Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

Archives

Depot Madinah: Sensasi Nasi Kebuli & Arabian Food

23 August 2008

Bosan dengan makanan tradisional tapi enggan menyantap sajian western dan chinnese food, cari solusi saja di warung arabian food.

www.arrohman.blogspot.com BERJALAN-jalan ke kawasan Ampel Surabaya memang sarat makna dan kenangan. Apalagi saat menjelang dan selama bulan puasa seperti sekarang. Tidak hanya mendapati kepuasan wisata religi saja di sana, aneka sajian kuliner berbagai daerah yang cukup ‘langka’ juga bisa dijumpai, misalnya saja restoran atau warung makan timur tengah berbasis masakan Arabian Food.

Tampilan Nasi Kebuli yang begitu menggoda selera. (repro from resepimamablogspot).

Ada beberapa tempat makan timur tengah di sana yang namanya cukup kesohor. Ketika menjejakkan kaki di sana, selain depot Al Mutlik dan Yamman, warung ‘Madinah’ jangan sampai dilewatkan. Kenapa demikian? Karena warung tersebut cukup dikenal masyarakat sekitar dan warga Surabaya sebagai penyedia makanan timur tengah jempolan dan cukup berpengalaman.
Betapa tidak, sejak berdiri tahun 1973 hingga sekarang, warung ‘Madinah’ tetap eksis menjajakan menu yang sama, yaitu menu-menu khas Timur Tengah yang mengundang selera. Jangan harapkan pengunjung di sana mencari makanan populis macam nasi rawon, soto, atau nasi rames, yang ada hanyalah sate dan gulai. Itu pun mayoritas berbahan dasar kambing. So, yang punya tekanan darah tinggi mohon tiarap dulu dech untuk saat ini.

Nasi Kebuli Duplikasi Nasgor
Warung ‘Madinah’ yang mempredikatkan diri sebagai tempat makan spesialis Arabian Food, tentu tidak akan menyimpang dalam menyajikan menu dagangannya. Kambing oven, roti maryam, nasi goreng kambing, sate dan gulai kambing, kikil kambing, krengsengan kambing, sampai nasi kebuli bisa dibeli di warung yang beralamat Jl. Kalimas Udik ini.

H. Anas Baya’sud salah satu pewaris racikan khas resep keluarga Depot Madinah. Anas juga membuka cabang Depot Madinah di Jl. Genteng Kali (pojok Gemblongan depan Siola).

Paling khas dari masakan timur tengah ini adalah kambing oven dan nasi kebuli. Nyaris seluruh depot timur tengah menjual menu potongan kambing yang dipanaskan dalam oven ini sebelum disantap. “Paling khas dan banyak diburu di warung arabian food adalah kambing oven. Ini memang makanan khas arab yang banyak disukai orang, di warung saya saja cepet ludes,” kata H. Anas Baya’sud, pewaris warung ‘Madinah’ dari orang tuanya, saat berbincang di depan kedai tendanya di Lapangan Makodam Brawijaya Surabaya untuk memeriahkan FJB 2008.
Selain kambing oven, nasi kebuli kerap jadi incaran pengunjung. Menurutnya, nasi kebuli adalah makanan timur tengah yang banyak dicari karena aromanya yang khas dan mampu mengenyangkan. Bagi sebagian orang, nasi kebuli dianggap masakan khas yang menyerupai nasi goreng. Sekilas memang tampilannya mirip, tapi untuk rasa dan aroma sangat berbeda.
Bagi yang pertama melihat nasi kebuli, tidak salah bila menyebutnya nasi goreng. Bila dirasakan, aroma kencur dan kunyit pada nasi kebuli begitu kuat. Berbeda dengan nasi goreng jawa yang lebih beraroma bawang. Sepintas bentuk nasi kebuli juga mirip dengan nasi briani, yang membedakan hanya warnanya, nasi briani berwarna lebih kuning. Nasi kebuli dan nasi briani sama-sama menggunakan lauk daging kambing, terkadang ada juga tempat makan yang menggunakan potongan daging ayam sebagai lauknya.
Bahan dan bumbu nasi kebuli di tempat makan ini masih memanfaatkan bawang goreng, kayu manis, cengkeh, pala, kapulaga, bunga peka, serai, daun jeruk, dan minyak samin. Karena menggunakan masakan khas Arab, maka warung ‘Madinah’ menggunakan potongan daging kambing dan tulang muda sebagai lauknya.
Cara memasaknya pun sama, diawali dengan menumis bumbu hingga harus lantas memasukkan santan dan masak sampai jadi karonan. Setelah itu baru proses pengukusan sekitar 30 - 45 menit lantas dilanjutkan dengan menambah minyak samin, aduk rata, dan dihidangkan selagi hangat.
Nyamm…kenikmatan nasi kebuli siap disantap selagi hangat dengan lauk potongan daging kambing yang empuk. “Cara masaknya sama. Cuma di warung Madinah menggunakan resep keluarga yang dimasak oleh juru masak keluarga yang ahli secara turun-temurun. Itu yang membuat kami beda dengan tempat lain yang menjual nasi ini (kebuli). Kalau dibilang koki kami itu khusus,” kata H. Anas, ketika ditemui FR dan VENUS di ajang Festival Jajanan Bango (FJB) 2008 Surabaya, Mei lalu. *

Soto Pak Djayus: Penjualnya Madura, Sotonya Khas Lamongan

22 August 2008

Orang Madura biasa menjual soto daging. Orang Lamongan biasa menjual soto ayam. Apa jadinya jika orang Madura menjual soto Lamongan. Enak kah?

www.arrohman.blogspot.com
SELAIN soto Madura, di Surabaya cukup terkenal dengan menu soto lain yang bernama soto Lamongan. Secara keseluruhan antara keduanya ada perbedaan, baik dilihat dari karakter bahan, tampilan dan juga daerah asal. Pembeda paling kentara, soto Madura terkenal dengan soto berlauk daging (sapi) sedangkan soto Lamongan menggunakan lauk ayam.
Di Surabaya dan mungkin di daerah lain, penjual soto daging (sapi) mayoritas berasal dari keturunan Madura, sementara kota Lamongan terkenal sebagai daerah asal penjual soto ayam. Jarang sekali mereka yang berasal dari Madura menjajakan soto khas Lamongan atau sebaliknya.

