselenggarakan sebagai wujud konsistensi Bango untuk terus mengajak masyarakat luas ikut melestarikan berbagai makanan tradisional Nusantara warisan nenek moyang kita, sebagai misi sosial yang akan terus menerus digemakan.

“Digelarnya FJB juga merupakan upaya untuk ikut menggerakkan dunia pariwisata Indonesia melalui wisata kuliner. Dengan lebih menghidupkan kegiatan wisata kuliner melalui ajang FJB, diharapkan dapat ikut memajukan sektor pariwisata di Indonesia,” jelas Ausy. ”Kami menyadari bahwa makanan adalah bagian yang amat penting dari budaya. Festival kuliner tahunan ini diharapkan dapat mendukung kemajuan pariwisata Indonesia dan menjadi agenda tahunan wisata kuliner bagi kota-kota yang disinggahi dan yang ikut serta dalam FJB,” imbuhnya. Ia berharap, makanan tradisional khas Nusantara dapat menjadi duta budaya yang ampuh untuk mempromosikan Indonesia ke mancanegara”.

Indonesia memiliki beribu macam makanan khas dari Sabang hingga Merauke. Banyak sekali olahan makanan khas Indonesia yang menggunakan kecap sebagai salah satu bahannya. Kecap, terutama kecap manis, menjadi bagian penting dalam kekayaan kuliner Nusantara. Penggunaan kecap yang terbuat dari kedelai hitam dan gula kelapa berkualitas tinggi dapat memberikan kekayaan rasa terhadap masakan. Selain untuk bahan memasak, kecap juga kerap dipakai untuk dicurahkan pada makanan (topping) ataupun sebagai cocolan. “Selama lebih dari 80 tahun hadir di tengah masyarakat, selama itu pula kecap Bango yang terbuat dari 4 bahan alami pilihan - kedelai hitam, gula kelapa, garam dan air - selalu konsisten menjaga kualitas rasa yang telah teruji sejak 1928,” pungkas Ausy.

Jakarta, Kota perdana untuk ajang Festival Jajanan Bango 2009

Digelar selama 2 (dua) hari pada Sabtu, 23 Mei dan Minggu, 24 Mei 2009 di
Plaza Selatan Gelora Bung Karno Senayan, arena FJB mulai dibuka untuk umum pada pukul 12.00 WIB hingga 22.00 WIB di hari pertama. Sedangkan di hari kedua, arena FJB akan dibuka mulai pukul 09.00 WIB hingga 18.00 WIB. ”Sesuai dengan pilihan tema, kami hadirkan ratusan penjaja makanan pilihan berdasarkan keunggulan pada resep warisan, bahan baku pilihan, cara memasak otentik dan penyajian tradisional,” ucap Memoria Dwi Prasita, Brand Manager Bango, yang akrab disapa Memor. “Melalui FJB, kami ingin mengajak masyarakat luas untuk melestarikan aneka masakan tradisional yang sudah dikenal luas dan dinikmati secara turun temurun dimana keberadaannya saat ini kalah populer dengan makanan siap saji dari mancanegara,” papar Memor. “Dalam festival
kuliner inilah kita bisa memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Nusantara, terutama keanekaragaman makanannya,” tambahnya.

Menurut Memor, dengan adanya kegiatan semacam FJB, diharapkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap warisan kuliner Nusantara kian tumbuh dan berkembang secara meluas.

Selain penjaja makanan lokal, FJB kali ini juga akan menghadirkan 8 Duta
Bango yang mewakili kota Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Medan dan Jakarta. Para Duta Bango yang ikut serta dalam FJB 2009 di Jakarta adalah Kupat Tahu Gempol Yang Jempol (Bandung), Soto Udang Medan RM. Rinaldy (Medan), Tengkleng Ibu Edi (Solo), Rujak Cingur Sedati Ibu Nur Aini (Surabaya), Sop Saudara Jl. Irian (Makassar), Brongkos Ibu Suprih (Yogyakarta) , dan Tahu Bakso Ibu Pudji - Ungaran (Semarang). Sedangkan Pondok Sate Pejompongan terpilih sebagai Duta Bango wakil Jakarta yang juga bakal mengikuti festival jajanan di kota Surabaya dan Bandung. “Ini adalah kesempatan langka, dimana kita bisa mencicipi aneka ragam masakan Nusantara khas daerah masing-masing dengan citarasa enak dan kondang yang bisa dinikmati dalam satu kesempatan. Inilah salah satu keunggulan FJB, dimana kita bisa menikmati berbagai makanan khas Nusantara tanpa harus mengunjungi satu-persatu tempat makan enak yang tersebar di berbagai daerah,” jelas Memor.

