Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Kisah Sukses Klenger Burger

29 October 2008

Burger ternyata memiliki pasar tersendiri di Indonesia, khususnya pangsa pasar kaum muda. Nah, untuk mengetahui bagaimana perkembangan dan prospektif bisnis ini, tabloid LeZAT mengulasnya lengkap pada Edisi Khusus 02 --terbit 28 Oktober 2008. Salah satunya, mengulas Kisah Sukses Klenger Burger.

MAKANAN yang berbau kebarat-baratan seperti burger atau orang sering menyebutnya sebagai hamburger, kini sudah bukan makanan mewah lagi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Di Jakarta misalnya, hampir di setiap sudut pusat-pusat perbelanjaan dan perkantoran bisa kita temui outlet-outlet yang menjual Burger, makanan yang identik dengan prestise dan gaya hidup anak-anak muda jaman sekarang.
Menyebut nama burger, pasti sebagain besar warga ibu kota Jakarta sudah tidak asing dengan nama Klenger Burger. Salah satu pioneer makanan fast food di Jakarta. Klenger Burger terkenal di kalangan anak-anak muda karena selain memiliki cita rasa yang sangat Indonesia , juga namanya yang unik dan mudah diingat.
Berawal dari usaha mendirikan sebuah restoran Sunda, pemilik dan pendiri Klenger Burger yakni sepasang suami istri, Velly Kristanti (34) dan Gatut Cahyadi (34), akhirnya banting setir dan membuka outlet burger pada bulan Februari 2006. Dengan pertimbangan bahwa memasak makanan tradisional Sunda memerlukan waktu yang cukup lama dan kurang praktis, sehingga Velly dan Gatut akhirnya memutuskan untuk membuka usaha fast food. Dan pilihannya jatuh pada burger, makanan cepat saji yang cukup praktis, enak, mengenyangkan, serta menjadi bagian dari gaya hidup anak-anak muda jaman sekarang.
“Dulunya membuka usaha restoran dengan makanan tradisional Sunda. Tapi makanan Sunda kan kurang praktis dan perlu waktu lama dari memasak hingga penyajiannya, sehingga saya dan suami saya berfikir kenapa nggak memilih makanan yang bisa dimakan setiap saat, praktis dan mengikutui gaya hidup anak-anak muda zaman sekarang,” tuturnya saat ditemui LeZAT di salah satu outlet Klenger Burger di Jl. Cipaku I No. 45 Jakarta Selatan.
Dengan modal seadanya sisa usaha restoran Sunda, akhirnya dibukalah sebuah outlet kecil Klenger Burger yang menempati lahan bekas usaha restonya. “Waktu itu dengan modal seadanya saja, karena modalnya sudah habis buat bikin restoran Sunda. Tapi karena kepepet, akhirnya kita berusaha bikin usaha burger, dengan manfaatin sisa modal yang ada, lahannya pun juga menempati bekas restoran Sunda dengan hanya membuat sebuah outlet kecil di kawasan Pekayon yang sekarang sudah menjadi gudang kita. Awalnya ngalir aja tapi lama-lama banyak juga peminatnya,” kata wanita yang pernah bekerja di advertising sebuah perusahaan di Jakarta itu.

PERSAINGAN SEHAT
Seiring dengan berjalannya waktu, Klenger Burger semakin berkembang sehingga yang semula hanya sebuah outlet kecil yang menempati lahan bekas restoran Sunda, dalam kurun waktu satu tahun saja langsung berkembang hingga 38 outlet. Ternyata, kesuksesan Klenger Burger diikuti oleh pengusaha makanan yang lain dengan rame-rame membuka outlet burger, sehingga semakin banyak brand-brand baru burger.
Bahkan, banyak yang mencoba meniru logo Klenger Burger hingga memasang foto Klenger Burger. Namun, Velly justru merasa tidak tersaingi sedikit pun, karena ia merasa persaingan yang sehat justru akan semakin meningkatkan kualitas burgernya.
Di tengah persaingan usaha burger yang semakin rame, Klenger Burger semakin melebarkan sayapnya hingga kini telah memiliki 55 outlet yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Bandung, Bali, Surabaya, dan Malang. Bahkan sampai akhir tahun ini, masih akan ada beberapa cabang baru lagi di beberapa kota besar di Indonesia.
“Waktu itu yang bikin usaha burger belum terlalu banyak, tapi sekarang sudah banyak. Tapi bagus yah buat kita, karena kan sekalian koreksi diri juga. Memang bagus ada kompetisi, jadi kita bisa belajar juga,” kata wanita yang juga aktif sebagai pembicara di berbagai workshop tentang enterpreneurship.