Performa hidangan soto Pak Djayus saat berpartisipasi dalam Festival Jajanan Bango 2008 di Lapangan Makodam Brawijaya Surabaya, Mei (2008) lalu.

Namun ‘tradisi’ itu tidak sepenuhnya benar, ada beberapa penjual makanan berbasis soto mendobrak paradigma itu. Bila Anda berkunjung ke Festival Jajanan Bango 2008 di Surabaya lalu atau sebelumnya sudah mengenal Soto Pak Djayus, maka sang penjual adalah salah satu orang yang mendobrak ‘tradisi’ tersebut.
Ketika ditemui di ajang kuliner bergengsi itu, Abdul Mu’in membenarkan jika Pak Djayus yang tak lain adalah orang tua-nya adalah penjual soto ayam yang bukan ‘berdarah’ Lamongan, melainkan keturunan asli Madura. Tapi, alasan itu tidak lantas mengurangi kenikmatan sajian Soto Pak Djayus yang sudah telanjur kondang di kota Pahlawan ini.
Jika ada yang meminta daftar penjual soto enak di Surabaya, bisa jadi Soto Pak Djayus bisa tercatat sejajar dengan warung Soto Pak Sadi (Ambengan), Soto Cak Riban (Genteng), dan Soto Gubeng Pojok (Gubeng). Karena pengalaman sebagai penjual soto ayam yang sudah dirintisnya sejak 1984 silam, Soto Pak Djayus cukup populis di telinga warga Surabaya, khususnya yang doyan dengan makanan berkuah warna kuning ini.

Ganti Bandeng dengan Udang
Selain lontong balap, pecel semanggi, dan nasi bebek, Surabaya juga terkenal dengan makanan berkuah kuning bernama soto. Seperti makanan khas lainnya, soto mudah sekali ditemui di pelosok kota. Salah satu yang terkenal di Surabaya adalah Soto Pak Djayus di Jl. Manyar (depan Kebon Bibit). Menurut Mu’in, Soto Pak Djayus biasa menyajikan soto ayam dengan soun, dan potongan telur ayam rebus.

Abdul Mu’in bersama istri melestarikan warusan resep soto Pak Djayus, ayahnya.

“Untuk lauknya kami menggunakan potongan ayam kampung. Kami tidak berani menggunakan ayam potong biasa (boiler) karena akan mengurangi kemantapan soto itu sendiri. Ayam kampung sudah menjadi pilihan sejak bapak (Pak Djayus) buka hingga saya teruskan sekarang ini,” katanya di sela-sela menyajikan hidangan untuk tim Food & Resto dan VENUS.
Bumbu yang digunakan sebagai racikan Soto Pak Djayus tergolong biasa, sama seperti soto Lamongan lainnya. Kemiri, bawang putih, dan bumbu dapur yang wajib ada dalam pembuatan kuah soto. Namun ada satu yang menjadi rahasia kesedapan warung soto yang sudah buka cabang di Jl. Tenggilis dan kawasan Rungkut itu, yaitu mengganti olahan bahan penyedap kuah yang kebanyakan pedagang menggunakan ikan Bandeng dengan bahan udang.
Menurut Mu’in, “Kekuatan rasa kami terletak pada penggunaan bahan penyedap alami itu. Sementara kalau penyajiannya tetap sama dengan soto Lamongan kebanyakan.” Soto Pak Djayus terdiri dari nasi, kecambah, bawang merah goreng, seledri, dan ayam kampung yang telah digoreng dan dipotong mini. Tentunya tidak lupa disertai taburan kerupuk udang yang sudah dihaluskan atau yang biasa disebut poyah (koya). Pingin tambahan lauk bisa memilih hidangan lain di antaranya sate yang dibuat dari potongan kulit ayam, jeroan, telur muda, atau brutu (ekor). Bila ingin tambah nikmat, pengunjung bisa menambahkan kecap manis atau kecap asin yang sudah disediakan bersanding sambal. Huh, puas bersantap, pengunjung bisa memesan minum es degan (kelapa muda) untuk menambah kesegaran.
Satu porsi Soto Pak Djayus dijual seharga Rp.8.000. Jika ingin menambah sate jeroan, es degan, atau kerupuk udang, maka akan dikenakan harga tambahan. Tapi, bila ingin menambah poyah, pembeli bisa mendapatkannya secara gratis. *

