Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

EDUKASI, Pengawal Kebijakan Pendidikan Nasional

21 December 2007


MAHALNYA harga media massa (koran, tabloid, maupun majalah) merupakan bagian dari kurang interesnya para guru menggali informasi. Hal tersebut semakin diperparah dengan rendahnya minat baca, dan lebih memasyarakatnya budaya mendengar dan melihat (audio-visual) di negeri ini, sehingga masyaraat lebih menyukai menonton televisi atau mendengar radio, daripada membaca media massa maupun buku.
Bukan rahasia lagi, bahwa guru yang berpenghasilan ‘pas-pasan’ akan cukup keberatan bila harus membeli koran setiap pagi Rp. 2.500, atau berlangganan Rp. 67.000 per bulan. Jumlah uang sebesar itu, pasti akan lebih bermanfaat dipakai membayar rekening listrik atau keperluan lebih penting lainnya. Karena di mata guru, uang sekecil apa pun merupakan sesuatu yang harus berdaya guna, oleh sebab itu mereka lebih memilih kehilangan informasi penting mengenai kebijakan pemerintah di sektor pendidikan yang kini banyak dimuat di koran harian.
Namun, keterbelengguan tersebut kiranya dapat segera diatasi lewat kehadiran tabloid EDUKASI. Inilah salah satu terobosan yang dilakukan oleh Klub Guru Jatim dalam mengawal kebijakan pemerintah, agar sampai kepada para guru sebagaimana mestinya. Dengan format tabloid, EDUKASI hadir memberikan berbagai informasi penting seputar dunia pendidikan nasional setiap bulan. Dengan demikian, para guru tak lagi kehilangan berita yang biasanya dimuat sekilas di media massa. EDUKASI akan berusaha lebih mem-blow up informasi pendidikan, agar guru lebih memahami secara detail hal-hal baru yang berpotensi memberikan nilai plus dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar.
Kasus kurang tersosialisasinya sertifikasi dan penyelewengan dana-dana pendidikan yang mencuat ke permukaan, sebelumnya hanya diulas singkat di koran umum. Namun lewat EDUKASI kasus tersebut akan secara tuntas dilaporkan, lengkap dengan berbagai tips dan trik serta informasi penyerta lainnya demi suksesnya para guru mampu mencapai hasil maksimal dalam mengikuti sertifikasi. Bukan hanya itu, para guru juga dapat mengetahui informasi lain penambah wawasan yang berkaitang dengan dunia pendidikan yang digelutinya. Demikian juga informasi beasiswa dan peluang usaha yang dapat dikembangkan oleh para guru tanpa harus meninggalkan kewajiban membina peserta didik. Oleh sebab itu, EDUKASI menyematkan motto “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.
EDUKASI juga mewadahi hasil kreatif para guru dalam hal publikasi. Para guru bisa berbagi artikel ilmiah dan hasil penelitian demi keberlangsungan pendidikan nasional. Setelah itu bila timbul pro dan kontra akan didiskusikan bersama, kemudian diangkat menjadi tema tersendiri dalam seminar dan sebagainya. Dengan demikian, EDUKASI benar-benar mampu menyuarakan ‘suara terdalam’ para guru yang selama ini dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal guru juga manusia, yang memerlukan penghidupan dan penghargaan layak di mata masyarakat dan pemerintah. EDUKASI berusaha memberikan yang terbaik dalam hal informasi pendidikan nasional sebaik-baiknya. Informasi lebih lanjut mengenai berlangganan dan pemasangan iklan hubungi Sekretariat Klub Guru Jawa Timur Jl. Rungkut Asri Timur 7/8 Surabaya. Telp (031) 871-0230, 7170-9292. Email: info@klubguru.com. (*)

Melepas Rindu di Masjid UNESA


Prof. Dr. Haris Supratno bersilaturahmi dengan jamaah usai menjadi iman/khotib di masjid Baitul Makmur I, UNESA.