Menurut Memor, berbeda dengan FJB tahun-tahun sebelumnya, FJB 2009 akan menghadirkan Kampung Bango, etalase perjalanan dan kiprah Bango selama ini. Sebuah upaya Bango untuk semakin dekat di hati pecintanya. Pengunjung akan dibawa ke sebuah tur yang menguak proses pembibitan kedele hitam hingga produksi. Juga tampil Dapur Bango Cita Rasa Nusantara yang akan berbagi resep khas Nusantara dan tips memasak dipandu oleh Koki Bango. Sebagai ucapan rasa terima kasih Bango kepada para pecinta kuliner Nusantara, akan dibagikan secara cuma-cuma ribuan porsi Rujak Bango sebagai ide resep baru kepada para pengunjung.

FJB kali ini benar-benar lebih memanjakan para pengunjung. Sambil menyantap kelezatan aneka makanan dan jajanan khas Nusantara, tersaji berbagai acara hiburan yang menawan. Menyadari bahwa makanan merupakan bagian dari budaya, FJB juga menampilkan berbagai macam kesenian tradisional yang ikut meramaikan acara ini, seperti pagelaran tari khas Betawi dan Barongsai dengan aksi yang penuh kejutan. Juga akan tampil penyanyi tenar Kris Dayanti yang akan menghibur pengunjung FJB. Khusus buat para pengunjung yang membawa balita dan anak kecil, tersedia juga tempat bermain untuk anak, sehingga FJB dapat menjadi hiburan bagi seluruh anggota keluarga.

Para pengunjung juga punya peluang untuk mengikuti kuis dan permainan
interaktif dengan aneka ragam hadiah menarik. Selain dinikmati para
pengunjung, adanya FJB juga memberi pengaruh positif kepada para penjaja
makanan yang berpartisipasi, karena dengan keikutsertaan mereka, pelanggan menjadi bertambah dan usaha mereka dapat lebih berkembang. Sebagai catatan, jumlah pengunjung FJB tahun lalu sebanyak 680.000 orang dan total penghasilan penjaja makanan sebesar Rp 4,991,000,000 (hampir Rp 5 milyar).




Untuk infomasi lebih lanjut, hubungi:
PT Unilever Indonesia, Tbk.
Nurulita Novi Arlaida
Media Relations Manager
Tel: (+62-21) 526 2112
Fax (+62-21) 526 2046
e-mail: info-uli@unilever. com

BizzComm!
Radityo Djadjoeri
Consultant
Tel: (021) 790 2806
Fax: (021) 790 2806
E-mail: mediacare@cbn. net.id
Mobile: 0817-9802250

“Bersama Bango, mari kita lestarikan warisan kuliner Nusantara”

Yuk... ke Festival Jajanan Bango 2009

16 May 2009


Ada yang baru di Festival Jajanan Bango tahun ini. Kini para penjaja makanan dibikin berbeda antara hari pertama dan kedua. Jadi alangkah nikmatnya bila kita berkunjung di hari Sabtu (23/5), juga di hari Minggunya (24/5).
Segala kelezatan menyatu dengan sepenuh hati di Festival Jajanan Bango 2009.
Festival Jajanan Bango 2009 ini digelar di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

FJB menyajikan aneka ragam makanan tradisional khas Jakarta dan menghadirkan Duta Bango dari 8 kota. FJB 09 juga akan menyusul diselenggarakan di Surabaya dan Bandung. Kita tunggu saja tanggal mainnya.