Bakpao Niu Ming Yang Selalu Nikmat

21 August 2008


www.arrohman.blogspot.com JIKA Anda pernah mencicipi sebuah bakpao dengan kenikmatan rasa yang tak berubah walau dalam masih hangat atau sudah dingin, bisa jadi memang yang sedang Anda kecap itu bakpao Niu Ming.
Tak seperti bakpao yang ada di jalanan Surabaya dan sekitarnya, bakpao Niu Ming mempunyai keunggulan tiada tertandingi. Di saat bakpao lain yang mempunyai karakter tak nikmat lagi jika dalam kondisi tidak hangat, berbeda dengan Niu Ming yang tetap terjaga aroma dan rasanya meski dalam keadaan tidak hangat lagi.
Ketika menegok eksistensinya di dunia makanan, tak heran bila bakpao Niu Ming mempunyai ragam keunggulan. Niu Ming hadir sebagai pilihan jajanan di Surabaya sudah sejak 24 tahun lalu. Bermuara dari sebuah hobi masak-memasak yang dirintis, Rosy Handayani hingga kepincut pada sebuah makanan khas Chinese bernama bakpao ini. Awalnya hanya melayani pesanan kerabat, teman, tetangga, sampai beberapa saudara itu menggiringnya pada dunia bisnis yang lebih dikomersilkan untuk khalayak umum.
Seiring waktu berjalan, prospek usaha yang dirintis sejak kisaran 1982 silam itu menandakan sinyal positif untuk lebih dikembangkan kemudian. Tetap menjaga taste ciri khas Niu Ming dengan kombinasi aneka rasa sesuai selera, cukup mampu mengusungnya pada deretan makanan khas dan nikmat di Surabaya.
Dalam pengembangan usaha di awal pendiriannya, setidaknya lima rasa khas bakpao yang disajikan bagi konsumen penikmat rasa. Cicipi saja aneka rasa Niu Ming seperti ayam, kacang, tauso, dan jasio. Tak lama berselang ada tambahan menu rasa baru hingga sembilan menu seperti ayam jamur, coklat, dan keju.
Setelah tren bakpao dengan pasar yang konsisten, pengembangan pun dilakukan Rosy Handayani dengan menyentuh menu jajanan lain yang tak kalah nikmatnya. Kroket, resoles, sio may, dan kek yan, mulai ditawarkan dan mendapat sambutan dari para customer lawas maupun pelanggan yang baru mengenalnya.
Dari sekian menu yang ada, rasa ayam boleh dibilang sebagai primadona bagi pengunjung. Tidak mengherankan bila bakpao mini Niu Ming itu menjadi andalan dikarenakan sebagai menu utama. Sementara itu, rate harga yang ditawarkan bakpao dan jajanan lain di Niu Ming berkisar antara Rp. 2.900 sampai 5.250.
Karena eksistensi rasa yang tetap terjaga dari tahun ke tahun itulah tak heran bila konsumen fanatik seperti instansi, atau organisasi tetap setia mengidolakan makanan tersebut baik dari Surabaya sendiri, Jakarta, Solo, dan beberapa kota lainnya meski via pesanan (karena belum buka cabang luar kota).
Di Surabaya, bakpao Niu Ming tersebar di Jl. Kusuma Bangsa 51 E, Jl. H.R. Muhammad blok C 76-77 (pertokoan Surya Inti II), food court Galaxy Mall, Pasar Atom. Sementara itu order via mobil keliling bisa dijumpai di Jl. Darmo Permai Timur, Jl. Panjang Jiwo, Jl. Manyar Kertoarjo.
Bagi Anda yang ingin memesan bakpao untuk sebuah hajatan atau even khusus, tetap dilayani tanpa batasan order tertentu. Kalaupun butuh pesanan khusus dengan ukuran yang spesial jumbo semisal untuk acara ulang tahun, tetap tersanggupi.*

Warung Empal Bu Yudi Memang Joss

20 August 2008


BAGI Anda pecinta rasa, tentunya cukup mengenal menu hidangan yang menghadirkan daging empal sebagai lauk utama. Jika Anda berdomisili di Surabaya dan sekitar, tak salah bila mampir di Warung Empal Bu Yudi, spesialis penyaji menu hidangan empal dalam aneka masakan.
Untuk menemukan kepuasaan lidah melahap menu sajian empal di Warung Empal Bu Yudi tidaklah susah, sebab lokasi warung cukup mudah dijangkau. Ketika Anda melintasi Jl. Kapas Krampung 220 Surabaya, di sanalah Anda akan menemukan tempat pemuasan selera ini.
Tak tanggung-tanggung, aneka jenis menu empal disajikan setiap hari dalam kemasan segar siap santap. Simak saja beberapa menu yang mengandalkan empal sebagai pilihan utama seperti Nasi Empal Sayur Asin, Nasi Campur, dan Nasi Bali Koyor. Sementara jika Anda penyuka menu berkuah layak memilih sajian Sop Buntut, Gulai Iga Sapi, serta Rawon. Khusus Minggu, menu spesial Lontong Cap Gomeh menjadi salah satu bagian menu pilihan.
“Warung Empal Bu Yudi memang mengandalkan lauk empal sebagai menu andalan utama. Sekian banyak menu yang ada rata-rata menyajikan lauk empal selain menu yang berkuah. Bahkan kita juga menyajikan menu khusus koyor (kotot,red) yang juga banyak diminati,” kata Bu Yudi.
Bicara kelebihan, tak usah diragukan. Alasannya, empal yang disajikan dijamin mampu memuaskan selera. Empal terasa empuk, tidak meninggalkan serat ketika digigit, dan tentunya seluruh masakan dibuat secara tanek.
Bahkan ada satu kelebihan yang nyaris tidak dipunyai kebanyakan menu sajian dari rumah makan yang ada. Apa itu? Menurut Bu Yudi, menu makanan lauk empal ini mampu bertahan tidak basi dan tetap menjaga rasa aslinya hingga jangka waktu 13 jam lamanya.
Tak heran bila menu Warung Empal bu Yudi menjadi tempat ideal dan jujugan panitia dan pembuat even untuk didaulat sebagai penyetok makanan boks. Umumnya, acara pertunjukan artis, pemakaman, hingga acara-acara khusus yang bersifat agamis di tempat-tempat ibadah.
Layanan antar pun diberikan bagi pembeli yang ogah datang langsung ke warung bagi pemesan di sekitar lokasi. Sedangkan untuk pemesan yang jaraknya agak jauh akan tetap dilayani dengan catatan order tertentu, baik itu via telepon atau lainnya.
Jika Anda benar-benar tertarik untuk langsung menyantap aneka menu sajian, Warung Empal Bu Yudi siap kapan saja memanjakan lidah Anda karena tidak ada hari libur. Baik Sabtu, Minggu, sampai hari lebaran pun tetap buka memfasilitasi kebutuhan perut pecinta rasa. Hanya saja Warung Empal Bu Yudi dibuka mulai pukul 6 pagi sampai 4 sore, sementara waktu makan malam tidak dilayani.
Mengapa menggunakan nama Warung Empal Bu Yudi? Menurutnya, agar mudah lebih dikenali dan mudah diingat. Meski bertempat di Jl. Kapas Krampung baru setahun, tapi pengalaman menyajikan menu hidangan empal sudah dilakoninya selama 13 tahun. Kala itu berlokasi di rumahnya daerah Jl. Lebak Arum, dengan nama depot ‘Langgeng’. *