MILIKI KEUNGGULAN
Nama Klenger Burger memang mudah sekali mendapat tempat di hati para penikmat burger. Karena selain mengandalkan cita rasa burger-nya yang sangat Indonesia dari segi bumbunya, juga nama Klenger sendiri sangat mudah diingat orang. Klenger sendiri diambil dari Bahasa Jawa, yang artinya makan sampai kenyang tapi tetap bikin orang ketagihan untuk mencobanya lagi. Dengan filosofi itulah akhirnya nama Klenger Burger dipatenkan menjadi brand burger miliknya.
“Kenapa Klenger, karena suami saya orang Jawa. Jadi di Jawa itu, kalau makan sampai kenyang tapi bikin ketagihan, namanya makan sampai klenger. Makanya kita memilih nama Klenger Burger,” ungkapnya.
Keistimewaan Klenger Burger terletak pada daging dan rotinya yang empuk, serta bumbunya yang disesuikan dengan lidah orang Indonesia . Velly dan Gatut telah meracik bumbu burger yang sangat khas melalui riset yang cukup lama. Selain itu, porsinya pun cukup membuat orang yang makan sampai merasa klenger karena kenyang.
Selain varian menunya yang bervariasi, dari sisi harganya pun sangat terjangkau, yakni berkisar antara Rp 7000 hingga Rp 20.000. Tersedia juga paket-paket khusus, misalnya untuk acara-acara di kampus atau di sekolah-sekolah.
Untuk mencari outlet Klenger Burger sendiri tidaklah sulit, karena lokasinya selalu dekat dengan perumahan, perkantoran, dan tempat-tempat hang out anak-anak muda.
Untuk tetap bertahan di tengah maraknya bisnis serupa, Klenger Burger terus melakukan inovasi baik dari segi menu maupun kualitas pelayanannya. Termasuk menyediakan jasa pesan antar atau delivery order untuk area tertentu, meningkatkan brand communicationnya dan terus menerus mau melakukan inovasi produk. Termasuk inovasi untuk menambah varian menu dengan menambah menu burger dengan varian sea food. Selain menjual burger di outlet-outlet, banyak juga pesanan untuk acara-acara gathering, atau acara-acara ulang tahun.

MENJAGA KUALITAS
Untuk menjaga kualitas rasanya, maka Klenger Burger menjalin kerjasama dengan para penyuplai bahan baku . Untuk rotinya, Klenger Burger disuplai oleh King Burger, yakni brand burger terkenal dari luar sehingga kualitasnya pun tidak kalah dengan burger dari luar negeri. Sedangkan dagingnya, menggunakan daging kualitas terbaik di negeri ini. Hebatnya, kapasitas produksi Klenger Burger justru lebih tinggi dibanding King Burger. Hingga saat ini, Klenger Burger mampu menjual hingga sekitar 150 ribu pieces burger per bulan. Besar kecilnya angka penjualan di setiap outlet memang tidaklah sama, tergantung tempatnya juga. Seperti di Salemba dan Bogor yang outletnya buka hingga 24 jam, tentu saja angka penjuaulannya lebih tinggi dibanding outlet yang lain.

POLA KEMITRAAN
Untuk mengembangkan usaha burgernya, Velly dan Gatut memilih untuk bermitra dengan pengusaha lain. Dengan mengadopsi sistem dari luar, akhirnya dipilihlah cara franchise. Selain untuk lebih mengembangkan Klenger Burger, hal itu dipilih sebagai alternatif mengatasi keterbatasan modal.
Persyaratan untuk menjadi franchise Klenger Burger sendiri juga tidak terlalu sulit. Dengan modal sekitar Rp 200 juta, calon franchise sudah akan mendapat paket franchise selama 5 tahun, lengkap dengan peralatannya dan training karyawan. Selain itu, calon franchise harus merasa yakin dalam menjalani bisnisnya, karena itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan usahanya ke depan.
“Selain modal, yang penting orang itu harus yakin dalam menjalani bisnisnya. Kalau orang Jawa bilang, harus diopenin. Karena kalau ngambil franchise, nggak bisa langsung jalan dan sukses, jadi itu tergantung franchise-nya,” tegas wanita lulusan Sastra Belanda yang sangat ramah itu.
Hingga saat ini telah banyak permintaan dari calon frachise yang datang dari luar Jawa. Sehingga para penggemar burger yang berada di luar Jawa pun masih bisa menikmati kelezatan Klenger Burger, yang merupakan burgernya Indonesia. *



Sedapnya Cita Rasa Rawon Malang

28 October 2008


Ada banyak jenis rawon di Jawa Timur, namun ada satu yang khas, yaitu Rawon Malang nan gurih. Salah satu jenis Rawon Malang ini, di Surabaya yang cukup terkenal ada di Depot Rawon Malang MM.

BAGI Anda penikmat rawon istimewa ini dan tinggal di Surabaya tak perlu lagi jauh-jauh ke Malang, karena di Jl. Embong Kemiri, Ruko Kayoon 46 E telah tersedia. Silakan mampir ke Depot Rawon Malang MM.
Di sana Anda bisa menikmati berbagai jenis rawon malang yang lezat. Mulai Rawon Iga, Rawon Buntut, maupun Rawon Empal. Keistimewaan Rawon Empal selalu menggoda selera, karena aroma gurihnya yang begitu kental. Apalagi disajikan dengan potongan daging empal yang lembut plus sambal dan kecambah yang bikin sulit sekali untuk tidak tergoda olehnya.
Dibandingkan dengan rawon-rawon lainnya, tekstur kuah Rawon Malang begitu terlihat agak bening, karena terbebas dari endapan lemak dari rebusan daging sapi. Dan hal itulah yang membuat rasanya begitu segar di lidah dan tenggorokan. ”Itu salah satu keunggulan dari rawon kami. Kuah yang kami sajikan sengaja kami buat tanpa lemak, sehinga terasa segar. Siapa pun bebas menikmati rawon kami tanpa perlu gangguan kolesterol,” ungkap Rudy didampingi Krisrtin Susilowati, sang pemilik depot.
Istimewanya lagi, bumbu-bumbu yang diracik didatangkan khusus dari daerah asalnya, Malang. ”Semua bumbu masakan dibuat sendiri tanpa koki,” sambung Kristin. Begitu juga dengan daging empalnya, berasa sedikit manis dengan potongan yang selaras dengan tekstur serat daging.
Rawon Iganya juga cukup mantap. Dengan potongan-potongan tulang iga sapi pilihan, dijamin Anda pasti sulit melupakan kekhasannya. ”Selain kuah, seluruh daging yang kami gunakan untuk rawon dan masakan lainnya diproses terlebih dahulu sehingga bebas lemak. Banyak pelanggan yang menyebut masakan yang kami sajikan tetap sehat,” pungkas Rudy. *