Sabtu, 23 Mei 2009
1. Nasi Campur Ajengan Bali
2. Ayam & Ikan Bakar Taliwang PSKD
3. Ayam Bakar Mas Mono
4. Ayam Penyet Depot Soto Sulung Suroboyo Bu Laminten
5. Bakmi Jawa H. Minto
6. Bakso Bakar dan Ceker Senayan
7. Bakwan Malang Cak Uban
8. Baso Joni Ciragil
9. Bebek Goreng Yogi
10. Bubur Ase Betawi Bu Asnah - Neh
11. Bubur Ayam Attoyibbah
12. Cipta Rasa Nasi Ulam Misjaya
13. Empal Gentong Cirebon Ibu Lili
14. Gabus Pucung & Pecak Gurame Bpk. Misan
15. Gado-gado Bon Bin
16. Iga Bakar Warung Melo
17. Ikan Bakar Nasri
18. Kari Umbi
19. Ketoprak Gandaria
20. Ketupat Sayur H. Mahmud
21. Kwetiauw Aciap
22. Martabak Kubang
23. Mie Aceh Seulawah Benhil
24. Mi Ayam Pak Loso Kumis Jl. Irian/ Lombok
25. Nasi Bakar Selera Pedas
26. Nasi Gila Gondrong Menteng Basuki
27. Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih
28. Nasi Pecel Bu Linawati
29. Nasi Timbel Proklamasi
30. Nasi Uduk & Ayam Goreng H. Babe Saman
31. Nasi Ulam Bu Yoyo
32. Pondok Sate Pejompongan
33. RM. Pelangi
34. Rujak Juhi Petojo
35. Sate Bang Tohir Kalibata
36. Sate Tegal Abu Salim
37. Seafood 68 Santa
38. Sop Buntut Cut Mutia
39. Sop Kaki Kambing Enday
40. Soto Ayam Ambengan Bpk Asrif
41. Soto Betawi Mpok Rodemah
42. Soto Ceker dan Ranjau Pak Gendut Jl. Sabang
43. Soto Kaki Sapi Mencos
44. Soto Kudus Otista
45. Soto Mie Suwiryo
46. Soto Tangkar Aneka Sari H. Diding
47. Tahu Petis Yudistira
48. Tahu Slawi & Tempe Mendoan Jl. Barito
49. Tahu Super Pong Lym
50. Tongseng Jati Negara W Sederhana
51. Warung Anglo
52. Asinan Betawi Ny. Isye
53. Dodol dan Geplak Ibu Nining
54. Ice Cream Ragusa
55. Pempek @Bing


Minggu, 24 Mei 2009
1. Nasi Campur Ajengan Bali
2. Ayam Bakar Cahyo
3. Ayam Bakar Jepang
4. Ayam Penyet & Soto Ayam Depot Ria
5. Bakmi Jawa H. Minto
6. Bakso Bakar dan Ceker Senayan
7. Bakso Gepeng "Terserah"
8. Bakwan Malang Cak Uban
9. Bebek Tiktok Van Depok
10. Bubur Ase Betawi Bu Asnah - Neh
11. Bubur Ayam Attoyibbah
12. Cipta rasa Nasi Ulam Misjaya
13. Dapur Buntut
14. Empal Gentong Khas Cirebon Tebet
15. Gabus Pucung & pecak Gurame Bpk. Misan
16. Gado-gado Kertanegara
17. Iga Bakar Warung Melo
18. Ikan Bakar & Sop Iga Bang Yus
19. Ketoprak Gandaria
20. Ketupat Sayur Sukarna
21. Kwetiauw Aciap
22. Martabak Kubang
23. Mie Aceh Kana
24. Mie Ayam Bloon
25. Nasi Bakar Selera Pedas
26. Nasi Gila Gondrong Menteng Basuki
27. Nasi Goreng Lalan Bhakti
28. Nasi Pecel Madiun Bu Suyati
29. Nasi Timbel Omah Sendok
30. Nasi Uduk Gondangdia Cahaya Asli
31. Nasi Ulam Bu Yoyo
32. Pondok Sate Pejompongan
33. Rm. Pelangi
34. Rujak Juhi Pak Tata
35. Sate Bang Tohir Kalibata
36. Sate Tegal Abu Salim
37. Seafood 68 Santa
38. Sop Kaki Kambing H. Dudung
39. Soto Ayam Ambengan Bpk Asrif
40. Soto Betawi Bang Tata
41. Soto Ceker Ayam Arifin Gandaria II
42. Soto Kaki Sapi Mencos
43. Soto Kudus Otista
44. Soto Mie Saroja
45. Soto Tangkar & Sate Daging Sapi Khas Betawi
46. Tahu Baso Bandung Cipete
47. Tahu Petis Yudistira
48. Tahu Slawi & Tempe Mendoan Jl. Barito
49. Tahu Super Pong Lym
50. Warung Anglo
51. Warung Tongseng & Sate Sederhana Pak Budi
52. Asinan Betawi Ny Isye
53. Dodol dan Geplak Ibu Nining
54. Ice Cream Ragusa
55. Pempek @Bing