Baso Keju yang Tak Lagi Bulat

16 August 2008


www.arrohman.blogspot.com ADALAH Oki Adiwijaya yang melakukan inovasi dengan membuat baso tak lagi bulat, melainkan dengan aneka bentuk yang menarik, seperti bentuk hati, persegi, bunga, dan aneka bentuk lainnya. Selain itu, rasanya pun dibuat beraneka macam, seperti baso rasa keju, mente, anggur, dan lainnya. Berikut laporan Tabloid LeZAT.
Dari dulu makanan baso intinya tidak jauh berbeda, terutama pada bentuk baso yang bulat dan memakai bahan inti daging sapi. Kini persaingan perdagangan makanan baso yang ketat membuat beberapa pedagang baso mencoba melakukan inovasi produk. Salah satunya dilakukan Oki Adiwijaya, owner Baso Keju. Sejak awal buka setahun lalu (2007), Oki mencoba mewujudkan idenya berinovasi pada bentuk baso yang tidak lagi bulat, namun dibuatnya menjadi menarik seperti bentuk hati, bunga, persegi, bulat pipih, dan masih banyak lagi. ‘Bentuk itu memang sengaja saya ciptakan untuk meramaikan ragam baso yang ada di Indonesia. Saya lihat belum ada baso yang bentuknya seperti ini. Saya ingin membuat yang beda,” ujarnya.
Selain bentuknya yang beragam, Oki tetap menambahkan sesuatu yang unik dibalik rasa basonya. Ini supaya penikmat baso bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari baso ciptaannya. Menurut Oki, dengan adanya tambahan isi di dalamnya membuat baso yang beragam bentuk ini lebih memiliki ciri khas sehingga memberi kebebasan pada pelanggan baso untuk menentukan pilihan rasanya. Kurang lebih ada 28 macam rasa baso, seperti keju, daging asap, mente, jagung manis, rasa pedas, anggur, cokelat, leci, dan lain-lain. “Dari sekian banyak rasa yang ditawarkan, ternyata tanggapan masyarakat bagus sekali. Mereka sampai antri ingin mencoba,” ujarnya.
Oki mengaku dengan menawarkan citarasa baru itu, optimistis baso keju hasil inovasinya akan semakin berkembang bahkan menjadi tren baru di masyarakat. “Yang paling penting adalah kita harus bisa menyajikan baso yang menarik tapi sehat, bersih, dan aman bagi perlindungan konsumen. Begitu juga dalam penyajiannya harus baik dan memenuhi standar pangan,” ujarnya.
Untuk menikmati seporsi baso di gerai baso keju ini, harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Satu buah baso dengan beragam pilihan rasa itu ditawar seharga 1.000 hingga 2.000 rupiah. ‘Disini baso yang cukup banyak diminati adalah baso yang isinya keju’ ungkap Oki.

Franchise Garansi Untung
Karena usaha baso bukan usaha yang tren sesaat, maka Oki ingin menawarkan bisnis ini kepada mereka yang tertarik dengan usaha kuliner. Franchisee tidak perlu repot membuat baso, karena semua bahan baku untuk berjualan langsung disupplay dari kota Malang. Oki juga mengungkapkan bahwa bisnis franchise baso keju adalah franchise pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berani memberi garansi untung pada franchisee-nya sebesar 15 juta dalam 2 tahun kontrak. Wow, sebuah tawaran yang sangat menarik, dimana sebuah usaha yang paling ditakutkan adalah resikonya. Tapi, jika risikonya dihapuskan dan diganti garansi yang untung, siapa yang menolak? Ungkapnya.

Depot Baso Keju di Jalan Kawi Atas, Malang Jawa Timur.

Kini bisnis basonya makin berkembang dan Franchisee mulai Malang, Surabaya, Pasuruan hingga Samarinda. Dan akan segera dibuka untuk Denpasar, Balikpapan, Makasar, Bandung, dan Jakarta.
Franchise tipe moving gerobak adalah yang paling diminati, sebab selain investasinya ringan, juga tidak diperlukan sewa tempat usaha. Dengan gerobak becak, tentunya bisa memilih sendiri tempat berjualan yang paling ramai sehingga saat pembelinya sudah berkurang maka bisa berpindah ke tempat yang lebih ramai lagi. Yang menariknya, gerobak becaknya juga diberi perlengkapan sirine bunyi sehingga orang disekitarnya bisa mengetahui keberadaannya.
Selain itu para franchisee yang bergabung akan diajarkan bagaimana melakukan bisnis ini secara pasif income, sehingga bisnis ini cocok untuk pegawai tanpa harus meninggalkan pekerjaaan seperti Pegawai Negeri. Bukan hanya itu, bisnis ini juga tidak menutup kemungkinan bagi Anda yang pensiunan ataupun mahasiswa tetap melanjutkan kuliah, bahkan ibu rumah tangga yang ingin menambah pendapatan keluarga. “Sebagian rahasia pasif income yang akan diajarkan adalah bagaimana mengandeng mitra kerja atau karyawan dengan sistim komisi, dan penghasilannya bisa mencapai 2 kali UMR. Dengan begitu, berbisnis tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar” ujar Oki.
Untuk mereka yang ingin membuka usaha di mal atau di ruko, baso keju juga menyediakan konsep pemasaran plus design ruangannya. Menu yang dijual di dua tempat ini lebih komplit dibandingkan dengan yang gerobak. Penyajiannya pun menggunakan self servis sehingga pelanggan bisa memilih yang akan dibeli sesuai selera. Untuk penyajian kuah, disajikan secara terpisah dalam steamboat yang diletakkan disetiap meja sehingga selalu panas. Sungguh ini pengalaman makan baso dengan cara yang unik.
Nah, mengenai uang kerja sama untuk tipe mal atau ruko dipatok seharga 25 juta rupiah untuk masa kontrak selama 2 tahun. “Penawaran ini berlaku sampai September 2008 dan setelah itu uang kerjasamanya bisa naik. Yang unik dari bisnis baso keju ini adalah bonus gratis franchise ayam goreng wangi, jadi, baik di moving outlet atau di tipe ruko selain menjual baso juga menjual ayam goreng wangi yang rasa sambalnya dahsyat sekali” pungkas Oki mengakhiri pembicaraan. *