Bakwan Haujek Tegalsari

27 October 2008


Awas keliru! Maunya mampir ke depot Bakwan Haujek eeeh… nyasar ke yang Bakwan Huenak. Terserah sih, mana yang Anda pilih?

BAKWAN, makanan yang cukup akrab dan bisa dinikmati dari kalangan bawah hingga atas ini, begitu mudahnya dijumpai dimana saja. Satu lagi gerai jajanan pinggir jalan yang menyemarakan khazanah kuliner di kota Surabaya. Salah satunya adalah Bakwan Haujek.
Bakwan Haujek yang memiliki citarasa sangat khas ini, gerainya menempati sebidang tanah di kawasan Jalan Tegalsari. Tak pelak lagi, namanya yang simpel dan mudah diingat, plus lokasinya yang strategis menjadikan gerai bakwan berspanduk kuning ini gampang dikenal. Sangat unik, begitu pelan waktu menunjukan pukul 10 pagi gerai bakwan sudah mulai bergeliat ramai, segmen keluarga, kantoran, dan ABG, semua berbaur di gerai dengan penataan yang cukup sederhana namun bersih ini.
Ups, jangan keliru, sederet dengan Bakwan Haujek ada juga gerai bakwan yang namanya sepintas sama yakni Bakwan Huenak. Jadi jangan salah mampir, terserah mana yang Anda pilih? Namun kali ini, kita mencoba memanjakan lidah di Bakwan Haujek.
“Gerai ini lebih dulu ada, tapi tidak langsung di sini. Tiga puluh tahun yang lalu, awalnya bapak saya berjualan bakwan dengan naik sepeda berkeliling kampung. Mungkin saking enak rasa bakwannya, banyak pembeli yang berkomentar 'Haujek-Haujek' jadilah nama inilah yang selalu melekat,” jelas Endrik
Saat ditanya apa yang istimewa? Endrik, pemilik gerai Bakwan Haujek, menceritakan “Rasa basonya dibuat dari daging sapi sehingga begitu terasa baik yang kasar atau pun yang halus dan jika digigit terasa renyah.”
Sebagaimana lazimnya bakwan di tempat lain, untuk menyantap Bakwan Haujek disediakan pelengkap khusus yaitu Jaipo atau semacam tongcay, yang rasanya asam gurih dan cocok bila disantap dengan bakwan. Dengan taburan bawang goreng dan daun bawang, seporsi Bakwan Haujek terdiri dari baso kasar & halus, tahu, gorengan dan kekian dalam semangkuk kuah panas, bisa jadi tolok ukur kelezatan bakwan yang sangat populer di semua kalangan.
"Kerap sekali saya mencicipi bakwan di sini, selain bisa dimakan di sini juga bisa dibungkus" cetus Ibu Kusnadi, salah seorang pembeli dari Sidoarjo.
Karena memiliki beberapa cabang yang cukup banyak di Surabaya, seperti di kawasan Manyar (dekat Bonnet), Kalianyar dan Jalan WR Supratman, dalam setiap harinya Bakwan Haujek bisa menghabiskan daging sapi sebanyak 40 kg untuk baso. Harga yang ditawarkan pun tergolong enak di kantong. Bila masih kurang kenyang disediakan juga nasi putih sebagai pelengkapnya. Nah, begitu terasa haus di sini juga terselinap es teler 45 yang telah siap saji dalam kemasan gelas.
Penasaran? Jika belum pernah nyicipi Bakwan Haujek ini, segera sisihkan waktu Anda, lalu meluncurlah ke kawasan Tegalsari saat siang hari dan nikmati rasanya. Apalagi di tengah suasana mendung kota Surabaya seperti akhir-akhir ini. *


Bubur Ayam Jakarta Istimewa di Surabaya

20 October 2008


Dari sekian banyak jenis bubur yang populer di pasaran, Bubur Ayam Jakarta barangkali yang paling banyak dijual. Mulai di depat berkelas dan modern, dijual keliling model kaki lima hingga warung rumahan.