SAAT ini (11 Dhulhijjah 1428), kita yang beragama Islam masih menikmati suasana hari tasyrikh dengan aktivitas masing-masing. Tidak seperti tahun-tahun biasanya, pada kesempatan Idul Qurban ini, kemarin, saya memilih melaksanakan salat Id di masjid Baitul Makmur I, kompleks kampus UNESA, Ketintang.
Pagi, pukul 05.30, saya bergegas menuju masjid kampus. Di sana sudah penuh kekhusukan para jamaah mengumandangkan takbiran. Di masjid yang juga merupakan jujugan pertama saya, kala dulu (tahun 1994) pertama kali menginjakkan kaki di Unesa (dulu IKIP Surabaya) untuk mengikuti tes UMPTN itu, saya menemukan suasana baru. Jumlah jamaah yang terbatas (terdiri atas para pengurus masjid dan mahasiswa juga warga sekitar) memang tidak sesemarak bila saya mengikuti salat Id di Masjid Al Akbar atau halaman Telkom Divre V. Namun, di antara sesuatu yang hilang itu, tetap saja ada keistimewaan dalam menjalankan ibadah sunah tersebut.
Banyak nostalgia terendam dalam kenangan manis semasa menimba ilmu di sana. Apalagi, usai salat saya kembali menemukan ‘saudara baru’, yaitu para mahasiswa dan aktivis UKKI yang tetap saja kokoh dengan visinya menyejahterakan Masjid Baitul Makmur. Dua di antaranya cukup akrab, berkat keikutsertaannya dalam kegiatan Klub Guru Jatim. Itu semua tentu kontras dengan nilai pandang saya zaman mahasiswa dulu, yang kurang simpatik dengan teman-teman penghuni masjid setempat, yang era itu tidak sepaham dengan saya. Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu…
Kembali ke suasana salat Id di Masjid Baitul Makmur, yang pagi itu pelaksanaannya diimami dan dikhotibi oleh Prof Dr Haris Supratno, rektor UNESA. Saya yang pernah menjadi mahasiswa dan pernah diasuhnya menekuni beberapa matakuliah, tahu persis bahwa Pak Haris tak perlu saya ragukan akan kualitas keislamannya. Bahkan mantan Dekan FPBS ini termasuk sangat mumpuni dalam ajaran Islam, terbukti dengan salah satu desertasinya yang mengangkat masalah kesenian Islam dari Nusa Tenggara. Namun sebagai manusia biasa, yang tidak dapat lepas dari unsur khilaf, pada kesempatan salat Id kemarin, dengan mafhum Allah, salat Id yang diimaminya itu tidak disertai tambahan 5 kali takbir pada rakaat kedua, karena lupa. Wallahualam.
Usai salat Id, dilanjutkan dengan khotbah Idul Qurban. Dalam khutbahnya, orang nomor satu di UNESA ini mengingatkan kepada para jamaah, bahwa Idul Qurban merupakan refleksi dari introspeksi diri. Kurban merupakan implementasi keimanan umat Islam dalam menjalankan perintah Allah, sebagaimana yang pernah difirmankan kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Pada Idul Adha tahun ini, masjid Baitul Makmur UNESA menerima 21 binatang kurban, yang terdiri atas 20 ekor kambing dan satu ekor sapi. Panitia kemudian mendistribusikan daging kurban yang telah disembelih kepada para karyawan, mahasiswa, dan warga sekitar kampus. Seekor kambing di antaranya didistribusikan ke daerah Benjeng, Gresik.
Itulah kesempatan itimewa yang saya dapatkan di libur Idul Adha kemarin. Barangkali kesempatan-kesempatan serupa jarang dimiliki oleh alumnus (Ganesis) lain, sehingga saya sekadar berbagi cerita. Siapa tahu suatu waktu kelak, dan pada moment berbeda ada niatan bersama untuk berkumpul (reuni) dalam suasana seindah itu. Tentu akan sangat berkesan. Salam hangat untuk para Ganesis di mana pun berada. (arohmanmail@yahoo.com)

Guremi Goreng Kering, Menu Istimewa di Tengah Gerimis

17 December 2007


Makan siang di tengah suasana Surabaya yang beberapa hari ini senantiasa diliputi mendung, bahkan kerap juga hujan, tepat kiranya bila menyantap menu gurami goreng kering.

MINGGU kemarin (16/11), saya penasaran ingin mencoba kelezatan sebuah tempat makan baru di kawasan Jalan Karah Surabaya (ke arah kantor Jawa Pos lama, red). Tempatnya cukup artistik dengan menu andalan lele bakar. Namun sayang, begitu tiba di lokasi, sambil menahan lapar saya yang ditemani adik ipar gagal melampiaskan hasrat, karena stok habis. Saat itu, jam menunjukkan pukul 15.30 WIB.
Karena sudah telanjur duduk dan pesan jus tomat plus teh panas, akhirnya kami pun memutuskan untuk memilih menu lain. Di antara sederet daftar hidangan yang ditawarkan, saya dan adik ipar ternyata memiliki selera yang sama. Tanpa dikomando kami memilih gurami goreng. Hmmm… pasti cukup menggugah selera di tengah cuaca dingin yang selalu memacu perut keroncongan.
Ada dua pilihan untuk menu gurami goreng ini, yaitu porsi guremi besar yang dibandrol Rp. 12.000 per porsi dan Rp. 9.000 per porsi untuk yang ukuran sedang. Karena sore itu kami masih ada agenda mencoba siomai Bandung di kawasan Ketintang, maka pilihan pun jatuh pada porsi kecil saja, demi menyisakan sebagian tempat di perut untuk menampung kerinduan akan siomai.
15 menit berlalu, pesananan pun datang. Dua porsi gurami goreng yang yang cukup menggoda selera. Apalagi disertai dengan sambel ulek dengan aroma terasinya yang cukup harum mengusung gemuruh liur di lidah untuk segera mencobanya. Di atas piring, bersanding pula irisan mentimun dan tomat sebagai lalapan.
Tak berapa lama, kami pun langsung menghapus rasa lapar dengan segera menyantapnya. Pertama, langsung saya cungkil daging gurami yang digoreng kering itu menggunakan sendok dan garpu. Sepertinya kokinya cukup piawai dalam memasak kering gurami berukuran sedang itu, sehingga kesedapan rasa daging gurami yang khas ikan air tawar itu pun tetap berasa. Apalagi saat dicocolkan ke dalam sambal ulek yang tidak begitu pedas. Paduan cabai dan gula dalam ulekan sambal itu cukup, sehingga makin menggugah selera untuk segera menghabiskannya.
Wow… tergantikan sudah kekecewaan tak berhasil menyantap lele bakar dengan gurami bakar kering. Mungkin lain waktu saya bisa datang kembali dan mencobanya. Apalagi di daftar menu masih tersedia menu lain yang tak kalah enak dalam menggoyang lidah namun stoknya hari itu habis, yaitu udang bakar asam manis. Jadi, mungkin lain kali sebelum memastikan ada tidaknya menu favorit semestinya tanya dulu apakah stoknya masih tersedia atau habis. Takutnya, sudah telah pesan minum, eh… tak tahunya menu incaran telah habis duluan. Capek deh….!
So, hari Minggu itu sore saya cukup terpuasi lewat seporsi gurami goreng porsi kecil. (www.arrohman.blogspot.com)