Belajar Bisnis Baso Malang Kota ala Cak Eko

15 August 2008


www.arrohman.blogspot.com. BASO adalah makanan yang sangat memasyarakat di Indonesia. Dan hampir tidak ada orang yang tidak menyukai baso. Karena itulah, usaha baso masih dan akan tetap menjanjikan sampai kapan pun juga. Termasuk kisah sukses pengusaha baso asal kota Malang, Cak Eko, yang telah sukses dengan usaha Baso Malang Kota “Cak Eko”. Seperti apakah kisah sukses Cak Eko dalam menggeluti usaha basonya? Berikut liputan Tabloid LeZAT edisi khusus 01.
Berawal dari hobbynya makan dan memasak, Ir. Henky Eko Sriyantono, MT atau yang akrab disapa Cak Eko ini akhirnya terinspirasi untuk membuka usaha di bidang kuliner. Pilihannya langsung jatuh pada baso, salah satu makanan favoritnya dan makanan yang cukup terkenal di kota asalnya, Malang. Ya, kebanyakan orang memang telah mengakui bahwa baso Malang memang cukup difavoritkan banyak orang.
Keinginannya untuk membuka usaha baso secara profesional semakin kuat ketika suatu saat Cak Eko baru datang dari luar kota melalui bandara Soekarno Hatta. Disitu Cak Eko melihat ada outlet baso yang berani membuka cabang di bandara. Sejak itulah keyakinannya semakin kuat, kenapa ia tak mencoba juga untuk membuka usaha yang sama. Karena dimana pun berada, baso pasti punya segmen pasarnya masing-masing.
Setelah menyiapkan modal sekitar Rp 5 juta, akhirnya diputuskan untuk membuka sebuah outlet baso bernama Baso Malang Kota ‘Cak Eko’ yang terletak di sebuah Pujasera di kawasan Jatiwarna, Bekasi pada bulan Maret 2005. Ternyata sejak dibuka, respons masyarakat sangat bagus. Hingga tak lama kemudian Cak Eko membuka cabang lagi di food court Tamini Square Lt 2. Bahkan, banyak dari para pelanggan yang telah merasakan kelezatan Baso Malang Kota ‘Cak Eko’ merasa tertarik untuk menjadi bagian dari usaha baso Cak Eko. Artinya, mereka sangat antusias untuk menjadi franchise Baso Malang Kota ‘Cak Eko’.
Gayung pun bersambut. Dari pihak Cak Eko sendiri sebenarnya juga tengah memendam keinginan untuk lebih mengembangkan usaha basonya hingga lebih dikenal masyarakat luas. Akhirnya pada awal September 2006, usaha baso Malang Kota Cak Eko resmi di franchise-kan. Mulai dari beberapa cabang saja di Jakarta dan sekitarnya, kini sudah ada 75 cabang franchise di berbagai kota besar di Indonesia, seperti di Banda Aceh, Medan, Jambi, Pekanbaru, Bengkulu, Palembang, Tarakan, Sintang, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Solo, Surabaya, Sidoarjo, Kupang, Makasar, Banjarmasin, Bandung, Bali, Kutai, Kudus, dan kota-kota lainnya.
“Pengennya sih kita punya 100 franchise sampai akhir tahun ini, mudah-mudahan bisa tercapai,” kata Hendro Dwi Sriyantono selaku Manajer Operasional Baso Malang Kota ‘Cak Eko’.

Mengutamakan Orisinalitas Rasa
Meskipun telah melalui uji coba berkali-kali sebelum membuka usaha baso, namun Cak Eko tetap berusaha mempertahankan orisinalitas rasa asli Baso Malang. Bumbunya pun Cak Eko sendiri yang meraciknya. Dan itulah salah satu daya tarik dari Baso Malang Kota ‘Cak Eko’ yang terus berkembang hingga kini. Selain itu, pelayanan terhadap para pelanggan juga menjadi faktor kesuksesan Baso Malang Kota milik Cak Eko.

Hendro Dwi Sriyantono, selaku Manajer Operasional Baso Malang Kota ‘Cak Eko’.

Uniknya, meskipun kini banyak berkembang usaha yang menjual baso yang telah dimodifikasi seperti baso keju, baso bakar, atau baso seafood, namun Cak Eko tetap berpegang teguh pada baso orisinal Malang, yakni baso urat dan baso halus.
“Ciri khasnya baso Malang kan ada gorengannya, tahu, sama baso urat dan halus. Itu aja yang kita jual, kita tidak mau menjual baso-baso yang telah dimodifikasi seperti baso keju dan sebagainya. Karena menurut kita itu hanya trend sesaat dan tidak akan bertahan lama,” imbuh Hendro lagi.