www.arohman.co.cc MAKANAN yang bukan asli Surabaya ini bisa berkembang dan mendapat tempat di hati masyarakat karena rasanya yang mungkin pas dengan lidah orang Surabaya. Karena kebanyakan lidah Surabaya itu gemar sekali terhadap rasa asing atau gurih.
Kalau bukan karena faktor rasa, bisa juga karena makanan seperti Bubur Ayam Jakarta ini tergolong fleksibel dalam penyajian dan dapat dinikmati kapan saja. Pagi oke, siang boleh, bahkan malam hari pun tetap nikmat disantap selagi hangat.
Mencari menu Bubur Ayam Jakarta di Surabaya tidaklah sesulit mencari Pecel Semanggi. Karena sekarang ini, penjual bubur ala Jakarta ini sudah bertebaran di seluruh wilayah Surabaya, bahkan kebanyakan sudah mantap dengan menetap di suatu tempat dan dengan jam buka permanen. Salah satunya adalah Depot Mungil.
Depot ini terletak di Jl. Raya Manyar No. 83 Surabaya (depan Kebun Bibit). Hadir sejak tahun 2001, depot Mungil dirintis oleh Andi Kristyono. Anda yang cukup lama tinggal di Jakarta ini menyajikan Bubur Ayam Jakarta dengan porsi yang cukup mengenyangkan dan dengan harga terjangkau pula.
Sebagaimana standart Bubur Ayam Jakarta yang asli, bubur racikan Depot Mungil ini menggunakan pelengkap seperti emping, cakue, kerupuk udang, daun bawang, bawang goring, dan daging ayam yang disuwir-suwir. Sebagai pelengkapnya, tersedia pula kecap asin, lada bubuk, dan sambal.
“Selera orang Surabaya dan Jakarta memenag berbeda. Orang Surabaya lebih suka makan bubur ayam ditambah kecap manis dan tidak suka ditambah kacang tanah atau kacang kedelai. Sedangkan orang Jakarta sendiri terbiasa menikmati bubur atam dengan tambahan tersebut bahkan masih ditambah lagi dengan kuning telur ayam kampong. Meski bubur ini dicampur kuning telur ayam, bubur ini tidak berbau amis sama sekali. Maklum, bubur ayam ini memang mempunyai keistimewaan pada racikan bumbu kaldunya,” terang Andi menjelaskan.
Ada juga keistimewaan lain dari bubur ayam Jakarta ini. Dalam keadaan hangat bubur ini mampu bertahan selama 4 jam tanpa mencair. Tak heran bila banyak juga para pelanggan yang dating dari luar kota memasan bubur dengan cara dibungkus untuk dikirim ke Sidoarjo, Malang, Banyuwangi, bahkan Manado.
Depot Mungil buka dalam dua shift. Pertama buka jam 06.30 sampai 12.00, kemudian kedua pada pukul 17.00 hingga 23.00. Khusus hari Rabu minggu ke-1 dan ke-3 depot ini libur. Jadi, jangan sampai kecele. *

Jelajahi Kuliner Khas Tuban

18 October 2008


Sebagai kota tua yang cukup legendaris, Tuban yang terletak di pesisir pantai utara pulau Jawa ternyata kaya akan sudut menarik untuk dikunjungi dan dinikmati keberadannya. Termasuk menu dan makanan khasnya.

www.arohman.co.cc BILA Anda sempat jalan-jalan ke Kota Bumi Ronggolawe ini, maka jangan sampai melewatkan beberapa kuliner istimewanya, seperti Dawet Sagu, Dumplek, Intip Goreng, Keripik Gayam, maupun sajian serba pedas khas Tuban.
Letak geografis kota pusat pemerintahan kota Tuban yang berada tepat di kawasan pantai, menjadikan suhu udara selalu hangat dan cenderung panas. Nah, untuk itu jangan lewatkan kesegaran Dawet Sagu sebagai pelarut rasa dahaga Anda. Di pusat wisata kota Tuban yang berada di sekitaran Alun-Alun, Anda bisa mendapatkan minuman khas ini di gerobak-gerobak kecil pinggir jalan. Seperti di sekitaran Jl. Kartini Tuban tak jauh dari Masjid Agung dan Kompleks Makam dan Museum Sunan Bonang, Anda memeperoleh minuman unik ini.
Dawet Sagu disajikan dalam gelas yang terdiri atas dawet sagu, santan, sirup manis gula siwalan, plus es batu. Sembari menyeruput kesegarannya, Anda pun bisa mencicipi jajanan lain seperti intip goring, wingko, juga jenang krasikan. Kesemuannya tergolong menu-menu khas Tuban.
Bila menginginkan varian menu yang lebih banyak lagi, cobalah dating langsung ke Pasar Baru Tuban. Sekalian Anda juga bisa mampir ke Goa Akbar, yang lokasinya persis di belakang Pasar Baru ini. Di sini akan dengan mudah memperoleh Dumplek juga Kue Serabi. Kue Serabinya benar-benar tradisional, karena proses memasaknya masih menggunakan wajan tanah yang di atas anglo. Ada pula Ketan Bubuk, Tahu Lontong, serta Kue Sablak. Samblak merupakan kue yang terbuat dari tepung tapioca (kanji) dipadu dengan kacang tolo. Biasanya Sablak disantap dengan terlebih dulu dicocol kelapa parut. Di Pasar Baru Anda pun akan dengan muda mendapat Keripik Gayam yang gurih dan kemremes.