Jajanan Pasar:
1. Asinan Betawi Ny. Isye
2. Es Durian Medan
3. Ice Cream Ragusa
4. Pempek @Bing
5. Es Goyang & Selendang Mayan
6. Es Cingcau Ciragil
7. Sate Padang Pariaman
8. Kue Khas Betawi
9. Kerak Telor
10. Kue Khas Palembang


Para Duta Bango yang bakal tampil di FJB 09:
1. Kupat Tahu Gempol Yang Jempol (Bandung)
2. Soto Udang Medan RM. Rinaldy (Medan)
3. Tengkleng Ibu Edi (Solo)
4. Rujak Cingur Sedati Ibu Nur Aini (Surabaya)
5. Sop Saudara Jl. Irian (Makassar)
6. Brongkos Ibu Suprih (Yogyakarta)
7. Tahu Bakso Ibu Pudji- Ungaran (Semarang)
8. Pondok Sate Pejompongan (Jakarta)

Sensasi Kepiting di Warung ”Anyar”

11 May 2009


Anda ingin memanjakan lidah dengan sajian kepiting bercita rasa tinggi, ada baiknya meluncur ke warung Kepiting Spesial Anyar milik Bu Lina, 31 tahun. Di sana, Anda akan mendapatkan sajian aneka kepiting yang dijamin bisa memuaskan selera.
Tak sulit menjangkau warung Kepiting Spesial Anyar milik Bu Lina, karena lokasinya strategis dan berada di pinggir jalan raya. Tepatnya, di jalan Manyar 48, Surabaya. Warung sederhana itu menempati lahan cukup luas di depan pertokoan.
Bagi pengunjung, ada aneka masakan khas kepiting yang bisa dinikmati di warung yang berdiri sejak tahun 2006 itu. Di antara menu khas itu adalah Kepiting Saos Padang, Kepiting Asam Manis, Kepiting Saos Mentega, Kepiting Saos Rendang, dan Kepiting Steam. “Sebenarnya, yang paling khas di sini, Kepiting Saos Padang. Tapi kebanyakan pembeli lebih suka yang Kepiting Asam Manis,” ujar Lina, sang pemilik.

Menariknya, di warung ini pengunjung juga bisa memilih sendiri kepiting yang akan dimasak. Pengunjung dipersilakan memilih kepiting yang kecil, jumbo, atau super jumbo. Setelah itu, kepiting ditimbang, dibersihkan, lalu dimasak. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit, pengunjung sudah bisa menikmati hidangan kepiting special pesanannya.
Biasanya, bagi pengunjung yang tak mau menunggu terlalu lama akan menelpon dulu untuk pemesanan. Nah, begitu datang, pengunjung tinggal menikmati hidangan yang sudah tersaji. “Yang paling lama dalam pengolahan kepiting itu proses membersihkan karena kepiting yang diambil masih segar dan butuh dicuci hingga bersih,” terang ibu dua anak tersebut.
Rata-rata, pengunjung merasakan rasa yang khas pada bumbu kepiting. Seperti bumbu kepiting asam manis yang sangat kental rasa asam manisnya. Menurut Lina, ia memang menggunakan rasa asam itu asli dari buah sehingga terasa segar.
Warung Kepiting Spesial Anyar ini buka mulai pukul 17.00 hingga 23.00 setiap hari, kecuali hari Senin karena libur. Harga setiap porsi bermacam-macam. Untuk porsi kecil super seharga Rp 33.000, sedang porsi kecil telur seharga Rp. 40.000. Sementara, porsi besar super seharga Rp. 60.000, porsi besar telur seharga Rp.75.000, dan porsi besar super telur seharga Rp. 100.000. Lumayan terjangkau bukan…?
Menurut Lina, setiap hari lebih dari 10 kilogram kepiting diolahnya untuk memenuhi selera pelangganya. Bahkan, jika malam Minggu kebutuhannya bisa lebih banyak. Dari penjualan itu, Lina mengaku rata-rata omzet yang didapat antara mencapai 2 juta lebih per hari. Nah, Anda penasaran. Silakan datang langsung ke warung Kepiting Spesial Anyar di Jalan Raya Manyar 48, Surabaya ini. Dijamin ketagihan deh…


Pecel Bu Kus Memang Maknyuuus!