Berbagai Pilihan Menu
Apalagi dengan harga yang cukup terjangkau bagi kantong siapa saja, baso Malang Kota ‘Cak Eko’ semakin menarik banyak pelanggan baru. Untuk menikmati satu porsi Baso Campur, Anda cukup merogok kocek sekitar Rp 9.500. Begitu juga untuk Mi Ayam Baso juga dijual dengan harga yang sama. Harga di setiap outlet bisa berbeda-beda, bergantung lokasi outletn-ya. Seperti misalnya untuk outlet di kawasan perkantoran Sudirman, untuk satu porsi baso cukup dijual dengan harga Rp 14. ribu saja, Masih cukup terjangkau bukan harganya?
Tersedia juga berbagai pilihan menu, selain Baso Campur ada juga Mi Ayam, Cwi Mi, Batagor, Siomay Bandung, Nasi Goreng Jawa, Mi Goreng Jawa, Mi Godok, serta Nasi Rawon. Dan untuk menemani bersantap, tersedia juga berbagai minuman segar seperti Es Campur, Sekoteng, Es Dawet Sruput serta aneka juice buah segar.

Suplai Bahan Baku
Hingga saat ini, seluruh bahan baku merupakan bahan-bahan lokal, seperti daging sapi segar dengan kualitas terjaga. Semua bahan utama Baso Malang Cak Eko diolah di dapur khusus Baso Malang ‘Cak Eko’ dan setelah jadi, baru didistribusikan ke setiap outlet. Hal itu dilakukan karena untuk menjaga standarisasi rasanya agar di setiap outlet rasa serta kualitasnya sama. Sedangkan untuk sayuran segarnya, setiap outlet bebas mengusahakannya sendiri.
Saat ini, Cak Eko telah memiliki tiga tempat produksi bahan baku. Pertama di Jakarta, bahan bakunya didistribusikan ke outlet wilayah Indonesia bagian Barat. Kedua di Surabaya yang didistribusikan ke wilayah Indonesia bagian Timur. Sedangkan ketiga di Sidoarjo yang didistribusikan untuk wilayah Indonesia bagian Tengah.

Menggandeng Mitra Usaha
Dengan usaha yang tekun serta pengawasan yang ketat pada setiap cabangnya, akhirnya usaha Franchise baso Malang Kota ‘Cak Eko’ semakin berkembang pesat. Setiap outlet bisa menghasilkan 15 kg daging sapi per hari, atau sekitar 3000 baso terjual setiap harinya. Bila setiap mangkuknya ada 2 baso, maka setiap outlet rata-rata bisa menjual 1500 mangkuk per hari. Wah, cukup prospektif bukan?
Untuk menjadi mintra usaha atau franchise dengan Baso Malang Kota ‘Cak Eko’, persyaratannya pun tidaklah sulit. Cukup menyiapkan lokasi usaha yang strategis serta karyawan yang nantinya akan di-training khusus oleh manajemen Baso Malang Kota ‘Cak Eko’.
Biaya investasinya pun juga relatif murah. Untuk membuka outlet dengan paket Foodcourt Mall, Anda cukup menyetor uang sebesar Rp 47 juta dengan sistem pembagian hasil royalti fee sebesar 3,5% untuk jangka waktu 5 tahun. Fasilitas yang didapat adalah Etalase, peralatan memasak, peralatan penjualan, kulkas, serta peralatan lainnya. Sedangkan untuk paket kedua yang ditawarkan adalah paket Mini Resto (dengan luas lokasi 40-80 m2) dengan investasi sebesar Rp 77 juta dengan sistem royalti fee 3,5% untuk jangka waktu 5 tahun. Tentu saja fasilitas yang didapat lebih lengkap lagi seperti ada fasilitas meja dan kursi (10 set). Paket terakhir adalah Paket Resto (dengan luas lebih dari 80 m2) dengan biaya investasi sebesar 99 juta dengan sistem royalti fee sebesar 3,5% dalam jangka waktu 5 tahun dengan fasilitas yang sama dengan Paket Mini Resto. Anda tertarik untuk menjadi mitra usahanya? Silakan saja mencobanya.

Mendapat Beberapa Penghargaan
Tak hanya prospek usahanya yang sangat menjanjikan, namun Baso Malang Kota ‘Cak Eko’ juga telah membuktikan eksistensi serta kesuksesannya menjalankan usaha baso dengan menyabet beberapa penghargaan. Pada awal 2007 lalu Baso Malang Kota ‘Cak Eko’ mendapatkan penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM, atas keberhasilannya mengembangkan usaha kecil dan menengah. Di tahun yang sama, Cak Eko kembali mendapatkan Enterpreneur Award. Dan yang paling baru adalah penghargaan berupa Enterpreneur Award selaku Juara Utama untuk kategori Utama yang diselenggarakan harian Bisnis Indonesia pada (9/7).
Untuk inspirasi usaha bisnis baso lainnya, Anda bisa ulasan lengkap di tabloid LeZAT Edisi Khusus 01. Silakan hubungi Mbak Siti di 031.3538710. *