SEAFOOD SUPERPEDAS

Bagaimana dengan menu utamanya? Ternyata Tuban memiliki sajian yang pantas untuk dicoba. Sekali lagi, nuansa kulinernya tak jauh dengan masih berkaitan dengan hasil laut setempat. Ya, seadfood di sepanjang jalan utama dekat Kelenteng Kwan Sing Bio bisalah dicoba. Berderet-deret warung tenda seafoof di sepanjang Jl. Panglima Sudirman hingga Jl. RE. Martadinata siap memanjakan lidah Anda. Ikan Dorang, iklan Kerapu, Udang, hingga Cumi-Cumi. Selain itu Rajungan di sana lebih terkenal daripada kepiting biasa.
Bila Anda kesulitan menentukan pilihan tempat makan, coba saja mampir ke warung bernama “Cak Mad Jaya”. Di tempat ini Anda bisa memesan sajian khas Tuban yang begitu tersohor, yaitu Rajungan Balsem. Dinamakan “Balsem” karena rasanya superpedas.
Menu khas lain di Tuban, Anda bisa coba di depot milik Ibu Suartiah di kawasan Jl. Manunggal Tuban. Cumi-cuminya begitu maknyuss dengan aroma dan rasa pedasnya yang luar biasa. Depot pinggir jalan ini ada sejak tahun 1985 dan buka mulai jam 09 pagi sampai 09 malam. Semoga bila Anda jalan-jalan ke Tuban tak lupa untuk mencoba menu-menu istimewa Kota Tuban. *

Menjinakkan Kedahsyatan Rasa Kuliner Nusantara

13 October 2008


Makanan merupakan bagian dari keaneragaman budaya nusantara yang jumlahnya termasuk paling variatif, namun sangat mudah diadaptasi oleh siapa saja, dengan bersenjatakan lidah, sebagai indera perasa. Tak mengherankan, bila belakangan ini wisata kuliner seakan menjadi tren tersendiri, dan termasuk bagian dari gaya hidup masyarakat.

www.arohman.co.cc DEMAM wisata kuliner yang terjadi pada masyarakat kita saat ini, tentu tak dapat dipungkiri dan merupakan hal positif bagi kelangsungan makanan tradisional itu sendiri. Apalagi, hal tersebut didukung oleh media massa yang secara spontanitas memanfaatkan ‘kepedulian masyarakat’ itu lewat rubrik maupun acara khusus. Hasilnya, kampanye kuliner pun berjalan dengan sendirinya, sehingga mampu meningkatkan daya jual sekaligus mengangkat perekonomian para penjual makanan tradisional sekaligus memopulerkannya.
Selama ini, orang datang ke sebuah tempat makan (warung, depot, resto) biasanya didasarkan atas kefamilieran lidahnya terhadap makanan favoritnya. Lebih dari itu, suasana penunjang dan lain-lainnya adalah perhitungan nomor ke sekiannya. Padahal bila dicermati secara seksama, setiap makanan khas yang ada di negeri ini memiliki kelebihan lain di samping kelezatan rasanya. Dan, itulah yang tertuang utuh dalam buku 80 Warisan Kuliner Nusantara ini.

Dalam buku yang dikemas eksklusif ini, terdapat 80 makanan juara; yaitu makanan-makanan dari berbagai daerah di Indonesia yang tak terbantahkan lagi kedahsyatan rasanya. Dihadirkan sebagai food guide, disertakan pula 3 lembar peta makan khusus yang meliputi lokasi makan enak di kota Surabaya, Jakarta, dan Bandung.

Reverensi Terlengkap
Sebagai buku yang ditujukan bagi pecinta kuliner, buku ini termasuk paling komplet di antara buku-buku kuliner yang telah terbit sebelumnya. Bukan hanya performanya yang sangat istimewa (format hardcover dan isi artpaper, full color) tentu sangat menarik. Desainnya pun excellent. Kontensnya pun benar-benar lengkap. Selain setiap makanan diulas detail dengan bahasa yang simple dan mudah dipahami, diceritakan pula asal muasalnya. Diikutsertakan juga resep-resepnya, dan tak ketinggalan tempat makan atau depot tempat makanan tersebut berasal dan pupuler di daerah asalnya maupun perwakilannnya di daerah lain.
Misalnya ketika Anda membaca tentang menu soto, maka dalam buku ini Anda langsung dapat memperoleh informasi berbagai jenis soto dan keistimewaanya. Mulai dari soto Madura, Betawi, Makassar dan lain-lainnya. Bahkan ada pula sejarah mengenai soto-soto itu sendiri. Misalnya saja Soto Tangkar. Pada halaman 24 dipaparkan bahwa Soto Tangkar adalah sotonya orang Betawi, yang ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Alkisah, nama Soto Tangkar diambil dari isi soto yang dibuat dari tulang iga (tangkar artinya tulang iga). Karena pada zaman perang, masyarakat kita sangat miskin, hanya bisa mendapatkan tulang iga dengan sedikit daging yang menempel pada tulangnya atau yang oleh orang Surabaya dinamakan tétélan. Resep dan cara membuatnya pun langsung bisa diaplikasikan untuk dicoba langsung di dapur. Sementara bagi yang tidak hobi memasak, bisa langsung mencobanya di tempat yang telah direkomendasikan oleh buku ini untuk mencicipi keaslian Soto Tangkar. Misalnya saja, Soto Tangkar ini bisa didapat di Rumah Makan Soto Tangkar Omah Sendok di Jakarta yang buka pada pukul 10.00 – 17.00. Begitu seterusnya dengan makanan khas lainnya, dijelentrehkan oleh tim penyusun yang merupakan para pakar kuliner Indonesia.
Contoh lain adalah, misalnya ketika kita yang tinggal di Surabaya kemudian ngidam kepingin Rujak Soto Banyuwangi, maka telah tersedia rekomendasi tempatnya, yaitu di Depot Dahlia, Jl. Ngagel Jawa Barat. Sedangkan bagi yang penasaran apa itu Rujak Soto, terlebih dahulu dapat mengetahui deskripsi performa dan cara penyajiannya melali buku ini. Bahkan resepnya juga sangat lengkap, tinggal dicoba melihatnya di halaman 105.