06 May 2009


Menu makanan tradisional tetap memiliki sejuta kesan di dalamnya. Baik dalam hal rasa maupun penampilan, sajian-sajian khas daerah memiliki cita rasa dan cukup mampu membikin lidah ketagihan. Lagipula, dengan berpuluh jenis dan ratusan menu selera nusantara tentu akan kian menjadikan lidah kita pintar dibuatnya.
Salah satu menu tradisional namun cukup dikenal di nusantara adalah pecel. Makanan dengan komposisi bumbu kacang, kulupan sayur godok, dan rempeyek ini selama ini popular sebagai menu khas Jawa Timuran (Madiun maupun Ponorogo). Meskipun di daerah sekitarnya juga memiliki juga pecel sebagai makanan keseharian yang merakyat.
Di Surabaya, menu pecel ini pun sudah menjadi marek tersendiri. Contohnya Pecel Bu Kus. Di Rumah Makan yang sudah memiliki tiga cabang gerai ini, pecel benar-benar menjadi favorit pilihan pengunjung. Hampir setiap jam makan siang, juga waktu jedah lainnya, depot utamanya yang berada di jalan Baratajaya ini selalu dipenuhi penikmat pecel. Walaupun di sana juga tersedia menu masakan nusantara lainnya, seperti Rawon, Nasi Campur, Kare Ayam, Nasi Urap dan lain-lainnya.


Porsi Maksimal, Harga Minimal
Satu porsi pecel Bu Kus sangatlah memuaskan. Apalagi kalau disantap untuk makan siang, karena porsinya cukup banyak. Dalam seporsi pecel Bu Kus terdapat beberapa pelengkap yang menumbuhkan selera. Dikemas di atas pincuk daun pisang berlapis piring, seporsi nasi putih punel di atasnya kemudian diberi kulupan berupa daun singkong, taoge, potongan kacang panjang, dan biji lamtoro, baru setelah itu disiram bumbu pecel yang pekat.
Makin merangsang air liur karena masih ditambah lagi serundeng, kering tempe dan cecek goreng, serta daun kemangi. Yang tak boleh ketinggalan tentu adalah rempeyek kacang campur teri. Semakin komplet dengan pilihan lauk dadar jagung, empal daging, maupun lauk lainnya.
Untuk seporsi pecel standar dibandrol Rp. 7.500, sementara lauknya dihitung sendiri sesuai jenis lauk pilihannya. Khusus bumbu pecelnya tampak lebih bersih yang kemungkinan memiliki tambahan khusus, sehingga tidak segelap bumbu-bumbu pecel lainnya.

Minuman Segar Berkhasiat

Sebagai penyanding makan pecel, tersedia minuman berkhasiat seperti sinom maupun beras kencur, kunir asam, temulawak, maupun sari kedelai. Atau bisa juga memilih minuman lain seperti es jeruk, teh manis, maupun lainnya.
Rasa beras kencurnya begitu terasa dan langsung bisa menghangatkan tubuh, meskipun dalam penyajiannya dihidangkan dengan es batu. Demikian juga dengan sinomnya terasa aslinya, tampak dari pekatnya warna sebelum dicampur es. Segelas es beras kencur, kunir asem, sari kedelai, dan temulawak masing dibandrol Rp. 4.000-an.
Ingin mencoba kelezatan Pecel Bu Kus yang sudah berediri sejak tahun 1993 ini Anda bisa datang ke Jl. Baratajaya XX No. 110 Surabaya sebagai pusatnya. Atau bisa juga ke cabang-cabangnya di Jl. Kutai No. 30 Surabaya, Jl. Cendrawasih No. 12 Surabaya, maupun Jl. Mayjend Sungkono No. 31 Surabaya. (arohman)