Ketoprak, Obat Kangen Jakarta

12 August 2008


BOLEH dikata Surabaya punya makanan tradisional seperti Pecel ataupun Gado-Gado dengan beragam sayuran yang diberi saus kacang. Tapi jangan salah di Indonesia tepatnya kota Jakarta juga memiliki makanan tradisional yang menyerupai yaitu ketoprak. Tabloid LeZAT mencoba mengobati kerinduan Betawi lewat Ketopralknya.
Anda tahu ketoprak Jakarta? Bagi orang yang pernah tinggal di Jakarta, kerja di Jakarta, ataupun sekadar mampir di Jakarta, nama makanan ketoprak, pasti tidak asing lagi dan terasa kebangetan kalau tidak mencicipi makanan khas Betawi. Makanan tradisional ini begitu banyak dijajakan secara keliling di pelosok-pelosok Jakarta layaknya bakso. Dengan harga murah, makanan berisi tahu, tauge panjang, ketimun, bihun, kerupuk dan bumbu kacang ini menjadi santapan andalan masyarakat Jakarta.
Di era modern seperti sekarang ini, bisa menemukan penjual ketoprak selain di Jakarta kota asalnya, mungkin jadi kepuasan tersendiri. Kelezatan dan kesegaran rasanya mampu menjadi pelipur lara dan obat kangen akan makanan tradisional. Lantas dimana, bisa menemukan penjual ketoprak di Surabaya?
Keberadaan penjual ketoprak di Surabaya memang tidak begitu populer selain adanya di food court dimal-mal. Namun, begitu Anda melintas di jalan Ketabang Kali cobalah tengok di sebelah kiri, sebuah kedai yang cukup nyaman menjajakan ketoprak.
Ya, itulah kedai Ketoprak Mang Ucup, walaupun terbilang cukup baru karena 17 Mei 2008 lalu secara resemi dibuka, kedai ini menawarkan ketoprak yang tidak kalah enaknya dengan kota asalnya.
Di kedai ini, Anda jangan mengharapkan harga yang sama dengan penjaja di pinggiran jalan. Harga seporsi Ketoprak Mang Ucup dipatok 6.500 rupiah. Cukup murah, bukan? Kendati masih baru buka, kedai yang dibuka pukul 7.00 hingga pukul 20.00 ini selalu dipenuhi pengunjung. Apa istimewanya?
Ketoprak Mang Ucup hanya menyajikan menu ketoprak. Minuman pilihannya ada es Doger. Sepintas, sajian Ketoprak Mang Ucup seperti pada umumnya, satu porsi ketoprak berisi tauge panjang, tahu, bihun, lontong, kerupuk, dan bumbu kacang.

Sedapnya Aroma Ketupat
Yang membuat rasa ketoprak makin mantap dan khas adalah aroma ketupatnya. Memang kadang ada juga penjual ketoprak yang menggunakan lontong, tapi rasanya akan beda. Inilah salah satu keistimewaan Ketoprak Mang Ucup dibandingkan dengan ketoprak lainnya. Irisan ketupatnya sangat empuk. Rahasianya, menurut Ny Dewi pemilik kedai, 'ketoprak ini tidak pakai lontong dan umumnya ketoprak selalu menggunakan ketupat. Dalam sehari kedai kami tidak menarget terlalu banyak, sehari cukup 50 buah ketupat'.

Suasana depot Ketoprak Mang Ucup di Ketabang Kali, Surabaya.

Begitu halnya dengan bumbu ketoprak, dalam meraciknya, Ketoprak Mang Ucup memiliki cara yang unik. 'Kacang tanah goreng terlebih dulu digiling dengan menggunakan mesin hingga halus betul. Lantas, saat ada pemesanan, bumbu kacang yang halus itu dicampur bawang putih dan gula merah. Bumbu-bumbu tersebut musti dihaluskan diatas piring saji. Untuk takaran pedasnya disesuaikan dengan selera pemesan' tambah Dewi.
Rasa empuk dan komposisi takaran bumbu yang tepat inilah yang membuat pengunjung selalu setia menikmati ketoprak di kedainya. Dalam sehari ada sekitar 100 porsi selalu habis. "Setiap hari selalu ramai. Tapi, paling ramai pukul 12.00 siang sampai sekitar pukul 02.00 siang, Toh, pengunjung selalu penuh. Tak sampai pukul 18.00 malam biasanya kedai ini sudah tutup karena sajian telah habis" kata Dewi.
Nah, agar lebih afdol mencicipi ketoprak, lebih baik Anda langsung mengunjungi kedai ketoprak Mang Ucup yang ada di Jalan Ketabang kali. *

Legitnya Ketan Durian yang Menggigit

11 August 2008


ANDA suka menikmati buah durian? Selain enak dimakan segar, durian juga akan terasa mantap jika dipadukan dengan ketan. Tabloid LeZAT kali ini mencoba menikmati Ketan Durian Citras yang gaungnya cukup terkenal di Surabaya.
Seakan menambah kelengkapan ragam jajanan khas yang ada di Surabaya, pamor Ketan Durian Citra‘s memang bukan jajanan yang asing bagi masyarakat Surabaya. Saking larisnya, ketan durian Citra‘s bisa menjadi pilihan yang wajib disatroni begitu mencari jajanan hangat di malam hari.
Begitu menjelang petang, apalagi malam minggu, kawasan makan pinggir jalan Dharmawangsa tepatnya nomor 51, begitu banyak dipadati pengunjung yang hendak menikmati jajanan yang cukup ramah di kantong. Mulai dari pekerja kantoran, anak muda-mudi yang datang secara bergerombol maupun berpasangan tampak antusias menikmati suasana.
Jika larut malam sedikit, jangan harap kebagian tempat duduk, bisa-bisa Anda menikmati jajanan ketan durian sambil berdiri. Semangkuk ketan durian di tempat ini sekilas seperti kolak kental. Namun jika diperhatian dan dirasakan lebih cermat, pekatnya aroma durian begitu menusuk hidung dan rasa ketannya begitu meresap menyentuh lidah saat digigit.
Apa yang membuat ketan durian Citra‘s ini terasa mantap dan banyak pengemarnya sehingga harus rela antre untuk menikmatinya? Seperti yang diungkapkan Ny Dhewik Aan pemilik gerai Ketan Durian Citra‘s, bahwa sejak awal buka sekitar tahun 1987 lalu rasa ketan duriannya tak pernah berubah hingga sekarang. Menjaga kualitas adalah hal penting yang harus dipelihara agar pelanggan tidak kecewa.
“Saya bersyukur sekali sejak buka dua puluh satu tahun lalu, tempat ini tak pernah sepi pembeli. Meski sering kewalahan melayani banyaknya pembeli, kami tetap berusaha mengutamakan kelezatan, servis dan kebersihan,” menyebutkan motto usahanya.