Kitab Wajib Kuliner
80 hidangan yang merupakan makanan khas pilihan dari seantero nusantara dalam buku ini, kesemuanya merupakan warisan adiluhung nenek moyang kita. Pertautan budaya dan suku di negeri ini menghasilkan aneka rasa dan warna yang memperkaya kekhasannya kuliner nusantara. Diperlukan ketajaman lidah untuk membedakan setiap jenis masakan. Karena ada jenis masakan yang serupa namun komposisi bumbu dan penampilannya berbeda jauh.
Trik dan tips dalam menyiasati bumbu agar masakan tetap enak serta menyehatkan juga terselip di antara paparan kekhasan masakan daerah. Misalnya saja rahasia gurih Sroto Banyumas yang ternyata bukan berasal dari penyedap rasa, melainkan dari bumbu kemiri, kacang, dan kelapa parut sangrai.
Dari total 80 makanan warisan kuliner nusantara yang ada, buku ini mengategorikannya ke dalam 8 bagian untuk memudahkan mengenali jenis masakannya. Jenis sate disajikan 9 pilihan aneka sate; dari sate Meranggi sampai sate Padang. Kemudian Soto juga ada 9 macam. Disusul jenis nasi ada 13 varian, mulai nasi Uduk hingga nasi Buk. Kategori lontong ada 7 jenis. Mi ada 5 jenis. Sop dan hidangan berkuah ada 12 macam. 7 buah masuk kategori Ayam, Bebek dan Ikan, dan 18 jenis masakan lainnya.
Sepertinya, buku ini juga pantas sekali dijadikan inspirasi bagi mereka yang memiliki usaha di bidang makanan, atau akan memulai bisnis depot makanan. Sajian resepnya bisa dijadikan rujukan, sementara falsafah dan hikayat ke-80 makanan itu dapat menjadi modal untuk lebih mengenal dan melanggengkan kuliner nusantara ini.
Yang lebih penting lagi dari buku ini, adalah efek pasca membaca yang menimbulkan gairah untuk mencoba setiap menu yang benar-benar menggiurkan selera itu. Dijamin Anda pasti akan menahan liur untuk sekadar menjinakkan kedahsyatan setiap rasa. * (RADAR SURABAYA; 12 Oktober 2008)

Judul Buku : 80 Warisan Kuliner Nusantara
Penyusun : Samijati Purwadari
Genre : Kuliner
Cetakan : Pertama, September 2008
Tebal : 168 halaman
Penerbit : PT Media Boga Utama
Harga : Rp. 50.000,-
Peresensi : Abdur Rohman, S.Pd

Tradisi Kupatan Pelengkap Lebaran

08 October 2008


Secara tradisi, sepakan setelah Idul Fitri oleh sebagian umat Islam di Jawa dirayakan sebagai Riyaya Kupat (Hari Raya Ketupat). Tradisi ini masih merupakan rangkaian dari hari Lebaran, atau bisa juga dikatakan sebagai hari kemenangan kedua setelah Idul Fitri 1 Syawal. Sebab, biasanya kaum muslimin usai membatalkan puasa pada hari raya, esoknya mereka menyambung puasanya kembali selama 6 hari, atau dikenal sebagai puasa Syawal. Nah, pada hari ke-8 dirayakanlah Hari Raya Ketupat.

www.arohman.co.cc BIASANYA, pada hari tersebut disediakan hidangan kupat-lepet. Kupat (Ketupat) adalah makanan yang dikemas cantik yang terbuat dari anyaman janur (daun kelapa). Isinya adalah beras, sehingga bentuk matangnya menyerupai lontong. Sementara Lepet juga dikemas dari daun kelapa namun bentuknya tidak dianyam, melainkan dibentuk sedemikian rupa dengan isi ketan, paruran kelapa, dan biasanya dicampuri biji kacang panjang (kacang tholo) lalu diikat kuat menggunakan tali khusus dari serat batang pohon pisang.
Sebagai pelengkap menyantap kupat disediakan bumbu khusus yang bahannya berasal dari poyah kelapa yang dimasak dengan bumbu lainnya. Kadang dikombinasi bumbu sambal goreng, gulai, atau opor. Hasilnya, kuahnya pun begitu berlinang minyak yang berasal dari endapan poyah kelapa.
Kalau Lepet langsung bisa disantap. Karena rasanya sudah sangat enak meski tanpa bumbu. Unsur gurih begitu mendominasi yang berasal dari parutan kelapanya. Belum lagi apabila ditambah kacang tholo.
Dalam tradisi Lebaran Ketupat, setiap keluarga akan menyediakan porsi khusus untuk dibawa ke musalah atau masjid setempat. Setelah membaca salawat juga tahlil yang dipimpin oleh Kaur Desa dalam hal ini Modin, hidangan kupat-lepet itu pun disantap bersama-sama.
Sebelum kembali dibawa pulang, sebagian kupat, lepet, dan lauknya disisikan sebagian untuk dihadiahkan kepada Pak Modin. Baru setelah itu kupat-lepet dibawa pulang dan bias disantap berramai-ramai bareng keluarga.
Ya, itulah sedikit tradisi yang Lebaran Ketupat yang hingga kini masih dilestarikan oleh sebagian kaum muslim di Jawa. Bahkan, di Gresik, di sebuah desa bernama Pekauman, tradisi tersebut masih dipegang teguh. Hampir semua warganya merayakan hari kemenangan pada hari ke-8 dalam bulan Syawal.
Dalam setiap perayaan Idul Fitri, ada satu tradisi yang selalu dilakukan oleh masyarakat Kampung Pekauman yakni tradisi puasa sepekan atau tradisi puasa syawal. Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar Jalan KH Wahid Hasyim tersebut telah berlangsung secara turun temurun dan dilaksanakan selama enam hari setelah hari pertama perayaan Idul Fitri.
Hidangan yang disajikan untuk berbuka pun tergolong istimewa yakni sajian berupa sego tomat, nasi kebuli, harisah, dan makanan khas Timur Tengah yang lain.
Para masyarakat Kauman baru melaksanakan kegiatan silaturahmi pada hari raya ketupat atau enam hari setelah puasa syawal, pada saat itulah mereka saling bermaaf-maafan dengan kerabat, saudara, maupun teman yang tinggal di perkampungan tersebut dengan Ketupat sebagai hidangan yang paling banyak disajikan oleh penduduk setempat. *

Tengkleng, Bikin Jadi Ketagihan Nyedot

07 October 2008


Bicara hidangan lebaran, tentu banyak sekali jenis dan variasi menunya. Silih bergantinya tamu ke rumah, pasti tidak akan mudah bagi tuan rumah dalam menyediakan hidangan. Nah, alternatif paling gampang dalam menjamu tamu istimewa adalah dengan ’menggiringnya’ ke resto/depot/warung bermenu khas.

www.arohman.co.cc SEORANG kawan yang saya tamui saat lebaran kemarin melakukan hal seperti itu. Agaknya dia memilih kepraktisan dan menghindari capek memasak dan membersihkan piring dengan mengajak saya makan di sebuah depot khas tak jauh dari rumahnya. Di samping itu, agaknya dia juga sangat mengapreasiasi saya beserta seorang teman jurnalis yang cukup sering mencicipi menu-menu khas di penjuru Surabaya dan sekitarnya. Sehingga akhirnya, dia pun memasrahkan pilihan kepada saya. Dan, menujulah kami ke depot Karmen 29 yang menyediakan menu spesial khas Solo berupa Tengkleng dan Sate Buntel.
Tengkleng merupakan menu berkuah dengan isi berupa tetelan tulang kambing dengan sedikit daging yang masih melekat. Tulang-tulang tetelan tersebut merupakan bagian tersisa setelah daging utamanya diambil sebagai bahan utama sate.

Pada kebanyakan warung sate di Surabaya, tetelan kebanyakan dibuat gulai. Namun khusus di depot Karmen 29 ini tulang-tulang tersebut disulap jadi Tengkleng. Tapi, sekilas sih menu kita ini juga seperti gulai, hanya saja kuahnya tanpa menggunakan santan. Istimewanya lagi juga tanpa penyedap rasa. Aroma dan rasa gurihnya murni berasal dari komposisi garam dan mungkin gerusan kemiri.
Tengkleng termasuk menu paling anyar di depot Karmen 29. Sebelumnya menu favorit di sana adalah Tongseng, yang bahannya dasanya juga tak beda jauh dengan Tengkleng yang kita santap hari itu.
Soal rasa mungkin Tengkleng memang tidak begitu istimewa, namun yang mengasyikkan adalah saat harus melalap daging-daging yang lengket di tulang-tulang itu sembari mengisapnya dalam-dalam. Apalagi kalo mendapatkan tulang belakang dengan sumsum yang begitu maknyusss. Tak cukup dengan sekali sedot, karena ada rasa ketagihan dalam mengisap tulang-tulang kambing tersebut.
Tengkleng disajikan dalam piring penuh dengan taburan bawang goreng. Bagi yang suka jeruk nipis bisa juga juga ditambahkan sebagai pelengkap rasanya. Dan sebagai pendamping utamanya adalah nasi dalam piring lainnya. Di tempat asalnya sana, di Solo, Tengkleng disajikan di atas pincuk daun pisang.
Untuk melengkapi kenikmatan Tengkleng, makin afdol dengan hadirnya Sate Buntel. Sebab, gurih dan manisnya kecap sate buntel dapat melengkapi kenikmatan bersantap di depot Karmen 29. Apalagi penyapu dahaganya adalah es beras kencur yang betu-betul kemelenyer di tenggorokan. Benar-benar jamuan lebaran teristimewa tahun ini. Kapan-kapan lagi masih mau dong diajak mampir lagi ke sana… (*)

Reuni dengan Soto Buntut

06 October 2008



ADA yang tersisa dari Ramadan Tahun ini. Kenangan buka bersama menyantap Soto Buntut di kedai Cak Agus depan Masjid Al-Akbar Surabaya. Malam ganjil, yang bertepatan dengan 27 Ramadan 1429 H juga merupakan malam reuni. Setidaknya bagi saya dan teman-teman ex-pengurus Senat FPBS IKIP Surabaya periode 1996-1997. Juga malam kangen mantan penghuni PTT IV/22.