Legitnya Ketan Durian
Keistimewaan rasa buah durian inilah yang coba ditawarkan oleh Ny Dhewik Aan (51). Bermodalkan hobi gemar memasak dan kegemarannya makan durian, ibu satu anak ini mengkreasikan buah berduri dengan mencampurkan pulut (ketan), dan santan sebagai kuahnya.

Ny Dhewik Aan (kanan) saat ditemui di sela kesibukannya melayani pembeli di stan Ketan Durian Citra's.

Ketan durian dibuat dari ketan yang dikukus dan diberi kuah kental atau vla yang diolah dari durian dan santan. Perpaduan rasa gurih dan legitnya durian begitu menggoda. ‘Walaupun durian tidak musim, saya menghindari penggunaan esens. Karena bagi saya buah durian selalu ada setiap hari, jika memakai esens rasa ketan durian akan berbeda begitu juga dengan warnanya bisa menjadi kuning kecokelatan’ lanjutnya.
Dari rasa kehati-hatian itulah, Ny Dhewik banyak menuturkan kalau penampilan dari makanan musti diperhatikan untuk menarik pembeli. Seperti ketan yang dimasak harus putih, jadi pilih beras ketan yang butirannya berwarna putih dan tidak banyak yang patah. Sebagai rasa gurih Ny. Dhewik selalu menggunakan santan segar ketimbang dalam kemasan. Santan dan durian dimasak sampai kental hingga menyerupai selai.
Untuk meracik ketan durian, Ny Dhewik harus turun tangan sendiri walaupun dibantu beberapa orang karyawan. ‘Bukannya saya tidak percaya dengan karyawan dalam membuat ketan durian sehari-harinya. Karena dalam rasa, saya harus berhati-hati, walaupun resep sama tapi kalau yang masak berbeda, rasanya juga beda lho...’ jelasnya.
Dan gara-gara keunikan itu pula, banyak yang tergoda untuk mencoba. Apalagi harganya cukup terjangkau Rp. 5000 per porsi. Dalam sehari sekitar 200 porsi ketan durian selalu habis. Makanya, tidak mengherankan bila setiap hari ketan durian Citra‘s menghabiskan 5 kg beras ketan, dan 8 buah durian. Untuk penyediaan bahan baku durian, Ny Dhewik mengaku tidak pernah pusing membeli durian, karena sudah ada pemasok dari pasar. *

Merenung…

01 August 2008


PERJUANGAN panjang bangsa Indonesia mengarungi kemerdekaan sudah melewati setengah abab. 63 tahun peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia bukanlah masa yang pendek. Namun masa itu juga belum ada apa-apanya dengan beratnya para pahlawan yang dahulu memeras keringat dan darah selama lebih dari 300 tahun di bawa kangkangan para bangsa kolonial tak beradab.
Eronisnya, ketercapaian alam merdeka di negeri ini hanya berlangsung sesaat. Kegembiraan yang pernah dirasakan oleh para pendahulu kita, ternyata seusia jagung belaka. Tumbuh, berbuah, dan mati seiring roda generasi. Generasi yang yang sesungguhnya semu belaka, dan kehadirannya justru melebihi kekejaman para penjajah Belanda, Inggris, Portugis maupun Jepang yang pernah menginjak-injak martabat anak negeri demi mengusung kekayaan bumi tercinta kita ini.
Apa sebabnya? Karena sekarang penjajah-penjajah itu menjelma di segala kehidupan berbangsa Indonesia. Kekejamannya malah melebihi Dajjal yang diperkirakan nanti menjelang akan hadir pada hari akhir. Kerakusannya mengalahkan Qoruun yang sampai tak mampu membawa kunci-kunci gudang kekayaannya. Caranya pun sangat licik dan tak beradap sama sekali. Karena tampangnya bisa saja memulia, namun kedoknya adalah untuk menutupi untitan korupsi yang dikantonginya melalui celah-celah jabatan dan kesempatan yang dia punya.
Kini, penjajah itu tidak datang dari negeri seberang. Tapi dari dan oleh anak bumi pertiwi sendiri. Mereka menjual aset rakyat yang dia namakan go public. Sahamnya pun diatasnamakan anak-istri, teman dan kerabat dekat biar dapat mengelabui penarikan kembali kekayaan yang sejatinya bukan miliknya. Bukan hanya pejabat negeri, tetapi hal itu juga berlaku bagi siapa saja, termasuk para status mulia seperti kiai dan para guru.
Kiai tak lagi peduli terhadap santrinya karena sibuk mengurusi parpol yang dibinanya. Guru dengan alih-alih kurangnya penghasilan memilih untuk mengeskploitasi pendidikan sehingga apa saja yang berkaitan dengan pendidikan menjadai sangat mahal. Belum lagi bisnis sampingan jualan lembar LKS yang setiap bulan dibonusi Magic Jar, Kipas Angin, atau prabot rumah tangga lainnya oleh para penerbit karbitan.
Sungguh komplet sekali penderitaan negeri ini. Keindahan dan kekayaan yang dulu pernah diakui bangsa lain, kini hanya sejarah. Karena rangking negeri ini selalu terjerembab dalam kegagalan-kegagalan di antara kegagalan bangsa lain. Tetes-tetes prestasi pun seakan sirnah, karena kecongkakan dan ketamakan yang tak pernah usai. Oleh sebab itu, meski setiap tahun anak-anak negeri membawa pulang pundit-pundi emas keberhasilan, implementasinya kebanyakan NOL.
Kini, 63 tahun negeri ini merdeka, apa kita masih seperti itu. Bila kita semua sadar sebagai generasi bangsa, pasti tak akan rela. Untuk itu, mari kita tengok kembali diri kita sendiri, keluarga dan kerabat serta sahabat terdekat. Peringati mereka agar tidak tersesat langkah. Dirgahayu Republik Indonesia-ku. Jayalah selalu negeriku…! (arohman)