Senyum ceria penuh bahagia seketika memencar, manakala kami berlima dipersatukan kembali oleh kesempatan di tengah padatnya rutinitas yang sangat sulit disela. Saya yang hampir tak pernah memiliki waktu jedah dari kisaran deadline ke deadline berikutnya sama persis dengan Mas Memed. Selalu full day. Maklum, saya dan dia sama-sama pekerja media. Saya di sebuah media cetak, sedangkan Mas Memed di televisi.
Sebenarnya hari itu, Mas Habe yang juga seorang jurnalis menjanjikan hadir. Namun karena pagi harinya dia baru tiba di Lamongan setelah semalaman menempuh perjalanan mudik bersama keluarganya, akhirnya dengan berat hati dia tidak jadi gabung. Dari suaranya yang tetap melengking di ujung telepon, tebersit kekecewaan luar biasa. Maklum, setahun sudah kami tidak bersua. Dan moment seperti kemarin sangatlah sulit diulang.

Tiga sahabat seperjuagan lainnya adalah Mas Mulyono. Dia alumnus Bahasa Jawa yang kini mengabdikan ‘kejawaannya’ di sebuah sekolah di Pacitan. Meskipun seminggu sekali harus Pulang Pergi Surabaya-Pacitan, namun hal tersebut tak pernah menyurutkan semangatnya sebagai guru. Sama halnya dengan Mas Mulyono adalah Mas Faruq. Dia merupakan angkatan termudah dari komunitas kami waktu itu. Tapi bicara mengenai prestasi dalam dunia pendidikan tak perlu ditanyakan. Tak heran, bila almunus Bahasa Indonesia ’95 ini kini berhasil menduduki kersi kepala sekolah MTs di daerah asalnya sana, Gresik. Nah, yang tak bisa dianggap sebelah mata adalah Cak Edy. Meski dia bukanlah alumnus FPBS, tetapi FPTK Jurusan ’setrum’ namun kesetiakawanannya begitu luar biasa. Dia menjadi komunitas kami, karena keluwesannya dalam bergaul di kompleks UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) waktu itu, yang kemudian menjalinkan kami untuk selalu bersama hingga kini. Tak mengherankan bila kemudian teman kita yang satu ini berhasil dan mampu menjadi pengusaha sukses.
Malam itu sebenarnya masih ada yang kami harapkan untuk bisa hadir bersama, yaitu Mas Yudi yang sekarang menjadi guru PNS di Mantup Lamongan, Om Catur yang aktif sebagai wartawan otomotif di Grup Gramedia, dan Kang Sugeng yang kami penasaran dimanakah rimbanya kini. Alangkah makin nikmatnya hidangan Soto Buntut malam itu, seandainya kami bisa menyatu kembali mengenang suka-duka masa di kuliah.

Sekilas tentang Soto Buntut itu...

Nah, bicara mengenai soto, malam itu kami sepakat usai salat Mahgrib langsung menikmati kelezatan Soto Buntut Cak Agus. Sebenarnya sih bukan hanya Soto Buntut, karena depot Cak Agus juga menyediakan Soto Daging, juga Soto Ati. Jadi cukuplah dijadikan alternatif pilihan bagi yang merasa ’berat’ menyantap Soto Buntut.
Makan soto pada saat perut kosong setelah seharian puasa tentu sangat nikmat. Kesegaran kuahnya yang melimpah dan berasa gurih tentu akan seketika menyuplai energi baru ke dalam tubuh. Apalagi, cabikan daging sapi yang melepuh lembut dan lumer dengan sendirinya dari potongan ruas-ruas tulang yang telah direbus seharian itu dipercaya penuh protein dan aneka zat aprodesiak pembakar gairah.
Tampilan Soto Buntut Cak Agus mirip dengan Sop Buntut pada umumnya. Namun ketika ditilik dari bahannya, sepertinya Soto Buntut Cak Agus ini tidak sepenuhnya menggunakan bahan daging buntut yang lembut namun agak kenyal itu. Akan tetapi mencampurkan juga tulang tetelan api tertentu lain seperti halnya Soto Tangkar asli Jakarta.
Kuahnya bening seperti kuah Sop Buntut dengan taburan irisan daun seladri dan bawang daun juga bawang goreng. Disajikan dalam satu mangkuk penuh, sementara nasi ditempatkan dalam piring terpisah. Untuk menyantapnya, nasi bisa dicampur langsung ke dalam mangkuk, atau kuah disendok sedikit-sedikit ke dalam piring. Aromanya makin sedap menggugah selera dengan perasan jeruk nipis ke dalam kuah sebelum menyantapnya. Sungguh, buka puasa dan reuni yang tak kan pernah telupakan.
Akhir kata, saya mengucapkan taqoballahu minna waminkum taqobal yaa karim... minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Sampai jumpa di buka dan reuni pada Ramadan mendatang. Semoga personalnya semakin komplet.*